Rabu 21 Agustus 2019, 23:40 WIB

Presiden Italia Gencarkan Perundingan

Tesa Oktiana Surbakti | Internasional
Presiden Italia Gencarkan Perundingan

AFP
Presiden Italia Sergio Mattarella

 

PRESIDEN Italia Sergio Mattarella memulai pembicaraan dengan para pemain utama, sebagai upaya mengakhiri kebuntuan politik Italia. Tepatnya sehari setelah Perdana Menteri (PM) Giuseppe Conte mengundurkan diri.

Conte yang terkenal bersikap sopan menyampaikan keputusan pengunduran diri setelah menyerang Menteri Dalam Negeri Italia Matteo Salvini. Pejabat sayap kanan itu dituding mengejar kepentingannya sendiri melalui penarikan sumbat koalisi berkuasa dengan Gerakan Lima Bintang (M5S), yang antikemapanan.

Keputusan Conte menyebabkan ekonomi terbesar di zona euro berada dalam kekosongan politik. Setidaknya sampai Mattarella memutuskan apakah segera membentuk koalisi baru atau mengadakan pemilihan umum, setelah berbicara dengan sejumlah partai dalam beberapa hari mendatang.

Mattarella meminta Conte untuk mengarahkan seorang pengurus administrasi, sembari menunggu konsultasi mengenai pemerintahan baru. Konstitusi Italia menyatakan Mattarella harus berkonsultasi terlebih dahulu dengan mantan presiden, Senator Giorgio Napolitano.

Pembicaraan dilakukan melalui sambungan telepon sebab Napolitano tidak berada di Roma. Proses konsultasi akan berlanjut dengan para pemimpin parlemen dan kelompok politik. "Langkah ini tidak bertujuan memicu krisis pemerintah," ucap Conte kepada Senat Italia pada Selasa waktu setempat.

Ia merespons upaya Salvini yang ingin menjatuhkan pemerintahan, dengan harapan pemilihan kilat dapat membuatnya sebagai PM Italia.

Salvini menjerumuskan Italia ke dalam krisis, dengan pengumuman mengejutkan pada 8 Agustus lalu. Dia menyatakan Partai Liga Nasional, yang antiimigran, menarik diri dari pemerintah koalisi, bersamaan dengan M5S. Liga dan M5S menyetujui pemilihan Conte sebagai PM Italia.

 

Opsi terbuka

Saat ini, sejumlah opsi terbuka bagi Mattarella, dengan sebuah pemerintahan baru mungkin diumumkan pada Jumat mendatang. Pemilihan kilat, pembentukan koalisi baru tanpa memegang suara baru, berikut kelanjutan pemerintahan, merupakan aspek yang sedang dipertimbangkan.

"Partisipasi warga dalam pemilihan ialah inti demokrasi. Namun, meminta mereka untuk memberikan suara setiap tahun sungguh tidak bertanggung jawab," pungkas Conte.

Krisis politik menimbulkan kekhawatiran terhadap ekonomi Italia, dengan rasio utang mencapai 132% dari produk domestik bruto (PDB). Itu beban utang terbesar kedua di zona euro setelah Yunani. Sejak pemerintah sulit dibentuk, ketidakpastian koalisi juga menyebabkan Italia harus membayar bunga tambahan sebesar 5 miliar euro untuk utang negara.

Rencana Salvini atas pemilihan kilat sudah membayangi pemungutan suara pada Oktober lalu, yang disertai penobatannya sebagai PM Italia. Berdasarkan hasil jajak pendapat, Partai Liga dapat membentuk koalisi dengan kelompok antiimigran dan anti-LGBT dan pemimpin Partai Forza Italia, Silvio Berlusconi.

Upaya rivalnya menyampingkan perbedaan dan membentuk aliansi berpotensi menggagalkan rencana Salvini. Apalagi koalisi antara M5S dan Partai Demokrat tengah dibahas.

Mantan PM Italia, Matteo Renzi, menyatakan dirinya tidak akan menjadi bagian dari aliansi Partai Demokrat-M5S. Pasalnya, banyak pihak dalam partai antikemapanan yang tidak menginginkannya masuk barisan elite lama. (AFP/I-1)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More