Rabu 21 Agustus 2019, 18:00 WIB

Warga Keluhkan Pengeboman Bukit Nunggal Babel

Rendy Ferdiansyah | Nusantara
Warga Keluhkan Pengeboman Bukit Nunggal Babel

MI/Rendy Ferdiansyah
Bukit Nunggal

 

CARA pengeboman Bukit Nunggal di Desa Air Mesu Timur, Kecamatan Pangkalanbaru, Kabupaten Bangka Tengah (Bateng), Provinsi Bangka Belitung (Babel) mulai dikeluhkan warga.

Keluhan tersebut mulai dari rumah mengalami keretakan, debu bertebaran hingga suara ledakan pengeboman yang mengagetkan warga serta getaran dari ledakan.

Pengelola Yayasan Atap Langit, Indah Yati, 33, sangat terganggu dengan suara dan dampak dari ledakan bukit Nunggal. Dinding rumahnya pun mengalami keretakan.

"Rumah belakang saya jendelanya pecah, dinding rumah retak-retak, setiap hari selalu membersihkan debu, belum lagi saya dan anak saya mengalami batuk-batuk," kata Indah, Rabu (21/8).

Ia menyebutkan, dalam seminggu, sebanyak 3 kali pihak perusahaan melakukan pengeboman.

"Untung saja proses belajar siswa PKB saya paket A, B dan C tidak terganggu suara ledakan karena belajar setiap Jumat," ujarnya.

Baca juga: TMMD Tingkatkan Konektivitas dan Kesejahteraan di Bukit Sejahtera

Seharusnya di musim kemarau, pihak perusahaan melakukan penyemprotan jalan sehingga debu tidak bertebaran, begitu pula truk-truk pengangkut batu berpasir agar ditutup.

Setiap seminggu tiga kali, ia bersama suami dan anaknya selalu terkejut dengan suara ledakan, belum lagi getaran rumah akibat ledakan tersebut.

"Jelas lah kita selalu kaget, rumah lantainya terasa bergetar, untung kami tidak punya balita," terangnya.

Mengenai air, menurutnya, Alhamdullilah tidak terdampak, tapi kalau warga lain sumur sudah mengering, karena musim kemarau.

Keluhan senada juga disampaikan Yuli. Ia mengaku dampak dari pengeboman bukit Nunggal rumahnya retak-retak, bukan bagian samping saja tapi sampai dalam rumah.

"Jelas sekali suara ledakan mengganggu kami, hampir 4 tahun ini kami tidak tenang, debu bertebaran akibat lalulintas truk-truk besar yang mengambil batu di bukit Nunggal itu," tutur Yuli.

Menurutnya, jam pengeboman bukit Nunggal tidak tentu, terkadang pukul 14.00 WIB dan terkadang pukul 15.00WIB.

"Memang terkadang ada satpam yang info mau diledakan, tapi tetap saja membuat kita kaget, karena suaranya yang menggelegar," ujarnya.

Warga lainya, Saripah, mengaku berserta anak-anaknya batuk-batuk akibat debu yang bertebangan setiap hari. Hal ini dikarenakan rumahnya berdekatan dengan lalu lintas truk-truk pengangkut batu dari bukit.

"Satu keluarga setiap hari kita batuk, karena debunya luar biasa, memang sudah ada yang menyiram air tapi tidak mengurangi debu. Apalagi debu dari truk, karena tidak ditutup," ungkap Saripah.

"Kalau suara ledakan, memang kami kaget, ya mau gimana lagi, ngeluh pun percuma tidak ditanggapi," imbuhnya.

Ermin, warga lainnya, menyebut retak-retak memang sudah diperbaiki pihak perusahaan, tapi kemungkinan retak masih akan terjadi akibat dampak dari ledakan tersebut.

"Memang lama proses perbaikannya, ada warga minta bahannya saja perbaiki sendiri," tukasnya.

"Kemungkinan ada puluhan rumah yang mengalami retak-retak," terangnya.

Sementara itu, Humas PT. Bumi Warnaagung Perkasa (BWAP) Viora mengatakan berkaitan hal teknis ia tidak punya kompetensi untuk menjawab.

"Itu bukan kompetensi saya untuk menjawab, terima kasih," jawab Viora singkat melalui WA.(OL-5)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More