Jumat 23 Agustus 2019, 22:45 WIB

Pengajian Berbahasa Indonesia di Masjid Nabawi Kembali Digelar

Sitria Hamid dari Arab Saudi | Haji
Pengajian Berbahasa Indonesia di Masjid Nabawi Kembali Digelar

Denny/MCH 2019
Pengajian di Masjid Nabawi

PENGAJIAN berbahasa Indonesia kembali digelar di Masjid Nabawi, Madinah Al Munawarah, Kamis (22/8) malam, setelah solat magrib sekitar pukul 19.30 waktu Arab Saudi. Sekitar 1.000 jemaah haji Indonesia mengikuti kajian yang diberikan oleh ustaz Indonesia yang diseleksi khusus oleh penggelola Masjid Nabawi. Bahkan, jemaah haji dari negara lain, seperti Bangladesh dan Turki juga ikut dalam pengajian tersebut.

Kamis (22/8), ustaz yang mengisi kajian bernama Ariful Bahri, mahasiswa S3 jurusan Akidah di Universitas Islam Madinah. Dia terpilih khusus dan telah menjalani serangkaian ujian untuk menjadi penceramah di Masjid Nabawi. Selain Ustaz Ariful Bahri, ada dua orang ustaz asal Indonesia yang juga rutin mengisi kajian berbahasa Indonesia tersebut.

Mereka adalah Ustaz Firanda Andirja dan Abdullah Roy.

"Ustaz Firanda sekarang ada di Tanah Air, saya diminta untuk menggantikannya," kata Ariful kepada para jemaah, saat memulai ceramah, seperti dilaporkan wartawan Media Indonesia, Sitria Hamid, dari Madinah.

Pengajian berbahasa Indonesia tersebut diadakan di antara pintu 20 dan 21 Masjid Nabawi. Pengajian membahas Alquran dan Sunnah tersebut akan diadakan setiap hari setelah salat magrib.

Dalam ceramahnya, Ariful Bahri mengingatkan makna syukur kepada Allah SWT. Menurut dia, sepatutnya manusia bersyukur atas apa yang telah diberikan oleh Allah SWT, terutama para jemaah haji yang mendapat kesempatan mengunjungi Masjid Nabawi dan Masjidil Haram di Makkah.

"Apabila kita bersyukur, dampak dari syukur itu akan kembali kepada diri kita, kalau kita kurang bersyukur, ingatlah bahwa Allah SWT tidak butuh kepada kita, tapi kitalah yang butuh kepada Allah SWT," katanya mengingatkan.


Baca juga: Indonesia akan Bangun Pusat Layanan Haji dan Umrah di Jeddah


Pada penggajian di Masjid Nabawi yang kembali digelar Kamis (22/8) tersebut, peserta kebanyakan merupakan jemaah haji khusus yang telah tiba lebih dulu di Madinah, dibandingkan jemaah haji regular. Jemaah haji regular gelombang dua, mulai bergerak dari Makkah ke Madinah pada Rabu (21/8) .

Sekitar 120 ribu jemaah haji regular gelombang dua akan diberangkatkan dari Makkah ke Madinah mulai 21 Agustus hingga 6 September. Jemaah haji dari 300 kloter tersebut akan melaksanakan salat arbain 40 waktu di Masjid Nabawi, dan ibadah sunah lainnya selama berada di Madinah. Sementara, jemaah haji gelombang satu sudah mulai kembali ke Tanah Air sejak 17 Agustus.

Salah seorang jemaah haji Indonesia gelombang dua yang mengikuti pengajian tersebut Roy Hidiya asal Bali mengakut sangat senang dengan adanya kajian di Masjid Nabawi. Menurut dia, dengan mengikuti kajian tersebut bisa menambah ilmu agama selama berada di Madinah. Dan bisa menjadi bekal pahala yang besar, sambil dirinya menunggu azan salat Isya.

"Alhamdulillah keberadaan kajian ini sangat membantu saya. Ilmu yang disampaikan setiap hari akan berbeda, soal beribadah dengan baik dan benar," kata Roy.

Menurut Ustaz Ariful, bekal ilmu dan pahala menjadi target program pengajian atau kajian berbahasa Indonesia di Masjid Nabawi tersebut.

"Oleh-oleh terbesar dari jemaah haji bukan barang atau makanan, tapi ilmu yang didapat. Kalau kita belajar dan mengajar, sama seperti kita berjihad di jalan Allah. Ke Makkah dan Madinah adalah kesempatan untuk belajar. Semoga dengan demikian, kebaikan tersebut bisa kita bawa pulang ke negara kita" kata Ariful lagi. (OL-1)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More