Sabtu 17 Agustus 2019, 16:00 WIB

Komitmen Jokowi Turunkan Angka Stunting Diapresiasi

Ghani Nurcahyadi | Humaniora
Komitmen Jokowi Turunkan Angka Stunting Diapresiasi

MI/M. Irfan
Joko Widodo saat akan memberikan pidato kenegaraan di gedung parlemen, Jumat (16/8)

 

PRESIDEN Joko Widodo (Jokowi) pada pidato kenegaraan dalam rangka HUT ke-74 Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia di depan sidang bersama DPR RI dan MPR RI menegaskan untuk mencetak sumber daya manusia (SDM) yang pintar dan berbudi pekerti luhur harus didahului oleh SDM sehat dan kuat salah satunya dengan menurunkan angka stunting.

"Kita turunkan angka stunting sehingga anak-anak kita bisa tumbuh menjadi generasi yang premium," tegas Jokowi di kompleks parlemen Jakarta, Jumat (16/8).

Stunting adalah sebuah kondisi di mana tinggi badan seseorang jauh lebih pendek dibandingkan tinggi badan orang seusianya. Penyebab utama stunting adalah kekurangan gizi kronis sejak bayi dalam kandungan hingga masa awal anak lahir yang biasanya tampak setelah anak berusia duq tahun.

Pada masa pemerintahannya yang kedua bersama KH Ma'ruf Amin, Jokowi mengusung SDM Unggul, Indonesia Maju dengan meningkatkan kualitas kesehatan melalui pengembangan inovasi dan budaya hidup sehat.

Pengamat kebijakan publik Agus Pambagio mengatakan, pidato presiden menunjukkan komitmen presiden yang sangat serius terhadap kualitas sumber daya manusia Indonesia salah satunya melalui upaya penurunan angka stunting.

Baca juga : Lewat Gemar Makan Ikan, Lamongan Targetkan Zero Stunting

“Presiden berulangkali memerintahkan upaya mengatasi stunting pada anak Indonesia dan pidato kemarin menunjukkan masalah ini kembali menjadi fokus presiden dan kabinet mendatang,” jelas Agus.

Presiden pun berkali kali mendorong dilakukannya inovasi, terobosan dan kerjasama antar lembaga untuk mengatasi permasalah bangsa dan tidak menggunakan cara-cara lama, tambah Agus.

Pemerintahan Jokowi periode pertama telah berhasil menurunkan angka stunting dari 37,2% pada 2013 menjadi 30,6% pada 2018. Namun angka ini masih di atas angka 20% berdasarkan standar WHO.

Berbagai upaya dilakukan untuk menurunkan angka stunting baik melalui upaya pencegahan (preventif) maupun melalui intervensi.

Salah satu catatan penting dalam upaya mengatasi stunting adalah terobosan yang dilakukan oleh Tim Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) yang dipimpin oleh Prof DR dr Damayanti Rusli di daerah Pandeglang, Banten melalui dukungan Kementerian Desa dan Pembangunan Desa Tertinggal dan Transmigrasi (Kemendes PDT).

Awal 2018 lalu, Tim yang dipimpin oleh Prof Dr Damayanti menangani sekaligus mengamati kasus stunting di Desa Banyumundu, Kabupaten Pandeglang, Banten. Metode mereka ternyata berhasil menurunkan angka stunting sampai 8% hanya selama 6 bulan.

Tim ini bersama Kemendes telah membagikan pengalaman mereka ke berbagai instansi serta pemerintah daerah termasuk Jawa Timur.

Di Jawa Timur, tim Prof Damayanti telah berbagi dan menawarkan agar sejumlah kabupaten di provinsi ini mau menjadi pilot project pelaksanaan metode mengatasi stunting pada anak yang telah terbukti di Pandeglang.

Baca juga : Fortifikasi Pangan Turut Atasi Kekurangan Gizi Mikro

Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Dardak sangat mendukung kerjasama lintas instansi dan mendorong kepala desa, di daerah yang menjadi lokus penanganan nasional, mengalokasikan dana desa untuk mencegah stunting.

Hal ini dikemukakan oleh Wagub Jatim bulan lalu dalam acara Forum Sosialisasi Aksi Cegah Stunting yang digagas oleh Samsul Widodo Direktur Jenderal Pembangunan Desa Tertinggal (PDT), Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi yang diikuti kepala dinas dari 18 kabupaten dengan prevalensi stunting tinggi di Jatim.

"Dalam diskusi Aksi Cegah Stunting disebut 75 persen dari yang stunting kemunginan IQ-nya di bawah rata-rata. Bayangkan kalau ini terjadi di Jatim. Bagaimana kami bisa mengentas kemiskinan? Ini pekerjaan rumah yang urgent, sangat urgent," ujar Emil.

Langkah terobosan dan kerjasama yang dilakukan oleh Tim RSCM, Kemendes dan PDT dan Pemda Jawa Timur ini patut didukung oleh Pemerintah Pusat termasuk Kementerian Kesehatan dan didorong untuk diterapkan di daerah lain, kata Agus Pambagio.

“Tanpa keberanian untuk melakukan inovasi dan terobosan kebijakan dan kerjasama lintas Kementerian dan Instansi, harapan Presiden untuk menurunkan angka stunting di Indonesia bakal sulit terwujud,” tegas Agus. (RO/OL-7)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More