Rabu 21 Agustus 2019, 16:01 WIB

Pemerintah Diminta Dorong Investasi di Sektor Riil

Adiyanto | Ekonomi
Pemerintah Diminta Dorong Investasi di Sektor Riil

MI/Adiyanto
Ketua Dewan Komisioner LPS, Halim Alamsyah.

 

UNTUK menjaga agar perekonomian nasional tetap tumbuh di tengah kondisi global yang tidak menentu, pemerintah diharapkan mendongkrak investasi di sektor riil.

Hal itu disampaikan Ketua Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan Halim Alamsyah di sela seminar internasional bertajuk “Facing Softening Global Economy: The Need to Strengthen Bank Resolution Preparedness” yang digelar di Nusa Dua, Bali, Rabu (21/8).

Baca juga: Membuka Pasar Baru Jadi Harga Mati

"Investasi di sektor riil itu yang dirasakan langsung manfaatnya. Kalau bisa yang sudah berjalan, biar asing tertarik masuk. Misalnya yang uji amdal maupun pembebasan lahannya tidak bermasalah dan sebagainya," ujarnya.

Menurut Halim, investasi di bidang portfolio seperti surat utang maupun obligasi relatif tidak ada masalah, sehingga yang perlu didorong adalah investasi di sektor riil agar perekonomian tetap tumbuh. Hal ini, menurutnya, juga untuk mengantisipasi kondisi ekonomi global yang fluktuatif, terutama akibat dampak perang dagang antara Amerika Serikat dan Tiongkok.

LPS sendiri, kata dia, telah menurunkan tingkat bunga penjaminan sebesar 25 basis poin (bps). Kebijakan penurunan ini untuk mengimbangi kebijakan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI) yang dipangkas 25 bps menjadi 5,75% pada Juli 2019.

Menurut Halim, dengan kebijakan pelonggaran tingkat bunga penjaminan tersebut serta didorong kebijakan moneter BI, pertumbuhan ekonomi bisa dipacu lebih cepat.

Sebab, dengan kedua kebijakan tersebut membuat perbankan bisa menurunkan suku bunga deposito. Maka biaya-biaya yang ditanggung oleh perbankan bisa ditekan lebih rendah. "Dengan tingkat bunga yang lebih rendah, maka biaya dana di bank akan lebih rendah," katanya.

Dengan demikian, perbankan dipastikan akan semakin gencar mendorong kinerja kredit, termasuk melonggarkan bunga kredit menjadi lebih rendah. Hal ini pada akhirnya berimbas pada pergerakkan ekonomi yang lebih baik.

"Kalau penyaluran kreditnya tinggi, ini bisa memacu pertumbuhan ekonomi. Karena kalau ekonominya naik, pendapatan masyarakat naik," tegasnya.

Sementara itu, anggota dewan komisioner LPS Fauzi Ichsan mengatakan kondisi perekonomian global yang penuh ketidakpastian perlu disikapi secara hati-hati, termasuk dampak perang dagang dan brexit (keluarnya inggris) dari Uni Eropa.

Baca juga: Ambisi Indonesia Penetrasi Pasar Afrika

Oleh karena itu. kata dia, seminar ini penting bagi LPS sebagai sarana pertukaran informasi dan pengetahuan antar otoritas keuangan beberapa negara mengenai pencegahan dan penanganan krisis keuangan, terutama dalam penanganan (resolusi) bank.

"Memang kondisi saat ini masih jauh dari krisis. Tapi kalau pun itu terjadi (krisis), kita telah betul-betul siap." pungkasnya. (OL-6)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More