Selasa 20 Agustus 2019, 12:55 WIB

Indonesia Atasi Ketertinggalan

Raja Suhud | Ekonomi
Indonesia Atasi Ketertinggalan

MI/ROMMY PUJIANTO
Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita

 

MENTERI Perdagangan Enggartiasto Lukita menilai bahwa Indonesia banyak kehilangan pangsa pasar (market share) di sejumlah negara akibat tertinggal dari Vietnam dan Malaysia dalam menjajaki perjanjian dagang.

Enggartiasto mengakui bahwa Indonesia ketinggalan dengan Vietnam yang lebih gesit dalam menjalin perjanjian dagang. Baru sepuluh tahun terakhir ini, kata Enggar, Indonesia baru mengatasi ketertinggalan itu untuk menyelesaikan perjanjian dagang.

"Malaysia sebagai contoh, dia sudah lebih dulu, banyak sekali kita kehilangan market share di Turki dan India oleh Malaysia. Itu karena dia ada perjanjian dagang," kata Menteri Enggar seusai menghadiri diskusi CEO Connect -Exploring ASEAN yang diselenggarakan Standard Chartered di Jakarta, kemarin.

Akibat perjanjian dagang itu, lanjut Enggar, Vietnam atau Malaysia memperoleh tarif yang lebih rendah daripada negara tetangga lain sehingga komoditas ekspor asal Indonesia sulit bersaing.

Oleh karena itu, Indonesia berupaya melakukan sejumlah perjanjian dagang yang ditargetkan dapat selesai pada tahun ini, antara lain Indonesia-Korea Comprehensive Economic Partnership Agreement (CEPA) dan Regional Comprehensive Economic Partnership (RCEP).

Pasar Afrika

Dalam waktu dekat, Indonesia juga akan memasuki pasar baru di Afrika dengan segera ditandatanganinya kerja sama perjanjian dagang Indonesia-Mozambik Preferential Trade Agreement (PTA).

Penandatanganan Indonesia-Mozambik PTA masih menunggu kecocokan jadwal dengan Menteri Industri dan Perdagangan Mozambik. "Saya tinggal menunggu karena menterinya harus dapat izin dari presidennya, sama-sama menyesuaikan schedule ," tandasnya.

Menteri Enggartiasto menjelaskan bahwa Indonesia-Mozambik PTA merupakan kerja sama bila-teral pertama bagi Indonesia dengan negara Afrika.

Menurut dia, Mozambik menjadi hub atau pintu masuk peluang pasar ekspor Indonesia ke negara-negara lain Afrika.

Selain dengan Mozambik, kerja sama dengan negara Afrika juga akan dilakukan tahun ini, yakni dengan Tunisia dan Maroko.

Di sisi lain, pada 20-21 Agustus Indonesia akan menyelenggarakan pertemuan Indonesia-Africa Infrastructure Dialogue (IAID) di Bali sebagai tindak lanjut Indonesia-Africa Forum tahun lalu di tempat yang sama.

Dalam pertemuan tersebut, pemerintah Indonesia akan melakukan putaran pertama perundingan bilateral PTA Indonesia-Mauritius dan Indonesia-Djibouti.

Peneliti LPEM FEB UI, Mohamad D Revindo, mengatakan pembukaan akses pasar dengan kedua negara ini memiliki arti strategis bagi Indonesia dalam jangka panjang. Apalagi Mauritius dan Djibouti ialah anggota Uni Afrika (AU) yang memiliki anggota 55 negara di seluruh Benua Afrika.

Upaya untuk membuka pasar Afrika juga penting bagi pengembangan ekspor Indonesia sebab saat ini nyaris 50% ekspor Indonesia hanya terfokus pada lima negara tujuan, yaitu Tiongkok, Amerika Serikat, Jepang, India, dan Singapura.

"Tidak mengherankan jika Presiden Joko Widodo beberapa kali menekankan pentingnya melakukan diversifikasi ekspor ke pasar nontradisional, salah satunya Afrika," kata Revindo. (Ant/E-3)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More