Sabtu 24 Agustus 2019, 09:00 WIB

Mengikis Radikalisme Melalui Perayaan Keberagaman dan Kreatifitas

mediaindonesia.com | Nusantara
Mengikis Radikalisme Melalui Perayaan Keberagaman dan Kreatifitas

DOK BCCF
Ulin.bdg & Sasab.bdg mengajak anak-anak dan remaja Bandung mengenali kotanya melalui permainan yang merambah pelosok kota. (BCCF 2015)

 

Kekayaan ragam dan potensi budaya bangsa Indonesia terekspresikan dalam berbagai jenis kreativitas, yang kini bahkan telah menjadi sumber aktivitas ekonomi yang berdampak positif bagi kesejahteraan masyarakat. Daya cipta dan daya pikir manusia, serta karya intelektual sebagai hasilnya ini pun telah menjadi komoditi yang jauh lebih berkelanjutan, sehingga dikenal sebagai sektor Ekonomi Kreatif.

Pada praktiknya, dalam wilayah administrasi kabupaten/kota yang kondisinya sangat beragam di Indonesia, ekonomi kreatif dengan ekosistem yang melengkapinya di wilayah tersebut kerap telah menjadi solusi yang tepat guna.

Hal inilah yang perlu disampaikan dan dibahas bersama dalam Indonesia Creative Cities Festival (ICCF) 2019 yang diselenggarakan di Ternate, Maluku Utara, pada 2-7 September 2019. ICCF menjadi sebuah ruang penting bagi kabupaten/kota untuk saling bertukar pikiran dan menjalin kerja sama dalam sektor ekonomi kreatif.

Sebagai inisiator ICCF, Indonesia Creative Cities Network (ICCN) pun telah menyiapkan 11 jurus untuk mengembangkan dan mengelola kabupaten/kota melalui potensi kreativitas; salah satunya adalah Forum Lintas Komunitas.

“Sebagai negara dengan tingkat keberagaman yang sangat tinggi dalam seluruh aspek kehidupan, Indonesia selalu dihadapkan pada tantangan multidimensi dalam menyediakan peri kehidupan yang layak,” kata Fiki Satari, Ketua Umum ICCN.

“Bahkan menjadi permasalahan tersendiri ketika terjadi kesenjangan yang makin menajamkan perbedaan, yang mengarah ke risiko friksi sosial hingga radikalisme. Namun, kondisi kekayaan ragam ini pula yang memberikan peluang besar bagi kreativitas untuk terus berkembang, bahkan hingga menjadi solusi bagi lingkungan terdekatnya. Juga memberikan ruang bagi berlakunya inovasi sosial yang erat dengan dinamika dan perkembangan gaya hidup dan daya dukung kota,” lanjut Fiki.
 


Banyak kabupaten dan kota di Indonesia yang telah berhasil membentuk Forum Lintas Komunitas sebagai pencipta solusi kreatif bagi permasalahan sosial dan keseharian masyarakat. Paguyuban atau perkumpulan warga yang didasari aktivitas kreatif ini bahkan dapat berdampak positif pada perekonomian daerah. Contohnya seperti di Kota Bandung dengan Bandung Creative City Forum (BCCF), Kota Malang dengan Malang Creative Fusion, Kota Kendari dengan Kendari Kreatif, dan Kota Ternate dengan Jaringan Kota Ternate.

Forum di empat kota ini, seperti halnya lebih dari 200 kabupaten/kota yang telah bergabung dalam jaringan ICCN, memiliki komiten yang sama untuk menerapkan 10 Prinsip Kota Kreatif. Yaitu antara lain dalam upaya mewujudkan 'kota yang welas asih' dan 'kota yang memuliakan kreativitas masyarakatnya'.

Forum Lintas Komunitas di sebuah kota/kabupaten menjadi wadah yang tepat bagi para local leaders penggerak kabupaten/kota untuk dapat merayakan keberagaman sosial/budaya melalui berbagai media kreatif yang relevan dan mudah diterima oleh generasi masa kini.

Vicky Arief, inisiator dan koordinator Malang Creative Fusion (MCF), mengungkapkan, “Forum lintas komunitas dapat menjadi ruang kolaborasi bagi para pelaku industri kreatif muda, yang sebagian besar telah memanfaatkan teknologi komunikasi dan digital dalam berkarya; menghasilkan desain, animasi, game, aplikasi digital, dan sebagainya, dengan muatan tema dan referensi budaya lokal”.     

Forum Lintas Komunitas dan 10 jurus kota/kabupaten kreatif lainnya, yang telah disusun dalam formula Catha Ekadaksa oleh ICCN, akan dirilis untuk pertama kalinya pada saat Indonesia Creative Cities Conference (ICCC), tanggal 4-5 September 2019, sebagai salah satu rangkaian acara ICCF 2019. Bahkan selama berlangsungnya konferensi tersebut, pemerintah kota/kabupaten, akademisi, pelaku bisnis, hingga komunitas kreatif dapat langsung berkonsultasi dan berdiskusi mengenai pentingnya peran Forum Lintas Komunitas bagi tujuan daerah masing-masing.

Selain konferensi, masih banyak rangkaian acara selama satu minggu berlangsungnya ICCF 2019. Seperti Karnaval Budaya (2 September), Festival Benteng Oranje (2-7 September), Jejak Sejarah Wilayah Wallacea (2-7 September), Spice Tour (3 September), Kololi Kie (6 September), dan ConferenSEA/Kongres ICCN (7 September).

ICCF 2019 digagas oleh Indonesia Creative Cities Network (ICCN), dilaksanakan oleh Jaringan Komunitas Ternate (Jarkot) sebagai tuan rumah, serta didukung oleh Badan Ekonomi Kreatif (BEKRAF), Pemerintah Kota Ternate, dan Pemerintah Provinsi Maluku Utara. Wali Kota Ternate Burhan Abdurahman mengajak seluruh masyarakat Indonesia turut menghadiri ICCF 2019, untuk menjadi bagian dari rangkaian acara yang merunut jejak sejarah, sekaligus kini menjejakkan langkah baru bagi catatan sejarah bangsa Indonesia. (RO/OL-10)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More