Sabtu 24 Agustus 2019, 23:20 WIB

Sentuhan Fusion di Maranggi

MI | Weekend
Sentuhan Fusion di Maranggi

MI/Galih Agus Saputra
Bistik maranggi.

BERBICARA satai maranggi, tentu yang terbayang ialah potongan daging sapi yang ditusuk dan dibakar di atas arang. Disajikan dengan kecap, potongan cabai, bawang, dan tomat, dengan pendamping lontong.

Namun, maranggi di tangan juru masak Hotel Amaroossa Royal, Bogor, chef Hendriana, mendapat sentuhan fusion. Terinspirasi dari satai khas Purwakarta, Jawa Barat, chef Hendri menghadirkan bistik maranggi.

Untuk hidangan ini, chef Hendri memilih menggunakan potongan sirloin. Potongan ini memiliki lemak yang pas sehingga saat diolah akan menghasilkan rasa gurih sehingga dagingnya menjadi empuk.

“Saya memempertahankan sedikit kombinasi lemaknya. Ini berfungsi untuk mengasilkan rasa gurih. Ketika dipanggang kita tidak memerlukan minyak. Biarkan saja lemaknya menempel dan terbakar agar dia meresap ke dalam daging. Tapi jangan lupa disisakan sedikit bagiannya untuk penyajian agar gurihnya semakin dapat. Khusus ini saya masak secara medium rare. Coba saja, nanti pasti langsung nyes saat digigit,” tuturnya, sambil menyodorkan satu porsi bistik maranggi, Kamis (8/8).

Rasa gurih khas lemak sapi begitu terasa kala Media Indonesia mencicipi hidangan andalan Hotel Amaroossa Royal, Bogor, tersebut. Ditambah lagi rempah yang digunakan saat marinasi, meresap ke dagingnya. Chef Hendri mengaku sebelum memanggang sekitar 20 menit, ia merendam daging tersebut dengan bawang putih, garam, dan sejumlah rempah rahasia.

Rasa dari bistik itu semakin lengkap dan segar dengan tambahan sambal kecap dan sayur campur, semakin segar dengan perasan jeruk nipis di atasnya.

“Tampilan seperti ini umumnya untuk menyajikan steak. Kebanyakan steak di Eropa juga seperti ini, bersama sayur campur (mix vegetables) yang pada kesempatan ini saya memilih bahan-bahan, seperti buncis, kacang polong, wortel, dan jagung,” imbuh juru masak yang telah memulai karier gastronomi sejak 1995 itu.

Dalam sajiannya, chef Hendri mengusung tiga unsur. Pertama, protein yang dihasilkan dari sirloin. Kedua, sayuran yang didapat dari sayur campur, serta karbohidirat yang diperoleh dari nasi. Perpaduan ketiga unsur itu disusun menjadi tampilan yang menarik.

“Kalau satai maranggi umumnya ditusuk. Tapi di sini saya ingin menampilkannya secara berbeda dengan menjaga cita ra­sanya yang khas maranggi hingga akhirnya saya ambil namanya bistik maranggi. Lalu, untuk plating-nya, saya memang sengaja menyajikannya di atas papan ini,” katanya.

Papan beralaskan daun pisang sengaja dipilih chef Hendri agar terlihat tradi­sional. “Karena ya kembali lagi, dalam hal ini, dari resep tradisional Jawa Barat terus dikombinasikan dengan sentuhan Western, maka terciptalah fusion itu tadi,” imbuhnya.

Setelah menyantap bistik, segarkan diri dengan minuman tropical coco. Minuman ini merupakan kombinasi nanas, santan, susu, sirop, dan jus lemon. Rasanya menyegarkan dan pas diminum setelah menyantap bistik.

Baik bistik maranggi maupun tropical coco merupakan bagian dari inovasi Amaroossa Royal Hotel Bogor untuk memanjakan lidah para pencinta kuliner. Keduanya bisa didapat hingga akhir Agustus seharga Rp125 ribu untuk bistik maranggi dan Rp25 ribu untuk tropical coco. (*/M-3)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More