Rabu 21 Agustus 2019, 19:20 WIB

120 Gerai Kopi akan Kumpul di Jakarta Coffee Week 2019

Fathurrozak | Weekend
120 Gerai Kopi akan Kumpul di Jakarta Coffee Week 2019

MI/Fathurrozak
Suasana jumpa pers Jakarta Coffee Week di ABCD School of Coffee, Jakarta.

SURGA pecinta kopi, JAKARTA Coffee Week (Jacoweek) datang lagi. Di penyelenggaraan tahun keempat ini Jacoweek 2019 akan berlangsung sejak 30 Agustus hingga 1 September di PIK Avenue, Jakarta Utara dengan menampilkan 120 stan kopi dari berbagai daerah di Indonesia dan negara tetangga termasuk Malaysia dan Singapura.

Mengusung tema Be Kind, Jacoweek 2019 juga menjadi cara penyelenggara merespons isu sampah plastik untuk para pelaku industri kopi. Mulai dari penggunaan sedotan, cup kopi hingga bungkus yang berbahan plastik seminimal mungkin akan ditiadakan di acara ini.

Untuk itu, para pengunjung yang datang selama gelaran Jacoweek dianjurkan untuk membawa botol minum sendiri. Selain itu, para tenan juga diimbau untuk tidak menggunakan gelas plastik dan mengganti dengan sedotan kertas. Untuk sarana belanja, Jacoweek akan menyediakan totebag. Untuk itu, harga tiket tahun ini naik menjadi Rp25 ribu.

"Melihat apa yang terjadi dengan hari ini. Di desain poster juga ada ikan paus, isunya yang terjadi seperti itu. Setidaknya punya partisipasi, enggak usah muluk-muluk untuk penyelamatan dunia, mulai dari kita dulu. Kami mengajak untuk lebih peduli pada lingkungan dengan menggunakan bahan yang ramah lingkungan. Semua tenan yang jualan tidak akan gunakan sedotan plastik, tidak menggunakan kantung plastik. Banyak juga pengunjung yang sudah aware, mungkin mereka akan bawa tumblr atau alumunium straw," ucap General Manager ABCD School Willyanto saat konferensi pers di ABCD School, Jakarta Pusat, Rabu (21/8).

Willyanto mengungkapkan target pengunjung tahun ini ada pada kisaran 25 ribu pengunjung, dengan melihat rekam jejak tahun lalu sebanyak 21ribu pengunjung. Selain menghadirkan 120 stan, Jacoweek bekerja sama dengan Scopi (Sustainable Coffee Platform of Indonesia) juga akan mendatangkan 15 petani kopi untuk memperkenalkan jenis kopi lokal. Selain itu, Jacoweek juga melihat tren pasar kopi yang kini bermunculan banyak produk kopi susu. Oleh karena itu, tahun ini pun akan tersedia beberapa produk kopi susu di Jacoweek.

"Ada tim yang melakukan seleksi, jadi tidak sembarangan. Biarpun es kopi susu, melihat apakah tenan ini minimal masih mengikuti dan tidak melenceng jauh dari specialty coffee," tambah Willy.

Dalam pengamatan Willy, tren kopi susu saat ini juga karena dikemas dengan cara yang sederhana. Selain itu, juga faktor harga produk kopi susu yang tergolong lebih murah bila dibandingkan dengan specialty coffee.

"Sebenarnya kan sudah ada dari dulu es kopi susu. Namun kenapa saat ini menjadi tren karena dikemas dengan look yang simpel dan mudah. Bahkan dengan harga Rp18 ribu udah bisa beli kopi susu. Karena booming, semua orang jadi ikutan bisnis dan jadi tren. Dari segi market, kita memang masih banyak yang seperti itu yang laku, orang menikmati kopi dengan rasa yang masih ada manisnya atau ada campuran bahan lainnya. Paling gampang tembak marketnya di situ. Kalau menurut saya dengan banyaknya produk kopi susu, cari yang nyaman di lidah kita aja."

Bekerja sama dengan Bank Mandiri, Jacoweek juga menyediakan berbagai diskon bila pengunjung merupakan pengguna produk bank anggota Himbara tersebut. Senior Vice President Retail Deposits Product & Solution Bank Mandiri Muhammad Gumilang mengaku tahun ini menargetkan akan mencetak transaksi sebesar Rp5 miliar. Dua kali lipat dari tahun perdana Mandiri bergabung dengan Jacoweek pada 2017. Gumilang juga berharap sistem cashless semakin ramah bagi para pengunjung yang datang.


"Harapannya ada semua bisa bergeser ke transaksi cashless biar bisa terlihat trace-nya. Kalau pun yang datang tidak punya produk kami, ada alternatif semisal  provide dengan Linkaja," tambah Gumilang. (M-1)

Baca juga : Ternyata Fakta Lebih Menarik

 

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More