Minggu 18 Agustus 2019, 00:00 WIB

Peringatan Alam Sebelum Tsunami Palu

MI | Weekend
Peringatan Alam Sebelum Tsunami Palu

MI/Bary Fathahilah
Rukmini Paata Toheke

BENCANA tsunami yang menerjang Kota Palu dan sekitarnya pada akhir September 2018 memberikan pelajaran berharga bagi Rukmini. Berkat keteguhannya memegang kearifan lokal, ibu tiga anak itu berhasil menyelamatkan buah hatinya meskipun ia menjadi korban bencana mematikan tersebut.

“Saya sendiri korban tsunami Palu, sebenarnya sudah ada pengetahuan kearifan, tapi kita tidak berani sampaikan karena nanti dianggap kafir atau apa. Hingga muncul stigma bencana tsunami di Palu gara-gara masyarakat adat membuat ritual. Padahal, secara akademis sudah diteliti sejak 2012 dan sudah disampaikan Palu berada di patahan sesar Palu-Koro yang mana kita harus siap mitigasi bencana, minimal ada jalur-jalur evakuasi untuk hadapi tsunami dan kami sudah tahu dari awal,” jelas Rukmini kepada Media Indonesia, Sabtu (10/8)

Leluhur, kata Rukmini, mengatakan, bila terjadi gempa bumi dilarang keluar rumah karena tanah akan terbelah. Pendapat itu di matanya dibuktikan pada saat tsunami lalu. 
“Kalau saya pribadi, malam hari sebelum kejadian itu saya sudah mengatakan akan terjadi banjir besar, gempa besar, atau kebakaran besar, itu tanda alam yang mana ayam jantan dan betina itu berkokok di samping rumah saya di Petobo,” ujarnya.

Siang hari sebelum peristiwa, setelah makan siang bersama Rukmini sempat meminta anak-anaknya keluar rumah sewa tersebut untuk pindah ke kantor AMAN Palu. Ketiga anaknya tinggal di rumah sewa karena menempuh pendidikan di Palu. Namun, ia tidak ikut ke kantor AMAN karena ada pertemuan dengan Kemendikbud di hotel di Palu. 

“Itu rumah sewa kami yang kena likuefaksi karena rumah saya di kampung. Jadi, dua hari sebelum kejadian saya ke kota melihat anak-anak saya yang sekolah. Saya ke kota sekalian ada pertemuan dengan Kemendikbud. Malam itu saya sudah tahu karena hati sudah gelisah,” paparnya.

Karena firasatnya, ia berhasil menyelamatkan anak-anaknya dari bencana likuefaksi. Sayangnya, ia menjadi korban bencana dan beruntungnya dapat diselamatkan. 
“Di situ saya berpikir kalau tidak percaya kearfian bagaimana, tapi saya tidak berani bilang firasat saya ke orang lain, hanya pada anak-anak saja, padahal kalau saya beri tahu mungkin akan lebih banyak yang bisa selamat, tapi itu karena kearifan lokal kami tidak dihormati, tidak dihargai karena dianggap mistis,” pungkasnya. (Riz/M-3)

VIDEO TERKAIT:

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More