Sabtu 17 Agustus 2019, 22:02 WIB

Tidak Semua Varietas Bajakah Obati Kanker

Antara | Humaniora
Tidak Semua Varietas Bajakah Obati Kanker

MI/Bary Fathahilah
Tiga siswa SMAN 2 Palangka Raya, Yazid Rafli Akbar, Anggina Rafitri, Aysa Aurealya Maharani.

 

PENELITIAN mengenai khasiat tanaman bajakah dalam mengobati kanker berasal dari pengalaman dan kearifan lokal yang dijalani keluarga besar salah seorang siswa SMAN 2 Palangka Raya, Kalimantan Tengah, yakni Yazid Rafli Akbar, 16.

"Inspirasi dari neneknya Yazid yang menggunakan kayu bajakah turun-temurun. Nenek Yazid menderita kanker payudara, tetapi setelah mengonsumsi kayu bajakah, sembuh sampai sekarang," kata Anggina Rafitri, 17, saat ditemui di Jakarta, Sabtu (17/8).  

Anggina, Yazid, dan Aysa Aurealya Maharani, 17, meraih medali emas dalam bidang Life Science pada penghargaan World Invention Creativity Olympic (WICO) di Seoul, Korea Selatan, dari hasil penelitian mereka yang berjudul "Bajakah Tunggal, The Cancer Medicine from Nature".

Berawal dari kearifan lokal itu disertai pengalaman empiris nenek Yazid, mereka mengujicobakan akar itu menjadi obat kanker.   

Yazid Rafli Akbar belum bisa membeberkan berapa lama neneknya mengonsumsi akar bajakah hingga akhirnya sembuh dari kanker yang menggerogoti tubuhnya.    

Baca juga: Obat Penyembuh Kanker Kayu Bajakah Segera Dipatenkan

Penelitian yang mereka lakukan sebatas karya ilmiah dan belum bisa menjadi dasar pembuktian pengobatan manusia.  "Yang kami tahu, Bajakah punya banyak varietasnya. Tidak semuanya bisa digunakan untuk menyembuhkan kanker. Malah ada yang digunakan untuk mabuk ikan, berburu, perang, macam-macam kegunaannya. Berhati-hati penggunaannya," ujarnya.

Tanaman yang digunakan dalam penelitian berasal dari pedalaman hutan Kalimantan, "itu yang baru kami tahu," ujar Yazid.    

Ia menolak merinci di mana menemukan tanaman akar tersebut karena khawatir terjadi eksploitasi berlebihan terhadap tanaman tersebut. Apalagi, akar bajakah dipakai, ternyata tanaman langka.

"Tolong dipilah-pilah dulu, karena kami belum mengetahui jenis-jenisnya. Jadi mohon dipilah-pilah lagi karena kami baru penelitian awal. Belum bisa dijadikan dasar pengobatan. Akan diadakan penelitian lebih lanjutlah. Fasilitas pemerintah nanti ada juga buat bantu kami meneliti lebih lanjut," tambah Anggina.
 
Mereka berharap, pemerintah membantu penelitian lebih lanjut, sedangkan hal yang mereka kerjakan masih sebatas penelitian awal.    

Mereka optimistis penelitiannya akan dapat membantu orang banyak. Mereka pun ada rencana untuk mematenkan penelitiannya jika sudah ada penelitian lanjutan.    

"Penelitian kami masih sebatas karya ilmiah jadi belum bisa menjadi dasar dalam pengobatan. Tapi kalau penelitian dilanjutkan, insyaallah kami berharap bisa dipatenkan," ujar Yazid.   

Mereka memohon agar masyarakat Kalimantan terus menjaga hutannya karena bajakah banyak jenisnya, sedangkan  jenis yang dapat mengobati kanker termasuk langka karena susah didapat.    

"Tolong jangan eksploitasi hutan karena itu berdampak pada ekosistem alam di negara yang kita cintai ini," ujar Anggina.                     


Penelitian dilanjutkan dengan uji sampel menggunakan dua ekor mencit atau tikus kecil yang sudah diinduksi atau disuntikan zat pertumbuhan sel tumor atau kanker.  

"Kami penelitian dari pertengahan 2018, ada prosedurnya dari guru pembimbing," ujar Yazid.  

Setelah sel kanker berkembang di tubuh tikus, mereka lalu memberikan dua penawar atau obat yang berbeda terhadap kedua tikus. Satu tikus diberikan air rebusan yang berasal dari Bajakah berhasil bertahan hidup, sedangkan yang lainnya mati.  

Setelah melalui pembuktian terhadap media uji, pada awal Mei 2019, penelitian dilanjutkan dengan memeriksa kadar kayu bajakah melalui uji laboratorium. Tahapan itu bekerja sama dengan pihak laboratorium Universitas Lambung Mangkurat, Banjarmasin, Kalimantan Selatan.

Berdasarkan hasil tertulis uji laboratorium Universitas Lambung Mangkurat, ketiga siswa dibantu guru pembimbingnya mengikutsertakan hasil penelitian mereka ke ajang kompetisi yang diadakan di Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung pada Mei 2019.   

"Kami menyajikannya kepada juri-juri. Terus kenapa sih ini bisa menyembuhkan kanker? Dari hasil uji lab dan pengalaman empiris membuat juri yakin. Diujicobakan dengan mencit, tikus. Kami ujicobakan, kemudian ada pengalaman empiris. Mereka percaya. Mencit disuntikkan zat pembuat kanker. Kemudian diobati dengan tanaman Bajakah. Berhasil ketika berdasarkan uji lab itu," ujar Kepala SMA Negeri 2 Palangka Raya M Mirazulhaidi. (X-15)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More