Selasa 20 Agustus 2019, 19:45 WIB

Lahan Terbakar di Sumsel Lebih dari 700 Hektare

Dwi Apriani | Nusantara
Lahan Terbakar di Sumsel Lebih dari 700 Hektare

ANTARA /Ahmad Rizki Prabu
Petugas Manggala Agni Daops Banyuasin berusaha memadamkan kebakaran lahan yang terjadi di Desa Kayu Arehh,

 

KAWASAN hutan dan lahan gambut di Provinsi Sumatra Selatan yang terbakar pada puncak musim kemarau Agustus 2019 ini terus bertambah sehingga memerlukan penanganan yang lebih serius.

"Luas lahan yang terbakar awalnya mencapai 572 hektare yang tersebar di lima kabupaten, yakni Ogan Ilir, Ogan Komering Ilir, Pali, Banyuasin, dan Kabupaten Musi Banyuasin, kini bertambah mencapai sekitar 700 hektare lebih," kata Kabid Humas Polda Sumsel, Kombes Pol Supriadi, di Palembang, Selasa (20/8).

Melihat jumlah lahan yang terbakar terus bertambah, Polda Sumsel berupaya membantu penanggulangannya dengan menurunkan ratusan personel Brimob yang dilengkapi dengan peralatan pemadam api.   

Kebakaran hutan dan lahan yang terjadi di sejumlah kabupaten dalam wilayah Sumsel akhir-akhir ini disebabkan faktor cuaca yang panas tanpa hujan sekitar satu bulan. Ada juga disebabkan ulah manusia yang melakukan pembakaran secara sengaja untuk membersihkan lahan dan membuka kebun baru.  

Kebakaran yang disebabkan faktor alam ditanggulangi dengan melakukan pemadaman bersama anggota Satgas Gabungan Siaga Darurat Bencana Asap Sumsel yang siaga sejak April 2019.    

Sedangkan yang disebabkan oleh ulah manusia, dilakukan tindakan penegakan hukum secara tegas terhadap siapapun yang terbukti melakukan pembakaran secara sengaja.

Pembakaran lahan secara sengaja sehingga menimbulkan kabut asap yang mengganggu berbagai aktivitas dan kesehatan masyarakat merupakan tindak pidana sehingga pelakunya akan diproses sesuai dengan ketentuan hukum.

"Berdasarkan Undang-Undang Lingkungan Hidup, pelanggar maklumat larangan membakar lahan, hutan, dan perusakan lingkungan dikenai ancaman hukuman 15 tahun penjara dan denda Rp5 miliar," ujar Supriadi.


Baca juga: Polisi Jamin Keamanan Mahasiswa Asal Papua di Unsri


Sementara sebelumnya, Komandan Satuan Tugas Gabungan Siaga Darurat Bencana Asap Sumsel, Kol Arh Sonny Septiono, mengatakan, menghadapi karhutla di sejumlah kabupaten akhir-akhir ini pihaknya berupaya meningkatkan operasi darat dan udara.

Anggota Satgas Gabungan sekarang ini terus melakukan patroli darat di 90 desa rawan Karhutla dan melakukan pemadaman serta pembasahan lahan menggunakan helikopter pada lokasi yang sulit dijangkau petugas.

Selain meningkatkan operasi darat dan udara, pihaknya juga berupaya mengambil tindakan tegas kepada siapa pun yang terbukti dengan sengaja melakukan pembakaran untuk membuka lahan pada musim kemarau 2019 ini.

"Siapa pun yang tertangkap tangan melakukan pembakaran lahan secara sengaja diperintahkan kepada petugas yang patroli untuk melakukan tindakan tegas dan bila perlu ditembak di tempat," ujarnya.

Upaya untuk melakukan pengendalian karhutla yang disebabkan oleh faktor cuaca panas memerlukan kegiatan pemadaman dan pembasahan dari
darat dan udara, sedangkan yang disebabkan ulah manusia perlu dilakukan tindakan pembinaan dan penegakan hukum secara tegas.

Jika masyarakat selama ini melakukan pembakaran lahan tidak bisa dibina untuk mengubah kebiasaan buruknya pada setiap memasuki musim kemarau itu, anggota satgas di lapangan diperintahkan tidak segan-segan melakukan tindakan hukum secara tegas dan terukur.

"Tindakan pembinaan dan penegakan hukum dalam operasi dilaksanakan satgas yang berlangsung sejak April 2019 itu, karhutla di Sumsel bisa dikendalikan, dan terbukti luas lahan yang terbakar bisa diminimalkan dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya," ujar Komandan
Satgas yang juga Danrem Gapo itu. (Ant/OL-1)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More