Kamis 22 Agustus 2019, 14:00 WIB

Korut Ancam Tarik Diri dari Perundingan Nuklir dengan AS

Basuki Eka Purnama | Internasional
Korut Ancam Tarik Diri dari Perundingan Nuklir dengan AS

AFP/Jung Yeon-je
Aktivis antiperang Korsel menggelar aksi saat Utusan Khusus AS untuk Korut Stephen Biegun tiba di Kementerian Luar Negeri Korsel di Seoul.

 

KOREA Utara (Korut), Kamis (22/8), menegaskan mereka tidak berencana berdialog dengan Amerika Serikat (AS) soal nuklir selama Washington terus meningkatkan sikap militer yang mengancam Pyongyang.

Perundingan nuklir antara Pyongyang dan Washington telah terhenti sejak pertemuan kedua antara Presiden AS Donald Trump dan pemimpin Korut Kom Jong-un di Hanoi, Vietnam pada Februari lalu gagal mencapai kata sepakat.

Trump dan Kim bertemu kembali pada Juni di Zona Demiliterisasi (DMZ) dan sepakat membuka kembali dialog namun hingga kini belum terealisasi.

Sementara itu, Korut telah menggelar serangkaian uji coba rudal jangka pendek dalam tempo beberapa pekan terakhir sebagai protes atas latihan militer gabungan AS-Korea Selatan (Korsel) yang dipandang Pyongyang sebagai latihan invasi.

Baca juga: Ditolak Denmark, Trump Meradang

Utusan khusus AS untuk Korut Stephen Biegun yang bertugas memimpin dialog antara kedua negara tiba di Seoul pada Selasa (20/8) untuk lawatan selama tiga hari yang disebut Washington sebagai persiapan dialog dengan Pyongyang.

Namun, seorang juru bicara Kementerian Luar Negeri Korut memupus harapan dialog baru pada Kamis (22/8) dengan mengecam peluncuran rudal jarak menegah oleh AS serta rencana pengiriman jet tempur F-15 ke kawasan Korea sebagai langkah yang berbahaya.

"Aksi itu membuat kami memutuskan memperkuat perhatanan fisik kami. Kami tidak berubah dalam posisi kami untuk menyelesaikan masalah dengan damai melalui dialog dan negosiasi," ujar juru bicara itu dilansir kantor berita Korut KCNA.

"Namun. dialog diiringi ancaman militer membuat kami tidak tertarik," imbuhnya. (AFP/OL-2)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More