Sabtu 24 Agustus 2019, 11:44 WIB

Ancam AS, Korut Kembali Tembakkan Rudal Balistik

Ihfa Firdausya | Internasional
Ancam AS, Korut Kembali Tembakkan Rudal Balistik

AFP/Handout
Lembaga siaran Korea Utara, KCTV, menayangkan rudal balistik yang diluncurkan militer Korea utara.

 

KOREA Selatan (Korsel) melaporkan bahwa Korea Utara (Korut) kembali menembakkan dua rudal balistik jarak dekat ke wilayah laut timur Jepang, Sabtu (24/8).

"Militer mendeteksi dua proyektil tak dikenal yang dianggap sebagai rudal balistik jarak pendek," kata Kepala Staf Gabungan Korsel General Park Han-ki dalam sebuah pernyataan setelah peluncuran tersebut.

Rudal Korut meluncur sekitar 380 kilometer (240 mil) dan mencapai ketinggian 97 kilometer dengan kecepatan tertinggi 6,5 mach sebelum mendarat di Laut Timur.

"Militer kami melacak pergerakan di Utara jika ada peluncuran tambahan, dengan kesiapan yang kuat," tambah Park.

Peluncuran itu adalah yang terbaru dari serangkaian uji coba rudal jarak pendek yang dilakukan Korut dalam beberapa pekan terakhir. Hal tersebut dilakukan sebagai protes terhadap latihan militer AS-Korsel yang dianggap sebagai latihan untuk invasi.

Dalam pertemuan dengan Dewan Keamanan Nasional, Presiden Korsel Moon Jae-in menyatakan 'keprihatinan serius' terkait rangkaian peluncuran rudal Korut. Menurut Moon, Pyongyang telah melakukan peluncuran setelah latihan militer bersama AS-Korea Selatan berakhir.

"Anggota Dewan Keamanan Nasional (NSC) setuju untuk melanjutkan upaya diplomatik dengan komunitas internasional untuk membawa Korut kembali ke meja perundingan dengan AS. Tujuannya mencapai kesepakatan denuklirisasi di semenanjung Korea," kata Moon.

Di sisi lain, Menteri Pertahanan Jepang Takeshi Iwaya mengatakan bahwa penembakkan 'rudal balistik' Korut telah melanggar resolusi PBB.

"Itu tidak bisa diabaikan, tidak peduli berapa ukuran dan jaraknya," kata Iwaya.

Washington juga dilaporkan ikut memantau situasi peluncuran rudal Korut. "Kami berkonsultasi erat dengan sekutu Jepang dan Korea Selatan," kata seorang pejabat senior AS.

Pembicaraan nuklir antara Pyongyang dan Washington telah macet sejak pertemuan puncak kedua di Hanoi Februari lalu. Pertemuan tersebut berakhir tanpa kesepakatan mengenai tingkat denuklirisasi di Utara dan bantuan sanksi.

Pada 30 Juni, Presiden AS Donald Trump dan pemimpin Korut Kim Jong-un mengadakan pertemuan dadakan di Zona Demiliterisasi untuk memulai pembicaraan tingkat kerja.

Namun, kontak antarkedua negara kembali macet setelah Korut berulang kali mengungkapkan kemarahan terkait latihan militer AS-Korsel.

Awal pekan ini, Stephen Biegun, utusan khusus AS untuk Korut, mengatakan dalam kunjungannya ke Seoul bahwa Washington 'siap terlibat' segera jika mendapatkan sinyal dari Pyongyang.

Namun pada Jumat (23/8), Korut berjanji untuk tetap menjadi 'ancaman terbesar bagi AS' jika Washington tidak mencabut sanksi. Hal tersebut disampaikan Menteri Luar Negeri Korut Ri Yong-ho.

Ri juga melancarkan serangan pedas terhadap Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo.

Menlu Korut menyebut Pompe dengan kata 'racun' setelah Menlu AS mengatakan Washington akan terus mempertahankan sanksi 'terberat' terhadap  Korut sampai negara melakukan denuklirisasi. (AFP/OL-09)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More