Jumat 16 Agustus 2019, 13:15 WIB

Semerbak Aroma Cengkih di Pulau Pisang

Eva Pardiana | HUT RI
Semerbak Aroma Cengkih di Pulau Pisang

ANTARA/GATOT ARIFIANTO
menunjukkan cengkih yang sedang dijemurnya, di Waymengaku, Balikbukit, Lampung Barat

 

PULAU Pisang merupakan satu wilayah kecamatan di Kabupaten Pesisir Barat, Provinsi Lampung, dengan enam pekon (desa) ialah daerah terluar yang dikelilingi Samudra Hindia.

Walau bernama Pisang, di pulau tersebut ternyata tidak tampak banyak tanaman pisang. Untuk mencapainya, harus menempuh perjalanan sekitar 20 kilometer menggunakan perahu, dari daratan melalui Pelabuhan Kuala Stabas di Krui. Waktu tempuh sekitar 1 jam, bahkan lebih jika kondisi cuaca kurang bersahabat.

Bisa juga melalui Pelabuhan Tembakak dengan waktu tempuh lebih cepat, yakni maksimal 20 menit. Namun, jarang yang melalui pelabuhan tersebut lantaran jauh dari pusat kota atau aktivitas perekonomian.

Terkait dengan asal-usul nama Pulau Pisang, beragam sumber yang ditemui di pulau tersebut menyebutkan ada dua versi. Pertama, dulu di pulau ini banyak tanaman pohon pisang hutan, dan kedua bahwa orang yang pertama kali ke pulau tersebut menggunakan rakit berbahan pohon pisang.

Versi pertama tidak diperkuat dengan bukti, seperti banyak tanaman pisang. Versi kedua pun sulit telusuri untuk dibuktikan kebenarannya. Yang jelas, Pulau Pisang sekarang dipenuhi tanaman cengkih dan kelapa sebagai komoditas perkebunan utama bagi penduduk setempat.

Saat ini, petani setempat sedang panen cengkih. Begitu menginjakkan kaki di pantai berpasir dengan deburan ombak tinggi, tercium semerbak aroma cengkih yang dijemur. Banyak warga di setiap pekon (desa) menjemur cengkih di halaman rumah atau di tepi jalan.

Sebagian penduduk lainnya memilih mata pencarian sebagai nelayan. Target utama tangkapan mereka ialah ikan blue marlin yang disebut warga setempat 'iwa tuhuk'.

Beberapa tahun lalu, cengkih dari pulau tersebut terkenal kualitasnya. Peratin (Kepala Pekon/Desa) Sukadana, Yoserizal, mengatakan era keemasan cengkih pernah dirasakan penduduk setempat hingga semua kebun milik warga baik yang berada di Pulau Pisang maupun di Pulau Sumatra mayoritas ditanami jenis rempah-rempah itu.

"Kami dulu punya pohon cengkih tumbuh sangat besar di daratan Sumatra, batangnya saja untuk dipeluk tangan kita tidak bisa bertaut. Untuk panennya bisa memakan waktu lima belas hari," ujar Yoserizal mengenang masa itu.

Namun, semua itu tinggal kenangan lantaran seluruh pohon cengkih tersebut mati secara serentak. Meski demikian, seperti sebagian warga pulau tersebut, keluarganya mencoba kembali menanam pohon cengkih. Hasilnya cukup baik, meski tidak sebagus dahulu.

Syarnawi, 65, warga Pulau Pisang, mengungkapkan setelah menebangi pohon cengkih yang mati terkena penyakit, sejumlah petani mulai beralih ke tanaman kelapa, termasuk dirinya.

Syarnawi mulai menanam 300 batang kelapa pada lahan seluas satu hektare. Ia mengaku lupa tahun berapa mulai menanam kelapa. Syarnawi hanya bisa memastikan saat ini sudah panen keempat dari hasil jerih payahnya menanam kelapa.

Hasil panen terbesar yang pernah ia peroleh mencapai empat pikul atau sekitar 400 kilogram dengan harga jual kala itu Rp100 ribu per kg. Dengan uang hasil jual panen, ia membeli rumah permanen dari bata dan diplester yang termasuk mewah di pulau tersebut.

 

Tanpa pupuk

Kendati berfokus pada tanaman kelapa, Syarnawi juga masih menanam cengkih. Syarnawi yang kini menderita stroke ringan menuturkan bahwa tanaman cengkih miliknya dan warga umumnya tidak mendapat asupan pupuk ataupun pestisida untuk membasmi hama dan penyakit.

Menurut dia, tidak ada hama atau penyakit yang menyerang tanaman cengkih mereka. Mungkin, lanjut Syarnawi, karena Pulau Pisang berpasir dan panas sehingga jamur tidak sempat tumbuh dan berkembang.

Dia mengakui tanaman cengkih era dulu besar-besar karena dipupuk. Pemupukannya dengan cara digali sekitar 30 sentimeter di sekitar pokok tanaman tersebut. Syarnawi memperkirakan pemupukan seperti itu merusak perakaran. Hal itu pula yang sangat mungkin menjadi salah satu penyebab kematian.

"Dulu ketika pohon cengkih yang besar masih ada, untuk panen satu pohon saja bisa memerlukan waktu lima hari lantaran lebatnya bunga," terang dia.

Syarnawi tidak memanen sendiri tanaman cengkihnya. Pemetikan atau panen bunga cengkih diserahkan kepada orang lain dengan sistem bagi hasil. Pemilik kebun mendapatkan dua bagian, sedangkan pemetiknya satu bagian.

Asbin Nasution yang juga menantu Syarnawi mengatakan, dirinya turut menanam kembali pohon cengkih pascakematian massal tanaman cengkih di Pulau Pisang. "Ini sisa dari kegigihan warga dengan menanam kembali pohon cengkih. Alhamdulillah tanamannya kini tumbuh baik tanpa adanya pemupukan, apalagi penyemprotan menggunakan pestisida untuk membasmi hama dan penyakit," paparnya.

Asbin juga menjadi pengepul bunga cengkih kering. Ia menampungnya dengan harga Rp77 ribu per kilogram. Kemudian, diangkutnya ke daratan untuk Pulau Sumatra dan dijual di sana sekitar Rp84 ribu per kg. Untuk mengangkut, Asbin menggunakan jasa perahu motor dengan ongkos Rp10 ribu per 100 kg.

Hasil panen tanaman cengkih dan mengepul bunga cengkih, menurut Asbin, bisa untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari dan ditabung hingga panen mendatang. Bahkan, untuk biaya pendidikan anak yang merantau ke tempat lain ditopang dari hasil tanaman cengkih itu. (P-2)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More