Sabtu 17 Agustus 2019, 15:20 WIB

Bunuh Diri Menembus Batas Profesi

Nova Riyanti Yusuf | Opini
Bunuh Diri Menembus Batas Profesi

Istimewa
Nova Riyanti Yusuf

SENIMAN erat kaitannya dengan kasus bunuh diri? Apakah benar demikian? Pada salah satu kuliah psikodinamika tentang bunuh diri, dan diperluas dengan berbagai referensi bahwa seniman erat dengan tindakan bunuh diri.

Dalam tesis yang saya tulis berjudul Aspek Biopsikososial Tindakan Bunuh Diri Pada Dua Orang Pelukis di Yogyakarta. Studi Kasus dua pelukis yang meninggal karena bunuh diri, temuan saya menunjukkan kedua pelukis tidak mempunyai anggota keluarga yang melakukan bunuh diri. Ada dugaan bahwa  pelaku  kemungkinan mengalami masalah kejiwaan seperti perilaku-perilaku halusinatorik berbicara dengan monyet (kethek) yang berada dalam botol, mood yang manik depresif, dan lain-lain.

Seniman tersebut diduga mempunyai beragam stresor, di antaranya adalah lukisan yang digoreng, hubungan dengan kekasih, dan masih banyak lagi. Warning signs menjelang bunuh diri menunjukkan karya lukis yang depresif, berbicara bahwa sudah tidak kuat lagi dengan penyakitnya, bahkan merasa tangannya digerogoti oleh belatung pada H-1 bunuh diri.
Kedua pelukis memilih gantung diri. Satu di kos-kosan tempat melukis. Satu pulang ke rumah orangtua menarik diri dari dunia keseharian di Yogyakarta dan bunuh diri di rumah orangtua. Saya pun datang ke lokasi-lokasi tempat eksekusi bunuh diri. Berusaha merekonstruksi momen-momen jelang bunuh diri. Bahkan salah satu lokasi tempat eksekusi cukup tinggi dan menjulang. Dari keterangan tetangga bahwa seniman tersebut telah dua kali membeli tali tambang. Awalnya tali tambang cukup pendek, maka kali kedua korban membeli tali lebih panjang karena kondisi rumah dengan langit-langit yang cukup tinggi.

Dengan kata lain bahwa keputusan bunuh diri membutuhkan kekuatan untuk mendestruksi diri sendiri. Bagaimana dengan reaksi keluarga? Kita sering lupa menghadapi kasus bunuh diri. Saking semangatnya kita menjadikan korban sebagai objek dan membangkitkan romantisme peristiwa, sampai lupa bahwa ada keluarga yang ditinggalkan.

Mereka perlu dihormati dalam perkabungannya. Seperti halnya keluarga kedua pelukis. Hasil penelitian saya menunjukkan bahwa satu keluarga mentransformasikan kehilangan dengan mendirikan yayasan. Sementara satu keluarga masih belum mampu menerima keadaan tersebut atau denial.

Pada 2019 ini, disertasi saya di Fakultas Kesehatan Masyarakat UI kembali diangkat untuk napak tilas ke Yogyakarta. Dalam disertasi berjudul Deteksi Faktor Risiko Ide Bunuh Diri Remaja di SLTA/Sederajat di DKI Jakarta. Bedanya penelitian ini dilakukan di Yogyakarta dan merupakan sebuah otopsi psikologis. Di Yogyakarta itu juga diadakan peluncuran buku yang ditulis keroyokan dengan judul Jiwa Sehat Negara Kuat: masa depan layanan kesehatan jiwa volume I dan II di Fakultas Kedokteran UGM.

Sebelum kegiatan tersebut, saya putuskan ke Indonesian Visual Art Archive (IVAA). Di sana saya bermaksud mencari jejak digital kedua pelukis sebagai bentuk kebaruan untuk buku bunuh diri yang saya berusaha rampungkan. Tak terelakkan dengan pengelola IVAA kami berdiskusi tentang bunuh diri termasuk fenomena Gunung Kidul dan Pulung Gantungi. Ada sebuah mitos yang berkembang di Yogyakarta bahwa bila ada yang membicarakan bunuh diri maka dikhawatirkan akan terjadi bunuh diri lagi.

Hasil penelitian aspek biopsikpsikososial yang saya lakukan pada pelukis benar-benar menunjukkan berbagai tanda yang banyak sekali saat seseorang mempunyai potensi untuk bunuh diri. Tanda-tanda yang nampak dan dipahami bisa diketahui sejak dini, apabila teman atau keluarga pernah mendapatkan edukasi tentang kesehatan jiwa atau tanda-tanda seseorang akan melakukan bunuh diri.

Setelah lahirnya Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2014 tentang Kesehatan Jiwa, sangat ditunggu terobosan Kementerian Kesehatan dalam penanggulangan gangguan kejiwaan. Penanganan kasus bunuh diri harus multi sektoral. Selain keluarga, dan teman terdekat, pemerintah dan media massa juga harus terlibat untuk bisa menekan kasus bunuh diri.

baca juga: Mabrur Sampai Akhir Hayat

Seperti Goethe pernah memperkenalkan tokoh pemuda bernama Werther yang bunuh diri. Dan tidak lama kemudian penggemar Werther ikut bunuh diri. Sejak saat itu muncul istilah Werther Effect. Untuk itu terkait kasus bunuh diri, media massa pun harus bisa mewartakan dengan jurnalisme empati.

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More