Sabtu 17 Agustus 2019, 23:20 WIB

Kekuatan Realisme Perempuan dan Bali

MI | Weekend
Kekuatan Realisme Perempuan dan Bali

MI/Wanda
140 koleksi lukisan dan patung Dalam event Sidharta Auctioneer yang bertajuk Indonesia Diversity in Fine Art

KARAKTER kuat dan kecantikan seorang perempuan memang selalu menjadi kekuatan pelukis Basoeki Abdullah. Ia dikenal dengan lukisannya yang menganut aliran realisme dan naturalisme dengan memperindah sosok perempuan yang dia gambarkan. Namun, tidak seperti kebanyakan potret maestro perempuan, Potret Ibu Mayar Sari ciptaannya ini tidak menampilkan sosok perempuan yang dipercantik. Lukisan di atas kanvas berukuran 80 cm x 68 cm menampilkan Ibu Mayar Sari yang tidak berpose untuk menonjolkan kualitas femininnya yang lembut atau elegan.

Ia hanya mengenakan kebaya ­tradisional atau yang dikenal dengan kutubaru dengan rok batiknya. Ia terlihat duduk di kursi kayu dengan satu tangan diletakkan di sandaran tangan. Sorot matanya melihat ke pelukis dengan sedikit miring. 

“Meskipun dia jelas satu-satunya subjek lukisan itu, dia membuat dirinya jelas bahwa dia menolak untuk menjadi objek lukisan itu. Sebaliknya, ia tampaknya dengan penuh perhatian melihat pelukis dan pemirsa mengklaim posisinya setara dengan mereka,” kata Amir Sidharta saat pelelangan lukisannya, di The Tribrata, Dharmawangsa, Jakarta, Sabtu (3/8).

Dalam event Sidharta Auctioneer yang bertajuk Indonesia Diversity in Fine Art ini, Potret Ibu Mayar Sari memang mejadi highlight penyelenggara. Menurut Amir, berdasarkan belajar dari Sarinah Sukarni, lukisan itu ialah potret perempuan Indonesia ideal Basoeki Abdullah. Tanpa harus mengenakan pakaian barat modern, Ibu Mayar Sari tidak tergantung, percaya diri, kuat, dan siap untuk menghadapi tantangan yang dihadapinya, terutama identitas pribadi, hubungan interpersonal, kesetaraan gender, dan modernisasi.

Sosok Ibu Mayar Sari ini bukan menjadi satu-satunya penggambaran perempuan Indonesia, sesuai temanya yang mengacu pada keberagaan, ada pula sosok perempuan yang digambarkan beberapa pelukis lainnya. Seperti halnya lukisan Chusin Setiadikara berjudul Sitting Girl, ia menampilkan perempuan yang sedang duduk dengan kain yang menutupi tubuhnya, atau lukisan Socieb yang menampilkan Gadis Minangkabau yang lengkap menggunakan pakaian adat berwarna hijau. Bahkan, pelukis seperti Noor Ibrahim, Barli Sasmitawinata, Roland Strasser, Soenarto Pr, dan Mochtar Apin menjelajahi sosok telanjang perempuan dengan maksud memahami keadaan tubuh manusia yang paling murni.


Rupa-rupa sudut pandang 

Dari 140 koleksi lukisan dan patung yang tampil tiga hari dari 1-3 Agustus silam, hal yang menarik lainnya ialah penggambaran Bali yang koleksinya cukup banyak dirilis. Ya, Bali memang telah dikenal menjadi tempat seni rupa Indonesia tumbuh berkembang. Bahkan, keindahan alam dan budaya Bali telah mengilhami banyak seniman dari latar belakang berbeda.

Perupa Krijono, misalnya, seniman Jawa keturunan Arab ini menghadirkan orang Bali. Diberi judul Ade Made, pada lukisannya ini terdapat seorang laki-laki Bali memakai udeng dan rok khas Bali yang sedang memegang seekor ayam.

Begitu pula Kay It, seorang Bali dari etnik Tionghoa, secara gamblang menggambarkan sebuah upacara dan Arie Smit yang kelahiran Belanda menangkap cahaya dan warna-warna di sekitar sebuah kuil. Tak hanya itu, seniman Bali Ida Bagus Made Pugug, Nyoman Sinom, Wayan Kaler, I Wayan Rajin menampilkan kehidupan desa Bali yang menyimpan banyak cerita. Tak kalah memesona, juga hasil lukisan Nyoman Gunarsa yang menampilkan penari Bali yang energik dan dinamis. Lukisannya tampak hidup dan kaya dengan etnik yang ia tunjukkan pula dalam ukiran pigura putihnya.

Tak hanya itu, cara Ida Bagus Made Togog pun dianggap menarik karena menggunakan citra dua dimensi untuk menciptakan ruang tiga dimensi dalam Kehidupan di Bali yang tentu membedakan dirinya dari rekan-rekan seniman Batuan yang lebih muda. (Wan/M-4)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More