Kamis 22 Agustus 2019, 08:00 WIB

Suku Bunga BI Diharapkan Turun

Atalya Puspa | Ekonomi
Suku Bunga BI Diharapkan Turun

ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja
Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI di gedung BI, Jakarta, Kamis (18/7/2019)

 

BANK Indonesia (BI) tengah menggelar rapat dewan gubernur (RDG) dalam dua hari ini. Salah satu putusan yang banyak dinantikan pasar dari RDG BI itu ialah keputusan BI untuk melanjutkan penurunan suku bunga.

Otoritas moneter tersebut pada Juli 2019 memangkas suku bunga acuan setelah delapan bulan berturut-turut mempertahankan kebijakan netral dengan suku bunga acuan 6%.

Berdasarkan hasil RDG BI pada Juli lalu, BI memutuskan untuk menurunkan BI 7-day reverse repo rate (BI7DRR) sebesar 25 bps menjadi 5,75%, suku bunga deposit facility sebesar 25 bps menjadi sebesar 5,00%, dan suku bunga lending facility sebesar 25 bps menjadi 6,50%.

Ekonom dari Indef, Bhima Yudhistira, menilai BI masih memiliki ruang untuk menurunkan suku bunga acuan sebesar 25 bps ke level 5,5%

Penurunan tingkat suku bunga acuan, kata Bhima, diharapkan menjadi stumulus bagi perekonomian Indonesia.

"Suku bunga yang rendah diperlukan untk menstimulus perekonomian," kata Bhima kepada Media Indonesia, kemarin.

Dikatakannya, perekonomian Indonesia saat ini membutuhkan rangsangan untuk terus tumbuh positif. Suku bunga bisa di-kerek turun melihat proyeksi inflasi tahun ini yang diperkirakan rendah di bawah 3.5%. Apalagi di 2020 inflasi diasumsikan hanya 3,1%.

"Periode inflasi yang rendah biasanya disertai dengan bunga acuan yang rendah," lanjut Bhima.

Di samping itu, stabilitas nilai tukar rupiah masih terjaga di bawah asumsi 15.000 per dolar AS pada APBN 2019. Proyeksi pertumbuhan ekonomi juga diperkirakan hanya mencapai 5%.

"Tekanan perang dagang, harga komoditas yang rendah, dan konsumsi lambat memerlukan stimulus moneter," tutup Bhima.

Di sisi lain, Direktur PT Bank Central Asia Tbk Vera Eve Lim memperkirakan BI tidak lagi menurunkan BI 7DRR meskipun arah kebijakan moneter bank sentral itu kini berorientasi akomodatif kepada pertumbuhan ekonomi.

"Saya melihat stay (tetap) ya, karena kita lihat stabilitas, misalnya dari nilai tukar rupiah cukup stabil," ujar Vera di sela seminar yang diselenggarakan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) di Nusa Dua, Bali, kemarin.

Vera melihat penurunan suku bunga acu-an BI pada Juli 2019 sudah menimbulkan transmisi ke pasar keuangan.

Bank swasta terbesar di Tanah Air itu berencana menurunkan suku bunga kredit untuk kredit pemilikan rumah dan kredit kendaraan bermotor setelah sebelumnya menurunkan suku bunga simpanan sebesar 50 basis poin (bps).

"Kita lihat tren ya, bank juga ikutin tren, karena kalau suku bunga BI turun, bank juga ikuti penurunannya," ujarnya.

Selain bunga KPR dan KKB yang merupakan sektor konsumsi, Vera mengatakan BCA juga akan menyesuaikan suku bunga korporasi.

Sebelumnya, Bank Rakyat Indonesia (BRI) juga telah melakukan penyesuaian suku bunga kredit sebesar 50 bps.

Pelonggaran kebijakan moneter dilakukan setelah BI melihat sinyalemen rezim kebijakan moneter longgar oleh sejumlah negara untuk mengantisipasi perlambatan pertumbuhan ekonomi global.

Dari domestik, bank sentral menganggap laju inflasi yang semakin terkendali kian mendukung langkah BI untuk memulai penurunan suku bunga acuan.

BI memproyeksikan pertumbuhan ekonomi domestik pada 2019 dapat berada di kisaran 5,0% hingga 5,4%. (Ant/Dio/E-1)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More