Sabtu 17 Agustus 2019, 16:06 WIB

Pegiat Lingkungan Minta Jokowi Evaluasi Pertamina

Cikwan Suwandi | Nusantara
Pegiat Lingkungan Minta Jokowi Evaluasi Pertamina

Antara
Tumpahan minyak mentah mencemari perairan di Karawang, Jawa Barat

 

MENYAMBUT HUT Kemerdekaan RI ke-74, sejumlah pegiat lingkungan menyatakan agar kasus pencemaran minyak mentah di Karawang, Jawa Barat tidak boleh terulang. Hal itu mengemuka dalam diskusi publik bertema Kemerdekaan Dicemari Minyak dengan menghadirkan pegiat lingkungan dari Greenpeace, Kiara, Jatamnas, Walhi Jawa Barat dan Karawang Explore.

Mereka menanggapi atas kasus pencemaran minyak mentah yang terjadi karena kebocoran sumur YYA-1 miliki Pertamina ONWJ di perairan Karawang. Para pegiat ini berharap kasus tersebut menjadi perhatian khusus Presiden Joko Widodo dalam memperbaiki sistem Badan Usaha Milik Negara (BUMN) khususnya Pertamina.

"Presiden Joko Widodo harus turun tangan dalam evaluasi permasalahan Pertamina di Karawang tersebut. Sebagai evaluasi terhadap petaka-petaka yang disebabkan oleh BUMN khususnya Pertamina," kata  Bidang Kelautan Greenpeace, Arifsyah dalam diskusi di Das Kopi, Karawang, Jumat (16/8).

Arif juga meminta agar Pertamina mengungkapkan secara pasti penyebab utama kebocoran tersebut kepada publik. Hal tersebut akan membantu dalam melakukan peningkatan evaluasi, sehingga kasus serupa tidak akan terjadi.

"Saya mendorong KLHK untuk melakukan audit terhadap sumur-sumur Pertamina," tegasnya.

Sementara itu Koordinator Jaringan Anti Tambang (Jatam) Melky Nahar meminta kasus Pertamina tidak hanya sebatas pada kompensasi. Melainkan harus ada penindakan hukum kepada Pertamina.

"Tetapi jangan ada yang dikambing hitamkan, masa yang ditahan itu kroco-kroco. Tetapi ada pejabat lebih tinggi dalam kasus ini," katanya.

Di sisi lain, Direktur Eksekutif Walhi Jabar, Meiki W Paendong mengatakan jika kebocoran YYA-1 tidak segera diatasi maka besar kemungkinan perluasan wilayah bisa ke seluruh Pantura Jabar ketika arah angin berubah.

"Seminggu setelah kejadian kita sudah peringatkan jika tumpahan bisa sampai Pulau Seribu. Kita khawatir ketika angin berubah, seluruh pantura Jabar bisa terkena dampaknya," ucapnya.

Pada bagian lain Ketua Karawang Explore Hadid Suherman  memastikan setelah melakukan penyelaman kondisi terumbu karang di Karawang masih aman. Tetapi tidak menutup kemungkinan, ketika arah angin berubah, maka ancaman untuk wilayah terumbu karang di Karawang terjadi. Pusat Studi Mitigasi Bencana UPN UniversitasPembangunan Nasional diwakili Eko Teguh Purnomo  meminta kejadian Pertamina harus menjadi pelajaran setiap investasi di Indonesia.

Menurutnya setiap investasi harus melakukan kajian dalam pengurangan risiko bencana. Namuna di Indonesia, 95% investasi tidak melihat risiko bencana. Padahal dengan melakukan investasi, pengurangan risiko bencana, akan membuat pengeluaran perusahaan jauh lebih murah.

"Kasus Pertamina di Karawang ini adalah kasus kebocoran pertama kali di Indonesia. Ini harus menjadi pelajaran penting bagi pemerintah. Bagaimana pengurangan risiko bencana harus dilakukan. Di Balikpapan itu kasusnya itu pipanya terkena jangkar kapal, kalau ini langsung pada sumurnya," katanya.

baca juga: 4 Pramuka Punguti Sampah Usai Upacara Kemerdekaan

Sementara itu Humas Pertamina ONWJ Ifki Sukarya mengaku pihaknya belum melakukan penyelidikan apa penyebab utama kebocoran tersebut. Sejauh ini pihak Pertamina masih fokus dalam penanganan untuk menutup kebocoran pada sumur. Pertamina pun memastikan akan secepatnya memberikan kompensasi kepada seluruh warga yang terdampak, termasuk pemulihan lingkungan. (OL-3)

 

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More