Sabtu 24 Agustus 2019, 06:00 WIB

IAID dan Persepsi Baru Indonesia terhadap Afrika

Ratlan Pardede Duta Besar RI untuk Tanzania merangkap Rwanda, Burundi, dan Komoro | Opini
IAID dan Persepsi Baru Indonesia terhadap Afrika

dok.mi/Tiyok
ilustrasi Afrika

"The darkest thing about Africa has always been our ignorance of it." (George HT Kimble)

PEMERINTAH Indonesia terus berupaya mewujudkan hubungan politik yang telah berlangsung sejak lama dengan negara-negara Afrika menjadi hubungan ekonomi yang konkret. Di era kepemimpinan Presiden Jokowi, Indonesia mengawali upaya ini melalui pelaksanaan Indonesia-Afrika Forum (IAF) 2018. Pada perhelatan IAF, Indonesia berhasil menjaring kesepakan bisnis dengan nilai US$586,56 juta dari berbagai sektor. Tidak berhenti dalam acara itu, Indonesia telah kembali melakukan terobosan baru dengan menggagas kerja sama pembangunan infrastruktur dengan negara-negara di Afrika melalui penyelenggaraan Dialog Infrastruktur Indonesia-Afrika/Indonesia-Africa Infrastructure Dialoge (IAID) di Bali, 20-21 Agustus 2019. Secara tersirat, IAID ingin menyampaikan pesan kepada perusahaan dan pemangku kepentingan Indonesia untuk mengubah persepsi mereka dalam mengartikulasikan kepentingan ekonomi Indonesia di kawasan Afrika.

Setahun setelah penyelenggaran IAF, Indonesia kembali menelurkan kesepakatan bisnis di sektor pembangunan infrastruktur dan beberapa sektor strategis lainnya, dengan nilai total sebesar US$822 juta pada 2019. Empat kesepakatan bisnis dalam IAID berasal dari Tanzania, yaitu pembangunan pelabuhan, kerja sama pembangungan pabrik pengolahan minyak atsiri, pabrik pengolahan sabun dan body lotion, dan kerja sama distribusi produk farmasi. Kesepakatan bisnis ini merupakan refleksi dari potensi kolaborasi ekonomi yang dapat terjalin antara Indonesia dan negara-negara di kawasan Afrika.

Sebagai gambaran umum, meski nilai perdagangan Indonesia pada 2018 mencapai US$11,26 miliar dan mengalami kenaikan sebesar 24,4% dari tahun sebelumnya, nilai ekspor Indonesia sebesar US$4,76 milliar hanya berkontribusi 0,87% dari nilai total impor kawasan Afrika.

Di saat yang bersamaan, Indonesia juga masih mengalami defisit neraca perdagangan dengan kawasan Afrika sebesar US$1,7 miliar. Hal ini diduga terjadi akibat penurunan nilai ekspor kelapa sawit dari Indonesia ke Afrika. Sementara itu, peningkatan impor minyak dan gas dari kawasan Afrika ke Indonesia mengalami kenaikan yang cukup signifikan. Kondisi ini menempatkan nilai ekspor Indonesia ke Afrika tertinggal dari Thailand dan Singapura dengan nilai masing-masing US$7,46 miliar dan US$5,95 miliar.

Demikian juga bila dibandingkan dengan Tiongkok, nilai perdagangan Indonesia masih jauh lebih tertinggal. Tiongkok memiliki nilai perdagangan sebesar US$163,67 miliar dan nilai ekspor sebesar US$104,96 miliar berkontribusi sebesar 19,13% dari total nilai impor Afrika. Nilai impor Tiongkpk dari Afrika sebesar US$72,25 miliar juga berkontribusi menyerap 20,78% dari total ekspor Afrika secara global.

Kondisi ekonomi Afrika

Perkembangan ekonomi Afrika yang penuh gairah sering diibaratkan bagai singa yang sedang bergerak (lion on the move). Afrika masuk ke kawasan dengan pertumbuhan ekonomi tercepat kedua di dunia setelah Asia Timur. Pertumbuhan itu ditopang 20 negara dari 54 negara di Afrika yang mengalami pertumbuhan ekonomi sekitar 5%, apalagi terdapat 7 negara yang mengalami pertumbuhan 6%-8%, seperti Ghana, Tanzania, Djibouti, Senegal, Rwanda, Pantai Gading, dan Etiopia.

Meski demikian, Afrika mengalami hambatan menuju negara industrialisasi, hal ini faktor utamanya disebabkan kurangnya persediaan infrastruktur di sektor layanan listrik, air, transportasi, informasi, dan komunikasi yang dibutuhkan perusahaan untuk meningkatkan keunggulan komparatifnya.

Ketimpangan infrastruktur di Afrika merupakan kendala dalam implementasi pelaksanaan African Continental Free Trade Area (AfCFTA). kawasan perdagangan bebas terbesar ketiga di dunia dengan populasi 1,2 miliar jiwa. Hingga saat ini perdagangan intra-Afrika baru mencapai 17% dari total ekspor negara-negara Afrika, lebih kecil jika dibandingkan dengan perdagangan intra-Asia yang mencapai 59% dan intra-Eropa 69%.

