Sabtu 24 Agustus 2019, 14:34 WIB

Perang Dagang AS dan Tiongkok Kian Memanas

Ihfa Firdausya | Internasional
Perang Dagang AS dan Tiongkok Kian Memanas

AFP/Frederic J Brown
Kontainer dari barang-barang impor dari Tiongkok menumpuk di Pelabuhan, Long Beach, California, AS.

 

PRESIDEN Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengecam Beijing pada Jumat (23/8). Trump bersumpah untuk segera menanggapi pengumuman tarif baru Tiongkok dan memerintahkan perusahaan-perusahaan Amerika meninggalkan negara itu.

"Kami tidak membutuhkan Tiongkok dan, terus terang, akan jauh lebih baik tanpa mereka," ujar Trump di Twitter-nya.

Cuitan panas tersebut mengundang keraguan terjadinya resolusi cepat dalam meningkatnya perang dagang antardua negara adidaya ekonomi dunia tersebut.

Gesekan itu telah memperlambat pertumbuhan ekomoni AS, melemahkan ekonomi global, dan mengancam pasar saham yang turun tajam.

Indenks pasar saham Dow Jones kehilangan lebih dari 600 poin dari puncaknya, ditutup dengan kerugian 2,4%. DAX Jerman juga kehilangan lebih dari satu persen ketika FTSE London naik.

Sebelumnya pada Jumat (23/8), Tiongkok mengumumkan bahwa mereka akan mengenakan tarif baru senilai $75 miliar untuk kedelai AS, lobster, selai kacang, dan impor lainnya sebagai balasan atas tarif baru dari Washington yang berlaku dalam dua putaran, 1 September dan 15 Desember 2019.

"Saya akan menanggapi tarif Tiongkok sore ini. Ini adalah peluang hebat bagi Amerika Serikat," tulis Trump dalam Twitter-nya.

Tidak ada kabar dari Gedung Putih kapan pengumuman itu akan datang.

"Perusahaan Amerika kami yang hebat dengan ini diperintahkan untuk segera mulai mencari alternatif selain Tiongkok, termasuk membawa perusahaan Anda kembali ke rumah dan membuat produk Anda di AS."

Tidak jelas apa yang dimaksud oleh Trump yang menuntut perusahaan swasta AS mengubah produksi mereka.

Kamar Dagang AS yang berpengaruh mendesak kedua belah pihak kembali ke meja perundingan untuk menemukan solusi.

"Sementara kami berbagi rasa frustrasi presiden, kami percaya bahwa kelanjutan dan keterlibatan konstruktif adalah jalan yang benar ke depan," kata Myron Brilliant, Kepala Urusan Internasional Kelompok Bisnis AS.

"Waktu adalah esensi. Kami tidak ingin melihat memburuknya hubungan AS-Tiongkok," kata Briliant.

Sementara itu, Tiongkok menetapkan tarif masuk balasan terhadap AS dengan kenaikan 10% untuk 5.078 barang AS. Penerapan tarif akan berlaku bersamaan tarif baru AS pada  1 September dan 15 Desember mendatang. .

Beijing juga mengumumkan siap  memberlakukan kembali tarif 25% pada mobil AS dan tarif 5% untuk suku cadang mobil.

Tidak hanya itu, mulai 15 Desember 2019, Tiongkok akan kembali menaikkan tarif terhadap barang-barang dari AS. (AFP/OL-09)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More