Rabu 21 Agustus 2019, 05:00 WIB

Eliminasi Tuberkulosis 2030 Perlu Sinergi Lintas Sektor

(Ros/H-3) | Humaniora
Eliminasi Tuberkulosis 2030 Perlu Sinergi Lintas Sektor

MI/ BARY FATHAHILAH
Menkes Nila F Moeloek membubuhkan cap jari di atas kanvas komitmen bersama Hari TBC Sedunia saat peringatan Hari Tuberkulosis (TBC) Sedunia

 

LAPORAN yang diterbitkan World Health Organization (WHO) menyebutkan tidak ada negara yang bebas dari tuberkulosis (TB). Di Indonesia, 842 ribu orang menderita TB, 23 ribu di antaranya TB yang resisten obat. Ironisnya, sebanyak 75% dari orang yang sakit tuberkulosis di Indonesia merupakan kelompok usia produktif.

Situasi ini merupakan ancaman terhadap salah satu agenda Rencana Pembangunan Jangka Menengah 2020-2024, yaitu meningkatkan sumber daya manusia yang berkualitas dan berdaya saing. Oleh karena itu, eliminasi TB pada 2030 menjadi target Indonesia sejalan dengan deklarasi UN High Level Meeting on TB 2030.

Menteri Kesehatan Nila Moeloek mengungkapkan, penanganan TB perlu menjadi prioritas lintas sektor untuk mewujudkan target eliminasi TB 2030 di Indonesia.

"Saat ini pemerintah memperkuat infrastruktur untuk meningkatkan konektivitas dan mobilitas masyarakat antardaerah, bahkan lintas pulau. Kalau TBC tidak dapat dikendalikan lintas sektor, penyebaran TB di Indonesia dapat semakin meluas dan membebani negara," ujar Menkes dalam acara kemitraan Stop TB Partnership yang dihadiri pemangku kepentingan terkait ancaman TB global, di Sudirman, Jakarta Selatan, beberapa waktu lalu.

Dalam kesempatan yang sama, Ketua Tim untuk Dukungan dan Dampak bagi Negara dan Komunitas Stop TB Partnership dokter Viorel Soltan mengungkapkan, pada 2017, TB resisten obat merenggut 230 ribu jiwa di seluruh dunia dan menyebabkan kerugian ekonomi hinga 17,8 miliar dolar AS dalam setahun.

"Stop TB Partnership global bersama dengan dengan Stop TB Partnership Indonesia, bekerja sama untuk memastikan permasalahan ini teratasi dengan pendekatan multisektor," terang Viorel.

Ketua Dewan Pembina Stop TB Partnership Arifin Panigoro, juga menekankan pentingnya keterlibatan berbagai sektor menanggulangi TB. Menurut Arifin, TB berdampak pada swasta karena pada skala makro, korporasi dapat mengalami penurunan produktivitas.

"Bonus demografi yang diprediksi menjadi generasi emas Indonesia akan berbalik menjadi bencana jika kita tidak bermitra untuk mengakhiri TB," ujar Arifin.

Duta Tuberkulosis Indonesia dr Sonia Wibisono menekankan ancaman TB yang rentan menular melalui udara sehingga siapa pun bisa tertular. "TB tidak hanya berisiko terjadi kepada orang yang tinggal di permukiman kumuh, tetapi juga pada dokter, perawat, pekerja, bahkan karyawan umum. Penderita juga lintas usia, gender, dan sosial. Siapa pun, apa pun, dan di mana pun berisiko tertular," ungkap Sonia. (Ros/H-3)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More