Jumat 16 Agustus 2019, 23:00 WIB

Mengenal Gejala Sindrom Makan Malam

Torie Natalova | Humaniora
Mengenal Gejala Sindrom Makan Malam

(Foto: Pixabay)
Penderita sindrom ini juga banyak mengonsumsi makanan tinggi karbohidrat seperti pasta. (Foto: Pixabay)

 

Sindrom makan malam punya kesulitan sarapan. Mereka juga mungkin menderita insomnia. Dan menurut psikolog, mereka yang mengalami sindrom ini biasanya memiliki masalah berat badan.
Jakarta: Orang yang menderita sindrom makan malam mungkin sulit untuk makan pada pagi hari. Mereka lebih sering memiliki keinginan kuat untuk makan antara makan malam dan tidur. Mereka yang mengalami ini mungkin juga menderita insomnia.
 
Penderita sindrom makan malam akan sering terbangun saat malam untuk makan karena keinginan makan yang tak terkendali. Keinginan makan yang besar hanya terjadi pada malam hari. Pagi atau siang hari, mereka kurang nafsu makan atau tidak makan karena sedang menjalani diet ketat.

Keinginan makan pada malam hari yang besar sebenarnya merupakan masalah serius. Ada dua karakteristik dasar penderita sindrom makan malam ini. Pertama, mereka akan makan sejumlah besar makanan, jauh lebih besar dari apa yang dikonsumsi seseorang dalam keadaan yang sama.
 
Kedua, ada perasaan kurang terkendali. Mereka seperti tidak dapat berhenti makan atau kurang kendali ketika melihat makanan. Penderita sindrom makan malam sering mengalami kesulitan mengendalikan emosi mereka dan seringkali mengalami serangan panik seperti kegelisahan, depresi, insomnia, rasa percaya diri yang rendah.
 
Menurut beberapa psikolog, orang yang mengalami sindrom makan malam biasanya memiliki masalah berat badan. Ini kemungkinan karena mereka makan pada saat mereka seharusnya sudah tidur.
 
Sekitar 20 persen orang gemuk mengaku merasa jauh lebih baik dan puas saat makan pada malam hari. Namun, meski kondisi ini jauh lebih umum terjadi pada orang dengan kelebihan berat badan, kondisi ini dapat mempengaruhi siapa saja.
 
Gejala dan pola kondisi ini jelas dan sering diulang di antara mereka yang memiliki kelainan makan. Selain kurang nafsu makan pada siang atau pagi hari, gejala lainnya seperti penderita sindrom lebih energik saat pagi hari, serta mengalami gangguan tidur.
 
Penderita sindrom ini juga banyak mengonsumsi makanan tinggi karbohidrat seperti permen, kue kering, roti, nasi dan pasta. Mereka juga biasanya sadar bahwa dirinya bermasalah. Karena itu, mereka sering merasa tertekan dan malu pada diri sendiri. Kondisi ini dapat memburuk ketika mereka sedang stres.
 
Terapi dapat membantu Anda mengetahui penyebab pasti dari kebiasaan makan yang tidak sehat dan juga membantu Anda mengatasinya. Penyebab pasti sindrom ini belum diketahui pasti, karenanya terapi merupakan cara terbaik untuk mengatasi sindrom ini.
 
Terapi diperlukan untuk penderita sindrom agar dapat memahami dari mana perasaan cemas datang dan mengapa mereka mencoba menenangkan diri dengan makan. Kondisi ini juga biasanya memerlukan dukungan multidisiplin dari para profesional di bidang psikologi, psikiatri, dan nutrisi.(medcom/OL-09)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More