Kamis 22 Agustus 2019, 18:30 WIB

Perundingan Jadi Jalan Tengah Krisis Politik Italia

Tesa Oktiana Surbakti | Internasional
Perundingan Jadi Jalan Tengah Krisis Politik Italia

Photo by Yoan VALAT / POOL / AFP
Presiden Italia Sergio Mattarella

 

PRESIDEN Italia, Sergio Mattarella, dijadwalkan melakukan pembicaraan lanjutan yang bertujuan menyelesaikan krisis politik. Hal itu dilakukan setelah negara itu diguncang disintegrasi pemerintah populis.

Mattarella akan bertemu dengan sejumlah partai utama, termasuk Partai Gerakan Bintang Lima (M5S) dan Partai Liga Nasional. Sebelumnya, Perdana Menteri (PM) Italia, Giuseppe Conte, mengundurkan diri setelah berbulan-bulan mengecam aliansi. Berikut, permintaan pemimpin Partai Liga Nasional dan Menteri Dalam Negeri Italia, Matteo Salvini, untuk mempercepat pemilihan umum.

Pemerintah populis yang menganggap rendah imigran, sebagaimana digaungkan Salvini, berikut upaya melanggar aturan anggaran Uni Eropa, memicu kemarahan para pemimpin Eropa. Sebelumnya, Mattarella menemui para pemimpin majelis parlemen pada Rabu waktu setempat. Dia berusaha menemukan jalan untuk masa depan Italia.

Pembentukan koalisi baru, pemerintahan teknokratis jangka pendek atau pemilihan umum lebih awal menjadi sejumlah opsi utama. Aliansi yang diusulkan Partai M5S dan kubu oposisi Partai Demokrat, tampaknya memiliki daya tarik. Pemimpin Partai Demokrat, Nicola Zingaretti, menegaskan pihaknya siap membuat kesepakatan.

Baca juga: Presiden Italia Gencarkan Perundingan

Partai Demokrat dan Partai Liga Nasional saling berteriak selama bertahun-tahun. Namun, aliansi mempertimbangkan Salvini keluar dari pemerintahan, sebuah motif kuat untuk berkompromi.

Lebih lanjut, Zingaretti mengatakan partainya akan mendukung koalisi Partai M5S yang tergantung pada lima kondisi. Termasuk, perubahan radikal dalam kebijakan zero telorensi Italia terhadap imigran yang melintasi Mediterania.

Dia juga menentang gagasan Conte untuk tetap menjabat sebagai PM Italia. Adapun Partai M5S ingin Conte menduduki posisi tersebut, namun tidak berbuat banyak selain menunggu hasil konsultasi.

Dalam upaya membentuk aliansi Partai Demokrat- Partai M5S, mantan PM Italia yang juga bagian Partai Demokrat, Matteo Renzi, menekankan pihaknya tidak ingin berpartisipasi. Banyak pihak partai anti-kemapanan yang memandang sikapnya bermuatan elitis.

"Hanya dalam sepekan, mereka beralih dari Partai Liga ke Renzi. Tidak peduli pemerintah mana yang berkuasa, tujuannya melawan Partai Liga," cetus Salvini, Wakil PM Italia, yang mengejek mantan sekutu koalisi.

Berakhirnya pemerintahan koalisi yang tidak stabil dalam ekonomi terbesar ketiga di zona Euro, mendapat sambutan postif dari pasar. Bursa saham Milan melonjak tajam pada perdagangan Rabu waktu setempat. Rasio utang negara mencapai 132% dari Produk Domestik Bruto (PDB), terbesar kedua setelah Yunani. Tingkat pengangguran generasi muda lebih dari 30%.

Pemerintah Italia secara konsisten berjuang menurunkan rasio utang dan tingkat pengangguran.

"Latar belakang politik Italia yang tidak harmonis dan tantangan pengelolaan anggaran negara sudah jauh meluas. Sebelum terjadi krisis utang negara," tutur analis Rabobank, Jane Foley.

Sementara itu, Roma harus menetapkan anggaran dalam beberapa bulan ke depan. Jika tidak, negara itu berpotensi menghadapi kenaikan otomatis pajak pertambahan nilai (PPN), yang menekan ekonomi masyarakat kelas rendah. Situasi tersebut juga akan menjerumuskan negara ke dalam resesi.

"Krisis bisa terjadi pada puncak krisis Eropa, di tengah risiko resesi di Jerman dan pembentukan Komisi Eropa yang baru. Kondisi itu dapat berkontribusi secara signifikan menurunkan tingkat kepercayaan di zona Euro," pungkas Kepala Ekonom General Confederation of Italian Industry Andrea Montanino.(AFP/OL-5)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More