Sabtu 24 Agustus 2019, 06:20 WIB

Antara Pendidikan dan Radikalisme

Robert Bala Diploma Resolusi Konflik dan Penjagaan Perdamaian Universidad Complutense de Madrid Spanyol | Opini
Antara Pendidikan dan Radikalisme

ANTARA /Agus Bebeng/ss/pd/15
Forum Guru dan Orang Tua Siswa (Fortusis) Jawa Barat mengadukan temuan buku pelajaran agama berisi ajaran radikalisme terbitan Kemendikbud

SETIAP kali menyeruak aksi radikalisme, praksis pendidikan digugat. Ia diduga menjadi salah satu, bahkan sebagai penyebab utama. Model pembelajaran yang terlalu menjejali siswa dengan penguasaan materi, kompetensi guru yang tidak memadai, antara lain dianggap menjadi sumbernya.

Asumsi itu tidak salah sama sekali. Menurut Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat (PPIM), UIN Jakarta 2018, ada 53,6% guru memiliki pandangan yang intoleran dan radikal. Dapat terbayang betapa sulitnya menghadirkan pendidikan berkualitas ketika guru sendiri memiliki pemahaman pincang dan menjebak.

Perguruan tinggi, sebagai induk semang lahirnya pendidik dan aneka profesi lainnya pun diduga rawan terhadap penyebaran aliran radikal. Geram akan kondisi ini, Presiden Jokowi mewacanakan agar pemilihan rektor langsung berada di bawah kontrolnya. Tentu saja percepatan pengikisan habis aksi radikalisme menjadi salah satu targetnya. Mengapa aliran radikal begitu mudah menyelinap masuk bidang pendidikan?

Hadirnya aliran radikal dalam institusi pendidikan tentu tidak sekadar hasutan eksternal. Para cerdik pandai tidak akan mudah terpengaruh, kecuali kalau hal itu sudah diakui, diyakini, dan diterima sebagai sebuah kebenaran. Mereka akui, ajaran yang mereka terima telah mencapai tingkatan kesempurnaan yang nyaris digugat, apalagi ditolak.

Keyakinan akan pencapaian final kebenaran dikritik Karl Popper. Dalam bukunya, Conjectures and Refutationsm, 1963, ia mengentakkan kesadaran bahwa kebenaran dalam ilmu pengetahuan tidak bisa dicapai secara paripurna. Yang ada hanyalah verisimilitude atau mendekati kebenaran.

Hal serupa ditekankan Niiniluoto, I. Dalam On the Truthlikeness of Generalizations, 1977, ia menekankan bahwa yang dicapai ialah keserupaan dengan kebenaran. Memang dalam proses ini, manusia mudah tergoda melakukan generalisasi berupa upaya menarik kesimpulan umum atas fakta-fakta partikuler. Rangkaian fakta memverifikasi atau memvalidasi asumsi yang telah terjadi sebelumnya.

Pemahaman ini bisa menjadi pijakan dalam menilai hadirnya aksi radikalisme. Dalam banyak kasus, aksi radikalisme didasarkan pada keyakinan bahwa kebenaran dan objektivitas yang diterima dalam agama atau teologi telah mencapai kesempurnaan. Dari segi iman pribadi, keyakinan itu bisa benar adanya. Seseorang telah terima bahwa apa yang diyakini benar.

Namun, keyakinan itu tidak serta-merta menjadikan yang lain sebagai pihak yang salah apalagi sebagai kaum kafir yang perlu ditobatkan. Lebih lagi keyakinan diri tidak bisa menegasikan kesaksian orang lain dengan sudut pandang berbeda.

Transformasi kehidupan

Mudah merasuknya generalisasi akan kebenaran sebagai salah satu penyebab radikalisme, mendorong perlunya transformasi.

Pertama, perlu mengembalikan proses dialogis dalam pendidikan. Di sana pendidikan (apalagi pengajaran) tidak sekadar proses penjejalan aneka materi pengetahuan yang dilakukan secara monologis. Peserta didik pun tidak bisa diperlakukan bagai bank, tempat semua informasi pengetahuan ditabung.

Pendidikan perlu bersifat dialogis. Hal ini didasarkan pada kesadaran bahwa di era digital seperti sekarang ini, pengetahuan dengan mudah diakses. Dalam banyak hal, bahkan oleh kelincahan menggunakan perangkat teknologi dan internet, siswa lebih mengetahui apa yang dibahas. Dalam konteks ini, guru mestinya memantaskan diri menjadi fasilitator dan mediator dalam memungkinkan dialog dalam pembelajaran.

Tidak hanya itu. Oleh upaya tanpa henti mempertajam kemampuan berpikir dan mengasah kemampuan analitis kritis, guru sanggup menganalisis, mengevaluasi, dan pada gilirannya memberikan arahan yang tepat. Ia sanggup menghalau keraguan dengan memberikan orientasi yang benar.

Dalam kenyataan, penjernihan keterampilan berpikir ini masih menjadi momok. Keterampilan membaca, memahami, mengaplikasikan, menganalisis, mengevaluasi, dan menciptakan kurang diberdayakan secara gradual. Tidak sedikit guru yang masih melakonkan diri sebagai penyampai materi.

Praksis pendidikan seperti ini, dalam kacamata Popper baru berada pada tataran context of justification atau konteks pembenaaran. Di sana pendidik hanya menyampaikan kepada siswa materi yang dianggap telah terverifikasi dan tervalidasi. Sayangnya, kurang diberi ruang untuk dialog demi menyingkap hal baru yang bisa saja tidak sesuai asumsi yang ada. Untuk itu, pendidikan mestinya lebih mendorong terwujudnya context of discovery atau konteks penemuan. Aneka temuan yang bisa saja bersifat anomali, tetapi merupakan kebutuhan nyata yang perlu dijawab melalui solusi yang tepat.

Proses seperti inilah yang mestinya terjadi dalam dunia pendidikan. Aneka konsep dan sudut pandang dimungkinkan untuk disandingkan. Bahasa Thomas Kuhn dalam The Structure of Scientific Revolution, 1962, disebut sebagai transformasi konseptual. Pada tahapan ini ada keberanian untuk menempatkan setiap kebenaran dalam kesediaan untuk dipresentasikan, digugat, demi menjernihkan dan memperkaya yang lainnya.

Transformasi konseptual mestinya tidak berhenti begitu saja. Ia perlu melangkah kepada transformasi kehidupan. Itu berarti, model pendidikan dan pengajaran yang terbuka dan dialogis diharapkan bermuara kepada upaya memajukan manusia dalam praksis kehidupan. Itu berarti, kebenaran yang disangka telah dicapai itu akan terbukti dalam pengejawantahan berupa terwujudnya kebaikan.

Bila muara akhir ialah kebaikan, jumpa antara pendidikan dan aksi radikalisme akan menjadi positif. Di satu pihak, pendidikan menjadi kian humanistis karena dilandasi kesadaran manusiawi bahwa selagi berada di bawah kaki langit, manusia masih akan terus mencari. Karena itu, dialog dan kebersamaan mencari merupakan media yang perlu dilewati.

Pada sisi lain, kaum 'radikal' akan selalu mengukur kualitas kebenaran ide dari transformasi kehidupan yang disajikan yang sudah dilakukan.

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More