Selasa 20 Agustus 2019, 19:00 WIB

Keandalan Listrik Ikut Dukung Ekonomi Kreatif Indonesia

Ghani Nurcahyadi | Ekonomi
Keandalan Listrik Ikut Dukung Ekonomi Kreatif Indonesia

Ilustrasi
Kedai Kopi

 

SEMAKIN tinggi tingkat sosial kehidupan masyarakat, mendorong bertambahnya konsumsi listrik masyarakat di satu daerah. Itu sebabnya kebutuhan masyarakat terhadap listrik  berjalan, seiring dengan pemahaman seseorang terhadap perlunya meningkatkan kualitas hidup sesuai tuntutan zaman kekinian.

Hal itu menjadi pesan dalam ajang Electricity Lifestyle, yang mengemuka dalam penyelenggaraan Bali Collection Festival 2019 (BCF 2019). Salah satu industri yang mengandalkan listrik untuk menunjang gaya hidup adalah kedai kopi (coffee shop) yang kini makin digemari di kalangan generasi milenial.

Ketua Penyelenggara Festival Kopi di BCF 2019 Pambudi Prasetyo mengatakan, Industri kopi saat ini termasuk salah satu industri yang sedang “sexy,” luas sekali penggunaannya, sehingga orang dapat memanfaatkan ruangan tersisa di halaman rumahnya saja, yang berukuran 3x3 meter persegi.

Mengingat semua mesin yang dipergunakan di warung kopi modern, lebih luas kafe, saat ini menggunakan listrik, sehingga pasokan listrik sepenuhnya mendukung perkembangan ekonomi kreatif. 

Menurut Pambudi, luasnya penggunaan listrik dimulai sejak dari kopi tersebut ditanam sampai siap diminum. Proses penanaman kopi tidak hanya membutuhkan energi secara intensif, baik digarap dengan sistem tanam sederhana ataupun yang menggunakan mesin (mekanisasi pertanian).

"Faktanya, hampir 60% energi yang dipergunakan untuk menghasilkan secangkir kopi, terutama terletak pada sisi distribusi (pengangkutan), roasting (proses sangrai), dan penyeduhan (brewing) kopi," katanya dalam keterangan tertulis.

Mesin roasting beroperasi pada suhu temperatur 550 derajat Fahrenheit, dan setiap satu jam menghabiskan sekitar 1 juta BTU (British Thermal Unit). Dari semua proses, penyeduhan kopi yang  membutuhkan energi paling besar.

Menggabungkan antara panas dari energi listrik itulah yang masuk dalam seni dan energi penyediaan kopi, termasuk berbagai mesin penyeduhnya. Secara total energi yang dipergunakan untuk menghasilkan 100 mililiter kopi setara dengan 1,94 megajoules, atau setengah KwH. 

Ketua Indonesian Barista Association (IBA) Bali, yang secara organisasi berada di bawah Indonesian Food and Beverage Association Commitee (IFBAC) Bali Nyoman Suweca menambahkan, di usaha coffee shop, daya listrik setiap jenis mesin berbeda-beda, bervariasi antara 1.200 watt sampai 1.300 watt, di luar daya boiler.

"Biasanya setiap venue memiliki minimal 4 jenis mesin, serta pendingin ruangan (AC) sehingga untuk menyediakan daya listrik beserta spare daya tersedia, mereka perlu menyediakan sekitar 10.000 watt," ujarnya.

 

Baca Juga:  Sri Mulyani Sebut Subsidi Energi Tahun 2020 Basisnya Volume

 

Suweca menambahkan, sejak setahun terakhir perkembangan coffee shop di Bali bertumbuh pesat, sehingga hampir setiap bulan muncul satu kafe baru. Kegemaran minum kopi juga ditunjang oleh meningkatnya pendapatan kelas menengah, sehingga membeli segelas atau secangkir kopi harga Rp30-50 ribu, tidak terasa berat.

Di sisi lain, Festival Kopi yang berlangsung 16–18 Agustus 2019 di Nusa Dua, Bali itu, ditampilkan sejumlah acara, seperti perbincangan dan pengetahuan tentang kopi, serta pameran kopi yang menampilkan potensi kopi dari seluruh Indonesia.

Di sini para pengunjung dan investor dapat saling mingle, ataupun juga berkomunikasi langsung dengan para petani atau pemilik kebun kopi, demo sangrai (roasting) kopi, dan menyaksikan langsung buyer’s cupping.

Acara yang diikuti 48 booth ini, menampilkan wakil dari pemerintahan, market place, lembaga pembiayaan dan perbankan, serta para pemain di bidang industri perkopian.

Partisipan dalam pameran antara lain Kementerian Perindustrian, Kabupaten Bone Bolango, Kabupaten Bandung,Terminal Coffee (binaan Pemda setempat), Kopi Nusantara, Coco Group, Tropical Group, Prada Group, The Paon Group, serta sejumlah pemilik brand kopi kekinian.

PT PLN (Persero) sebagai salah  satu pengisi stand, juga mendukung bertumbuhnya industri kopi di Indonesia, melalui pemberian pelatihan dan penanaman kopi lewat anak perusahaannya Unit Pembangkit Mrica .

PT Indonesia Power di Desa Pengundungan dan Desa Krinjing, Jawa Tengah. Melalui program CSR-nya dapat membawa dua kelompok petani Kopi Senggani dari Kelompok Tani (Poktan) Rising - Desa Pengundungan dan Kopi Krinjing dari Poktan Bumi Asih memberi nilai tambah bagi para anggota Poktan dan juga industri terkaitnya.

Sementara itu, Direktur Industri Kecil Menengah (IKM) Pangan, Barang dari Kayu dan Furnitur Kementerian Perindustrian (Kemenperin) Sri Yunianti, dalam kesempatan sama mengemukakan, pada Festival Kopi ini Kemenperin bekerjasama dengan lembaga akademi di Tangerang, Prodigy, mengadakan program bimbingan teknis (bimtek) selama 3 hari penyelenggaraan, mulai 16 -18 Agustus. (RO/OL-7)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More