Indeks infrastruktur dari African Development Bank (ADB) mengindikasikan masih tingginya ketimpangan antara satu negara dan negara lain di kawasan Afrika dalam penyediaan transportasi, listrik, teknologi informasi, air bersih, dan sanitasi. Terdapat beberapa negara yang memiliki perbedaan indeks infrastruktur hingga 90%, yang sebagian besar negara di kawasan Afrika Utara dan beberapa di kawasan Afrika Selatan memiliki indeks infrastruktur paling tinggi jika dibandingkan dengan kawasan lain. Oleh sebab itu, negara-negara di Afrika membutuhkan dana sebesar US$130-US$170 miliar per tahun untuk pembangunan infrastruktur yang mayoritas bersumber dari pinjaman luar negeri.

Bila melihat potensi dari pasar dan kebutuhan terhadap dukungan pembangunan infrastruktur, penyelenggaraan IAID cukup jeli menilai perubahan yang terjadi di kawasan Afrika. Indonesia berupaya menghadirkan suatu wahana bagi perusahaan dan pelaku usaha agar lebih gesit dalam memperjuangkan kepentingan ekonomi Indonesia di masa depan. Penyelenggaraan IAID secara tidak langsung menunjukkan upaya pemerintah untuk mengubah persepsi masyarakat Indonesia dalam menjalin hubungan ekonomi dengan kawasan Afrika.

Persepsi dan gagasan baru

Persepsi keliru masyarakat dan pengusaha Indonesia mengenai Afrika merupakan salah satu tantangan utama sebagai penghambat dalam upaya meningkatkan hubungan ekonomi dengan negara-negara di Afrika. Berbagai persepsi keliru yang menyebabkan hambatan peningkatan diplomasi ekonomi Indonesia terhadap Afrika ialah ketidakpahaman pengusaha Indonesia terkait dengan Afrika karena minimnya informasi menyebabkan pengusaha Indonesia kurang berminat untuk meningkatkan dan memperluas kerja sama di bidang perdagangan dan investasi terhadap Afrika.

Pengusaha dan masyarakat Indonesia masih memiliki persepsi keliru terhadap Afrika terkait dengan kemiskinan, kelaparan, isu penyakit, keamanan usaha, sistem pembayaran, daya beli, tenaga kerja, serta stabilitas ekonomi dan politik.

Persepsi keliru mengenai Afrika menyebabkan banyak perusahaan Indonesia menerapkan pendekatan yang keliru dalam menggarap pasar Afrika. Hal ini menyebabkan Indonesia menjadi negara yang masuk belakangan (late comer) untuk menggarap pasar kawasan Afrika.

Persepsi keliru itu menyebabkan Indonesia terperangkap dalam belenggu ekspor komoditas dan produk yang secara perlahan kehilangan keunggulan komparatifnya. Sebagaimana yang terjadi dengan produk kelapa sawit yang menjadi primadona ekspor Indonesia ke kawasan Afrika. Harga komoditas kelapa sawit yang fluktuatif sangat berpengaruh besar terhadap nilai ekspor Indonesia ke kawasan Afrika sehingga penurunan harga sawit dunia juga berimbas terhadap nilai ekspor Indonesia di Afrika.

Penyelenggaraan IAID berupaya mengubah persepsi perusahaan Indonesia sekaligus mendorong adanya diversifikasi produk ekspor Indonesia selain komoditas dan barang, tetapi juga jasa dan teknologi, seperti pembangunan infrastruktur. Upaya mengekspor produk jasa dan teknologi secara strategis juga dapat menjadi pondasi yang kuat untuk memperkuat penetrasi produk-produk Indonesia untuk memasuki kawasan Afrika.

Lebih dari itu, penawaran produk jasa dan teknologi dalam pengerjaan proyek infrastruktur dapat menjadi modalitas Indonesia untuk mendorong kerja sama perdagangan yang lebih luas dengan negara-negara di Afrika. Dengan demikian, determinasi Indonesia untuk meningkatkan hubungan ekonomi dengan negara-negara di Afrika dapat lebih terasa gaungnya di hati pembuat kebijakan dari kawasan tersebut.

Penyelenggaraan IAID merupakan lembaran baru dalam upaya meningkatkan hubungan ekonomi Indonesia dengan kawasan Afrika. Suatu kegiatan yang sangat diharapkan dapat memantik seluruh pemangku kepentingan di Indonesia untuk mengubah persepsinya terhadap Afrika. Kegiatan yang dapat memantik lebih banyak lagi perusahaan yang dapat berkolaborasi dalam menghadirkan produk barang dan jasa buatan Nusantara di kawasan Afrika. Selaras dengan hal tersebut, kegiatan ini juga telah menjadi contoh nyata potensi kerja sama yang saling menguntungkan antara perusahaan Indonesia dan mitranya dari Afrika.

Upaya memasuki pasar kawasan Afrika tidak semudah membalikkan telapak tangan. Begitu pula dengan IAID meski bukan merupakan suatu hal yang tergolong out of the box, melainkan pesan utama yang tersirat dari kegiatan ini memancarkan semangat untuk mengharumkan Indonesia di benua Afrika. Untuk itu, tidak ada kata terlambat untuk memaksimalkan potensi Indonesia di kawasan Afrika, kesempatan masih terbuka luas.

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More