Kamis 22 Agustus 2019, 13:39 WIB

WHO Desak Penelitian Mendalam Soal Mikroplastik di Air Minum

Siti Retno Wulandari | Internasional
WHO Desak Penelitian Mendalam Soal Mikroplastik di Air Minum

AFP/Amélie BOTTOLLIER-DEPOIS
Peneliti menyelidiki kandungan mikroplastik di 10 sungai besar di Eropa.

 

WORLD Health Organization (WHO) meminta para peneliti melakukan evaluasi dan penelitian lebih mendalam terkait plastik berukuran mikro (mikropastik) dan dampaknya terhadap kesehatan manusia.

Hal itu disampaikan karena data keberadaan mikroplastik khususnya dalam air minum masih sangat terbatas dengan beberapa studi yang dapat diandalkan.

Hingga saat ini, WHO menyebut tingkat mikroplastik dalam air minum belum berbahaya bagi manusia. Akan tetapi, organisasi kesehatan dunia itu meminta adanya riset lanjutan tentang potensi risiko di masa mendatang.

Dalam laporan pertama ini, WHO meneliti dampak dan kandungan mikroplastik pada air keran dan air kemasan botol.

"Berdasarkan penelitian kami, air minum kemasan memiliki risiko rendah akan kandungan mikroplastik dan dampak bagi tubuh," kata Koordinator Air dan Sanitasi WHO Bruce Gordon, Kamis (22/8).

Desakan untuk mengetahui potensi risiko mikroplastik di tubuh manusia pun disampaikan oleh Direktur Departemen Kesehatan Masyarakat WHO Maria Neira.

Baca juga: 120 Ribu Partikel Mikroplastik Masuk ke Tubuh

"Kami sangat perlu mengetahui dampak kesehatan dari masuknya mikroplastik dalam tubuh, karena mikroplastik ada dimana-mana, termasuk dalam air yang kami minum," tuturnya.

"Kita juga harus melakukan penghentian peningkatan polusi plastik di seluruh dunia," imbuhnya.

WHO juga mendesak penumpasan polusi plastik untuk memberi manfaat bagi lingkungan dan mengurangi paparan manusia terhadap mikroplastik.

Terlepas dari risiko kesehatan manusia yang disebabkan mikoplastik dalam air minum, perlu adanya langkah-langkah dari pembuat kebijakan dan masyarakat untuk mengelola plastik lebih bijak dan bahkan menguranginya.

Dalam laporannya, WHO menyebutkan ukuran mikroplastik yang lebih besar dari 150 mikrometer tidak mugkin diserap tubuh manusia. Namun, tubuh manusia mungkin menyerap ukuran partikel yang lebih kecil seperti nanoplastik.

Laporan ini pun memperingatkan bahaya lain di masa depan jika emisi plastik di lingkungan tidak juga turun. Mikroplastik dapat menghadirkan risiko yang meluas untuk ekosistem air. Pada gilirannya dapat meningkatkan paparan ke manusia.

Para ahli merekomendasikan pengolahan air limbah seperti penyaringan karena dapat menghilangkan lebih dari 90% mikroplastik dalam air.

WHO memastikan langkah itu akan memiliki banyak keuntungan, salah satunya mengatasi masalah air yang terkontaminasi tinja dengan menghilangkan mikroba patogen dan bahan kimia yang dapat menyebabkan penyakit diare.(AFP/OL-2)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More