Selasa 20 Agustus 2019, 12:50 WIB

Dana Desa Terhadang Ombak

Akhmad Safuan | Nusantara
Dana Desa Terhadang Ombak

Dok.MI/Akhmad Safuan
Ilustrasi -- Bencana banjir air laut pasang (Rob) yang melanda kawasan pantura Jawa Tengah

 

NUR Kharirin seperti kehilangan daya untuk membantu warganya. Kepala Desa Loireng, Kecamatan Sayung, Kabupaten Demak, Jawa Tengah, itu mengakui selama memimpin desa, kehidupan warganya semakin sulit.

"Saya jadi kepala desa sejak 2016 lalu. Saat itu seluruh area persawahan di desa kami sudah tidak dapat berproduksi sama sekali karena selalu didatangi rob," ujarnya, kemarin.

Tidak hanya warga, Nur juga mengalami. Pasalnya, 12 hektare lahan bengkok yang menjadi gajinya, juga tidak berproduksi karena soal yang sama.

Sama seperti desa lain di Demak, Loireng juga mendapat guliran Dana Desa hampir Rp1 miliar per tahun. Namun, bencana rob benar-benar telah membuat ekonomi warga yang bergantung pada lahan pertanian ambruk.

Selain Sayung, rob juga melanda sejumlah desa di Kecamatan Bonang dan Wedung. Sekitar 70% warga yang sebelumnya bertani, alih profesi dengan menjadi buruh di Semarang, Jepara, dan kudus.

"Dulu kami masih berpenghasilan karena sawah paling tidak dapat panen dua kali setahun. Namun, sudah tiga tahun ini tidak bisa lagi ditanam karena terendam rob," kata Maskan, 55, warga Desa Tugu, Sayung.

Bupati Demak Muhammad Natsir mengakui Dana Desa belum bisa mengangkat daerahnya dari jurang kemiskinan. "Angka kemiskinan masih 12,54%, di atas angka provinsi 11,32% dan nasional 9,82%."

Demak mendapat kucuran dana desa Rp211,6 miliar pada 2017 dan Rp229,5 miliar pada 2018. "Ke depan, saya minta Dana Desa diprioritaskan untuk pemberdayaan masyarakat bukan pembangunan infrastruktur lagi."

Kepala desa kreatif

Adanya lima desa berstatus sangat tertinggal di Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, membuat Asosiasi Pemerintahan Desa Seluruh Indonesia (Apdesi) Cianjur meminta kepala desa lebih kreatif dan inovatif. "Mereka harus melakukan tata kelola manajerial yang baik. Tujuannya untuk mendongkrak potensi desa dari berbagai sektor," kata Ketua Apdesi Cianjur Beni Irawan.

Sampai tahun ini, Cianjur masih memiliki 5 desa sangat tertinggal dan 88 desa tertinggal. "Kepala desa harus kreatif mengelola Dana Desa untuk kemajuan wilayahnya," tandas Beni.

Kondisi berbeda dirasakan Kepala Desa Patisirawalang, Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur, Siprianus Belen. "Dana Desa kami manfaatkan untuk pembangunan ekonomi warga dan peningkatan mutu kesehatan. Dana Desa telah menolong warga sehingga jumlah bayi gizi buruk terus berkurang."

Kepala Desa Aransina, Kecamatan Tanjung Bunga, Flores Timur, Lambertus Koten, juga mengaku meng-alokasikan anggaran Dana Desa bagi pengurangan masalah gizi buruk dan stunting. "Kami sudah melaksanakan kesepakatan ratusan kepala desa dengan bupati untuk mengalokasikan Dana Desa bagi pencegahan stunting. Selain pelayanan kesehatan ibu mengandung, kami juga menyalurkan makanan bergizi bagi bayi dan ibu mengandung."

Saat sebagian besar kepala desa bekerja keras menyalurkan Dana Desa untuk kemajuan wilayahnya, AL, kepala desa di Sarajaya, Kecamatan Lemahabang, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat, justru harus menghadapi masalah hukum. Ia diduga telah menilap Dana Desa sehingga merugikan negara mencapai Rp354,7 juta.

"Selain Dana Desa, ia juga mengambil bantuan dari Pemerintah Provinsi Jawa Barat untuk kepentingan pribadi," kata Kapolres Cirebon, AKB Suhermanto. (BB/FB/UL/N-2)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More