Rabu 21 Agustus 2019, 19:29 WIB

Atasi Defisit, BPJS Usul Penaikan Premi

Nur Aivanni | Humaniora
Atasi Defisit, BPJS Usul Penaikan Premi

Antara/ Aprillio Akbar
Ilustrasi: Calon pasien menunjukkan kartu BPJS Kesehatan

 

DIREKTUR Keuangan dan Investasi BPJS Kesehatan Kemal Imam Santoso memproyeksikan defisit tahun ini sebesar Rp28,5 triliun. Sebagian dari defisit itu berasal dari 2018, yakni sebesar Rp9,1 triliun. Adapun defisit tahun ini mencapai Rp19 triliun.

"Estimasi kita pada current running seperti ini Rp28,5 triliun," kata dia saat ditemui di Gedung DPR RI, Jakarta, Rabu (21/8).

Penyebab klasik, yakni tunggakan iuran peserta menjadi penyumbang terbesar defisit. Ia mengusulkan penaikan tarif iuran guna mengatasi persoalan defisit. "Kebutuhan memang cukup mendesak, agar sustain kan," ucapnya.

Baca juga: Defisit Anggaran Membengkak, Menkeu akan Perbaiki BPJS Kesehatan

Sebelumnya, dalam rapat kerja bersama Komisi XI DPR RI, Menteri Keuangan Sri Mulyani pun sempat menyampaikan bahwa defisit BPJS Kesehatan tahun ini diprediksi akan lebih besar lagi. "2019 ini akan muncul lagi estimasi defisit yang lebih besar lagi," kata dia.

Sebagai informasi, defisit BPJS Kesehatan tahun 2014 sebesar Rp1,9 triliun. Kemudian defisit tersebut meningkat menjadi Rp9,4 triliun pada tahun berikutnya. Pada 2016, defisit sedikit menurun ke angka Rp6,7 triliun.

Lalu, defisit kembali membengkak sebesar Rp13,8 triliun pada 2017. Tahun lalu, defisit BPJS Kesehatan mencapai Rp19,4 triliun. "Kami injeksi hampir 3 kali lipat dari tahun sebelumnya yaitu Rp10,3 triliun. Masih ada Rp9,1 triliun di 2018 yang belum tertutup," kata Sri Mulyani. (OL-8

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More