Jumat 23 Agustus 2019, 10:53 WIB

Dokter Anak Se-Indonesia Bahas Stunting di Labuan Bajo

John Lewar | Humaniora
Dokter Anak Se-Indonesia Bahas Stunting di Labuan Bajo

MI/John Lewar
IDAI menggelar pertemuan di Hotel Silvia Labuanbajo, Manggarai Barat (Mabar), Nusa Tenggara Timur (NTT).

 

IKATAN Dokter Anak Indonesia (IDAI) menggelar pertemuan di Hotel Silvia Labuanbajo, Manggarai Barat (Mabar), Nusa Tenggara Timur (NTT), Jumat (23/8), membahas secara khusus masalah stunting yang tengah menggerogoti anak usia balita di Tanah Air.

Pembahasan tersebut membicarakan penanganan dan pencegahan yang harus dilakukan terhadap anak balita.

Sekretaris IDAI Ahmad Suryawan mengatakan anak anak perlu mendapat perhatian serius terhadap asupan sehingga tidak rentan mengalami stunting.

Kegiatan yang dilakukan ini merupakan program praktis tata laksana praktis pelayanan kesehatan anak di area dengan tantangan sumber daya dalam menjalan tugas pengabdian sebagai dokter.

Sarasehan Pendidikan Kedokteran Berkelanjutan II (PKB-II) itu menyamakan cara pandang dalam penangan masalah stunting terhadap anak Indonesia.

Ahmad mengakui belakangan ini meraknya masalah stunting menyebar di berbagai informasi yang telah diikuti dengan penelitian ilmiah.

Baca juga: Sanitasi Buruk Picu Merebaknya Diare

Ahmad mengatakan stunting merupakan kondisi dengan anak mengalami retardasi pertumbuhan linier dengan z-scor tinggi bandan terhadap usia (HAZ) berada di bawah 2SD(<-2SD)1 yang disebabkan berbagai faktor kondisi kekurangan nutrisi nutrisi kronis dan atau adanya infeksi kronis.

Menurutnya, hal tersebut disebabkan karena stunting di usia dini mempunyai konsekuensi jangka panjang terhadap kualitas kesehatan anak dan kualitas kemampuan perkembangan anak di masa depan.

Dia menjelaskan, dampak stunting terhadap  tumbuh kembang anak jangka panjang dapat melalui dua cara yaitu stunting menjadi penyebab langsung dari gangguan tumbuh kembang di kemudian hari dan stunting menjadi faktor pemicu berbagai keadaan patologis yang berdampak pada gangguan tumbuh kembang jangka panjang.

Stunting juga berdampak terhadap perkembangan kecerdasan anak yang panjang dapat merupakan akibat adanya keadaan karena gangguan pertumbuhan linier dan juga risiko adanya abnormalitas struktur dan fungsi otak.

"Intervensi yang bersifat kombinasi nutrisi dan stimulasi diharapkan mampu meminimalisasi dampak stunting terhadap kecerdasan anak. Salah satu langkah paling efektif untuk mencegah stunting dan sekaligus mencegah dampaknya adalah upaya peningkatan pemberian ASI eksklusif pada anak usia dini," terang Ahmad.

Ahmad menambahkan anak yang berpostur pendek belum tentu mengalami stunting. Genetik bawaan bisa terjadi,

Jika terkena stunting harus melalui tes kliniks. Anak yang terkena stunting berdampak pada menurunnya tingkat kecerdasan.

Sementara itu, kadis kesehatan Provinsi NTT Dominggus Minggu Mere mengatakan angka stunting di NTT begitu tinggi mencapai 40% berdasarkan hasil riset dari para lembaga kesehatan.

"Upaya yang dilakukan dinas kesehatan pemprov NTT, bekerja sama dengan para dokter anak agar terus merawat dan membantu memberi pendampingan nutrisi sehingga mampu menurunkan atau memulihkan kondisi pertumbuhan anak," ucap Dominggus.

Menurutnya. Dinkes provinsi NTT telah memberikan dorongan kepada kabupaten kota di NTT dalam penangan masalah stunting pada anak.

"Rencananya, dalam waktu 3 tahun ke depan, kita akan berusaha keras menurunkan setengah dari 40% yang ada di NTT ini,"katanya.

Dia juga mengimbau agar setiap rumah tangga di provinsi ini perlu menjalankan syarat syarat hidup sehat. Pola makan yang sehat dan berfariative sehingga asupan nutrizi bagi anak dapat terjamin. (OL-2)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More