Kamis 22 Agustus 2019, 16:05 WIB

Novelis Laris Clarissa Goenawan Berbagi Makna Ketulusan di JILF

Galih Agus Saputra | Weekend
Novelis Laris Clarissa Goenawan Berbagi Makna Ketulusan di JILF

clarissagoenawan.com
Novelis Clarissa Goenawan.

PENGGEMAR karya fiksi Tanah Air mungkin sudah tidak asing dengan nama Clarissa Goenawan. Penulis muda kelahiran Indonesia ini menarik perhatian dengan Rainbirds. Novel yang memenangkan the Bath Novel Award 2015 dan kemudian diterbitkan oleh Soho Press, penerbitan yang berbasis di New York pada 2018 itu banjir pujian, bahkan dari kalangan penulis senior.

Rabu (21/8), Clarissa yang kini menetap di Singapura menyapa penggemar sastra Indonesia dengan kehadiran di Jakarta International Literary Festival (JILF) 2019. Berbicara di Teater Kecil, Taman Ismail Marzuki, Jakarta, Clarissa berbagi soal kiatnya dalam menulis, termasuk dalam menyelami tempat dan budaya asing selayaknya soal Jepang dan budayanya yang ia pilih menjadi latar belakang yang kuat di novel Rainbirds.

"Menulis adalah ketulusan," ujar Clarissa yang novelnya telah diterbitkan dalam beberapa bahasa. Lebih lanjut ia menuturkan jika ketulusan telah menjadi peganggannya dalam berkarya karena ampuh untuk memantik imajinasinya dan juga menjadi keuntungan tersendiri karena dapat menghilangkan beban saat mengerjakan tulisan.

"Waktu aku menulis, aku membayangkan ini hanya menulis untuk diriku sendiri. Dengan seperti itu aku menjadi senang, tidak punya beban, dan itu yang sangat penting bagi saya," katanya.

Lantas, bagaimana seorang Clarissa yang bahkan bukan berasal dari Jepang namun dapat menulis karangan dengan latar wilayah di Asia Timur itu? Jawabannya ada pada kedalaman riset.

Selain itu, katanya, seorang penulis juga tidak perlu takut untuk menulis di luar domainnya karena hal itu dapat diatasi dengan menaruh rasa kepedulian dan hormat terhadap nilai atau budaya tertentu yang nantinya juga akan diperoleh melalui sensitivias membaca.

"Otentisitas dapat diperoleh dari berbagai cara. Bisa dengan pengalaman personal, atau ketika kita mencintai suatu kebudayaan tertentu kita dapat membaca banyak hal tentangnya, sehingga nantinya kita juga dapat memperoleh pengetahuan tentang kebudayaan yang kita suka," pungkasnya. (M-1) 

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More