Rabu 21 Agustus 2019, 13:55 WIB

Flyover Lingkar Selatan Sukabumi Bisa Berdampak Tumbuhnya Ekonomi

Benny Bastiandy | Nusantara
Flyover Lingkar Selatan Sukabumi Bisa Berdampak Tumbuhnya Ekonomi

MI/Benny Bastiandy
Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil (paling kiri) menyimak pemaparan proyek pembangunan flyover lingkar selatan Sukabumi, Rabu (21/8).

 

GUBERNUR Jawa Barat, Ridwan Kamil, meresmikan peletakan batu pertama (ground breaking) pembangunan flyover segmen 3 Lingkar Selatan Sukabumi di Kecamatan Cibeureum, Kota Sukabumi, Jawa Barat, Rabu (21/8). Pembangunan fly over tersebut nantinya diharapkan bisa berdampak terhadap pertumbuhan ekonomi.

"Adanya pembangunan infrastruktur ini (flyover) harus memberi dampak ekonomi," tegas Emil, sapaan akrab Ridwan Kamil, kepada wartawan, usai peresmian, Rabu (21/8).

Emil mengatakan, pembangunan flyover Lingkar Selatan Sukabumi menelan biaya sekitar Rp33 miliar. Flyover Lingkar Selatan Sukabumi yang terkoneksi ke Kecamatan Baros Kota Sukabumi dan ke Kecamatan Sukaraja Kabupaten Sukabumi itu ditargetkan bisa selesai selama 160 hari kerja.

"Mudah-mudahan bisa selesai tahun ini. Sehingga, nanti bisa segera dimanfaatkan masyarakat, khususnya di Sukabumi," terang Emil.

Panjang Jalur Lingkar Selatan Sukabumi terbentang sekitar 19 kilometer. Pembangunannya terbagi ke dalam empat segmen. Segmen I menghubungkan Cibolang hingga ke Jalan Palabuhan sepanjang lebih kurang 6,9 kilometer. Segmen II menghubungkan Jalan Palabuhan hingga ke Kecamatan Baros sepanjang lebih kurang  2,2 kilometer. Pembanunan kedua segmen tersebut sudah selesai dilaksanakan.

Sementara Segmen III menghubungkan Kecamatan Baros dan Kecamatan Sukaraja sepanjang lebih kurang 4,4 kilometer. Nanti pembangunan dilanjutkan pada Segmen IV menghubungkan Kecamatan Sukaraja hingga ke Rumah Makan Nikmat sepanjang 5,5 kilometer. Selain keuntungan dari sisi ekonomi, ujar Emil, kehadiran overpass Lingkar Selatan juga bisa mengantisipasi keselamatan warga atau pengendara. Sebab, ke depan tidak ada lagi perlintasan sebidang antara jalur kereta api dan kendaraan.

"Tentu, ini bisa menjamin keselamatan berlalu lintas ke depan," ungkapnya.

Emil menyebut pembangunan infrastruktur di Jawa Barat sekarang cukup pesat. Pembiayaannya tak hanya dialokasikan dari Pemprov Jabar saja, tapi juga dibiayai dari pemerintah pusat. Sebut saja pembangunan kereta cepat Bandung-Jakarta, Pelabuhan Internasional Patimban, revitalisasi jalur kereta api, hingga pembangunan jalan tol yang menghubungkan kabupaten dan kota di Jawa Barat. Berbagai pembangunan infrastruktur tersebut diyakini akan mampu mendongrak pertumbuhan ekonomi di Jawa Barat.

"Ada pembangunan infrastruktur juga bisa menyerap tenaga kerja serta distribusi barang dan pergerakan manusia semakin lancar. Makanya kami optimistis, lanu pertumbuhan ekonomi akan meningkat 100%," imbuhnya.

Meskipun infrastruktur tersebut belum maksimal, tetapi Emil berbangga hati lantaran di Jawa Barat sudah relatif bagus dibanding provinsi lain di Indonesia. Hal itu bisa menjadi modal bisa menarik lebih banyak investor untuk berinvestasi di Jawa Barat. Data yang dimilikinya, ujar Emil, nilai investasi di Jawa Barat selalu meningkat tahun ke tahun. Pada 2018 misalnya sebut Emil, nilai investasi di Jawa Barat mencapai sekitar Rp160 triliun.

"Tahun ini, pada semester pertama, investasinya sudah mencapai Rp70 triliun.. Makanya, bagusnya kualitas infrastruktur harus menjadi modal menarik investor. Insyaallah, semakin baik infrastruktur, maka semakin memudahkan segalanya," tandasnya.

Wali Kota Sukabumi, Achmad Fahmi, mengatakan pembangunan Flyover Lingkar Luar Sukabumi dapat membuat arus lalu lintar lebih tertata. Kendaraan-kendaraan besar, kata dia, akan melewati flyover, sehingga tidak menghambat laju kendaraan lain di ruas jalan arteri.

baca juga: Sekitar 23 Ribu Warga Cianjur Putus Sekolah

"Tentu kita berharap arus transportasi se-wilayah Sukabumi bisa lebih tertib. Jadi, kendaraan-kendaraan besar bisa melewati jalur yang sudah dibuat Pemprov Jabar, Kemudian, penataan arus lalu lintas di Sukabumi pun akan semakin baik," tutur Fahmi. (OL-3)

 

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More