Sabtu 24 Agustus 2019, 22:00 WIB

Membuka Jalan bagi Generasi Muda Papua

Rizky Noor Alam | Weekend
Membuka Jalan bagi Generasi Muda Papua

MI/Ramdani
Vanda Astrid Korisano

NAMA Vanda Astrid Korisano mungkin belum begitu familier di telinga masyarakat Indonesia. Namun, prestasi dan upayanya dalam merintis karier patut menjadi teladan dan inspirasi bagi semua orang, terutama para generasi muda. 

Dia merupakan calon pilot perempuan asal Papua yang pertama kali untuk maskapai nasional Garuda Indonesia. Berkat kemampuan yang dimilikinya, dirinya berhasil lolos dan saat ini sedang mengikuti pelatihan hingga Desember 2019 mendatang. 

Ditemui di Garuda Indonesia Training Center yang berada di kawasan Jakarta Barat, Rabu (21/8), Vanda pun berbagi pengalaman dan harapannya kepada Media Indonesia, berikut ini petikan wawancaranya.

Anda sudah berhasil menjadi calon pilot di Garuda Indonesia. Bisa dijelaskan bagaimana prosesnya hingga akhirnya bisa lolos?
Prosesnya lumayan panjang. Saya mengikuti tes dari awal Desember tahun kemarin, sampai Juni kemarin baru ada pengumuman diterima dengan dapat e-mail dari Garuda Indonesia. Ada 12 kali tahapan seleksi yang dilakukan Garuda Indonesia.

Apakah ini cita-cita dari kecil yang menjadi kenyataan? Atau bagaimana?
Kalau cita-cita, sebenarnya dari kecil cita-citanya selalu ganti-ganti, namanya juga anak kecil, jadi mau jadi apa pun mereka pikir keren. Lalu kepikiran mau jadi pilotnya itu saat SMA. Dari kecil memang sudah suka dengan bandar udara dan kalau ke bandar udara itu senang banget karena suasananya berbeda. Jadi, saat SMA saya bercita-cita untuk menjadi pilot atau pramugari.

Anda baru mau memasuki satu bulan pelatihan dari enam bulan masa pelatihan. Selama mengikuti proses pendidikan, hal-hal apa yang sulit dipelajari?
Sejauh ini belum menemukan kesulitan dan teman-temannya juga saling mendukung, berdiskusi tentang pelajaran. Jadi, dari awal sudah dibangun chemistry satu sama lain, sejauh ini belum ada kesulitan.

Dukungan keluarga, sekolah, maupun lingkungan bagaimana? Seperti apa bentuk dukungan yang diberikan?
Keluarga yang paling mendukung, terutama almarhum papa mendukung banget. Apa yang saya mau pasti dituruti dengan bertanggung jawab, misalnya, kalau mau kursus sesuatu pasti didukung. Pendeknya dukungan terbesar dari orangtua.

Anda bisa dibilang amat beruntung bisa berada di posisi saat ini dengan begitu ketatnya persaingan yang ada. Jika diingat ke belakang, bagaimana sebenarnya pendidikan yang diterima anak-anak dari wilayah Timur? Baik dalam hal ke­setaraan profesi maupun akses pendidikan?
Kalau di sana mungkin dari sistemnya. Misalnya, kalau kita belajar bahasa Inggris itu paling baru di kelas enam diajarkan bahasa Inggris. Kalau yang saya lihat di pedalaman-pedalaman itu seperti tidak mendapatkan guru, misalnya, gurunya cuma satu atau satu sekolah cuma satu kelas. Namun, kalau di Jayapura puji Tuhan fasilitasnya mencukupi.

Anda juga pernah bersekolah penerbangan di Selandia Baru. Bagai­mana pengalaman bersekolah di sana?
Sekolah pilot itu memang tidak mudah. Ada naik-turunnya, terutama dalam hal bahasa Inggris karena waktu pertama kali sekolah di sana bahasa Inggris yang dipakai berbeda dengan apa yang dipelajari sehari-hari. Jadi, sedikit sulit untuk menanggapi pelajaran yang diberikan dan biasanya extra time-nya didapat dari dosen. Pulang sekolah itu masih di kelas untuk bertanya-tanya dan belajar, tapi lama-kelamaan bisa beradaptasi dengan lingkungan. 

Di Selandia Baru itu tinggal selama tiga tahun, tapi sekolahnya itu dua tahun karena saya lanjut program diploma. Selain bahasa, di awal-awal pasti gegar budaya karena awal datang saat musim dingin dan beda saja budayanya dengan di Indonesia. 

Anda tentunya sudah banyak berinteraksi dengan orang bermacam suku dan budaya di Indonesia, bahkan mungkin juga budaya-budaya asing. Dari pengalaman-penga­laman itu, bagaimana menurut Anda agar kita menjadi pribadi yang toleran dan tidak gampang termakan stigma? 
Saya dari kecil berteman memang dari anak-anak berbagai daerah, ada yang dari Jawa juga sampai besar pun di Papua berteman dengan orang-orang dari berbagai daerah. Di Selandia Baru pun teman-temannya berasal dari berbagai negara, jadi belajar satu sama lain dan menghormati satu sama lain. 

Anda sendiri apakah punya perasaan untuk menjadi anak duta Papua yang harus selalu bisa mencerminkan sikap-sikap positif maupun budaya orang Papua?
Yang selalu ditunjukkan ialah karena Indonesia orangnya hangat-hangat, jadi setiap bertemu salig menyapa. Di Selandia Baru juga sama, seperti saling menyapa dan tentunya memiliki sifat lebih sopan dengan senior, dengan guru, misalnya, di awal-awal panggil guru itu dengan sebutan mister, tapi mereka suruh panggil nama saja.

Anda sendiri di kelas perempuan seorang diri. Apakah tidak ada masalah soal itu?
Sebenarnya waktu sekolah di Selandia Baru juga sama. Jadi sudah terbiasa dengan lingkungan seperti ini, menjadi seorang minoritas sudah terbiasa.

Apa harapan Anda setelah selesai menjalani pendidikan pilot ini? Serta harapannya bagi putra-putri Papua lainnya?
Harapannya tentu bisa menerbangkan pesawat dengan baik, bisa bekerja di Garuda Indonesia sampai waktu yang lama. Mimpi saya bisa menerbangkan Boeing 777 karena itu seperti pesawat impian saya. Selain itu, bisa mengingspirasi anak-anak lainnya agar bisa masuk ke Garuda Indonesia. Jadi seperti membuka jalan bagi yang lain. Jangan pikir tidak bisa, pasti bisa kalau kita mau.

Apa harapan Anda bagi pemerintah agar dapat lebih meratakan kualitas dan akses pendidikan, terutama di wilayah Indonesia Timur?
Harapannya agar sistemnya bisa disamakan, biar kita tidak terlalu terbelakang seperti belajar bahasa Inggrisnya baru belakangan. Jadi, bisa belajar Inggris juga dari kecil seperti di wilayah lainnya. Selain itu juga sistemnya disetarakan, serta memperbanyak guru-guru di peda­laman. (M-4)

VIDEO TERKAIT:

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More