Rabu 21 Agustus 2019, 19:55 WIB

Akhiri Krisis Politik, Presiden Italia Gencarkan Perundingan

Tesa Oktiana Surbakti | Internasional
Akhiri Krisis Politik, Presiden Italia Gencarkan Perundingan

(Photo by Yoan VALAT / POOL / AFP)
Italian President Sergio Mattarella

 

PRESIDEN Italia, Sergio Mattarella, memulai pembicaraan dengan para pemain utama, sebagai upaya mengakhiri kebuntuan politik Italia. Tepatnya sehari setelah Perdana Menteri (PM), Giuseppe Conte, mengundurkan diri.

Conte yang terkenal bersikap sopan, menyampaikan keputusan pengunduran diri, setelah menyerang Menteri Dalam Negeri Italia, Matteo Salvini. Pejabat sayap kanan itu dituding mengejar kepentingannya sendiri, melalui penarikan sumbat koalisi berkuasa dengan Gerakan Lima Bintang (M5S), yang anti-kemapanan.

Keputusan Conte menyebabkan ekonomi terbesar di Zona Euro berada dalam kekosongan politik. Setidaknya sampai Mattarella memutuskan apakah segera membentuk koalisi baru atau mengadakan pemilihan umum, setelah berbicara dengan sejumlah partai dalam beberapa hari mendatang.

Mattarella meminta Conte untuk mengarahkan seorang pengurus admnistrasi, sembari menunggu konsultasi mengenai pemerintahan baru. Konstitusi Italia menyatakan Mattarella harus berkonsultasi terlebih dahulu dengan mantan presiden, yakni Senator Giorgio Napolitano.

Pembicaraan dilakukan melalui sambungan telepon. Mengingat, Napolitano tidak berada di Roma. Proses konsultasi akan berlanjut dengan para pemimpin parlemen dan kelompok politik.

"Langkah ini tidak bertujuan memicu krisis pemerintah," ucap Conte kepada Senat Italia pada Selasa waktu setempat. Merespons upaya Salvini yang ingin menjatuhkan pemerintahan, dengan harapan pemilihan kilat dapat membuatnya sebagai PM Italia.

Salvini menjerumuskan Italia ke dalam krisis, dengan pengumuman mengejutkan pada 8 Agustus lalu. Dia menyatakan Partai Liga Nasional yang anti-imigran, menarik diri dari pemerintah koalisi, bersamaan dengan M5S. Liga dan M5S menyetujui pemilihan Conta sebagai PM Italia, sebelum akhirnya membentuk pemerintahan pada Juni 2018.


Baca juga: Korban Tewas Ledakan Truk di Tanzania Capai 100 Orang


Saat ini, sejumlah opsi terbuka bagi Mattarella, dengen sebuah pemerintahan baru kemungkinan diumumkan pada Jum'at mendatang. Pemilihan kilat, pembentukan koalisi baru tanpa memegang suara baru, berikut kelanjutan pemerintahan, merupakan aspek yang sedang dipertimbangkan.

"Partisipasi warga dalam pemilihan adalah inti demokrasi. Namun, meminta mereka untuk memberikan suara setiap tahun, sungguh tidak bertanggung jawab," pungkas Conte ketika senator Liga mencemooh pernyataannya.

Krisis politik menimbulkan kekhawatiran terhadap ekonomi Italia, dengan rasio utang mencapai 132% dari Produk Domestik Bruto (PDB). Beban utang terbesar kedua di Zona Euro setelah Yunani. Sejak pemerintah sulit dibentuk, ketidakpastian koalisi juga menyebabkan Italia harus membayar bunga tambahan sebesar 5 miliar euro untuk utang negara.

Rencana Salvini terkait pemilihan kilat, sudah membayangi pemungutan suara pada Oktober lalu, yang disertai penobatannya sebagai PM Italia. Berdasarkan hasil jajak pendapat, Partai Liga dapat membentuk koalisi dengan kelompok anti-imigran, anti-LGBT dan juga pemimpin Partai Forza Italia, Silvio Berlusconi.

Akan tetapi, upaya rivalnya untuk menyampingkan perbedaan dan mmebentuk aliansi, berpotensi menggagalkan rencana Salvini. Apalagi koalisi antara M5S dan Partai Demokrat tengah dibahas. Walaupun kedua pihak memiliki darah buruk, namun M5S menghindari pemilihan cepat.

Mantan PM Italia, Matteo Renzi, menyatakan dirinya tidak akan menjadi bagian dari aliansi Partai Demokrat-M5S. Pasalnya, banyak pihak dalam partai anti-kemapanan yang tidak menginginkannya masuk dalam barisan elit lama. (AFP/OL-1)

 

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More