Jumat 16 Agustus 2019, 08:59 WIB

Olah Limbah Kayu, Solusi Atasi Pembakaran Lahan

Media Indonesia | HUT RI
Olah Limbah Kayu, Solusi Atasi Pembakaran Lahan

DOK. KLHK
Manggala Agni sedang membuat cuka kayu dari hasil limbah kayu melalui proses pemanasan tanpa atau sedikit oksigen atau pereaksi kimia laiN

 

UPAYA menekan angka kebakaran lahan dan hutan terus dilakukan. Pemerintah (Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Badan Nasional Penanggulangan Bencana, TNI/Polri), maupun masyarakat terus mengedepankan pencegahan.

Seperti Kementerian Kehutanan dan Lingkungan Hidup (KLHK) membuat inovasi yang menghasilkan nilai ekonomi bagi masyarakat, yaitu mengelola pembakaran kayu tebangan dan mengolahnya menjadi cuka kayu.

Sejak 2016, Presiden Joko Widodo memerintahkan semua pihak untuk memprioritaskan pencegahan, mulai perbaikan sistem deteksi, satelit hot spot, hingga berbaur dan mengedukasi masyarakat melibatkan kepala desa dengan patroli terpadu.

"Semua pihak mulai melakukan persuasi upaya pencegahan. Warga diedukasi bagaimana membuka lahan yang bagus tanpa membakar. Yang penting lagi sebenarnya saat ini harus ada inovasi dari pemerintah, memberi solusi ke masyarakat dari pelaran-gan membakar hutan saat mereka mau mem-buka lahan," ujar Direktur Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan KLHK, Raffl es Brotestes Panjaitan, kepada Media Indonesia, Selasa (30/7).

Akhirnya, beberapa anggota Manggala Agni dengan latar belakang keahlian dan pengetahuan teknologi pun melakukan modifikasi terhadap alat-alat maupun temuan-temuan baru untuk mencegah terjadinya pembakaran hutan dan lahan.

Mereka menciptakan alat pengolahan kayu bakar menjadi cuka kayu. Caranya dengan menggunakan drum bekas, freon bekas untuk proses pirolisis, yaitu dekomposisi termokimia bahan organik (kayu) melalui proses pemanasan tanpa atau sedikit oksigen atau pereaksi kimia lainnya. Material mentah akan mengalami pemecahan struktur kimia menjadi fase gas.

Cuka kayu (wood vinegar) ialah produk cair hasil kondensasi (pengembunan) asap dari proses pengarangan kayu.

Cuka kayu mengandung senyawa kimia yang didominasi asam bermanfaat seba-gai bahan untuk menyuburkan tanah. Senyawa tersebut memacu pertumbuhan dan menguatkan akar tanaman, meningkatkan kualitas dan memperbanyak buah hingga 70%, serta meningkatkan jumlah mikroba baik bagi tanah dan tanaman.

"Yang sedang kami tingkatkan skalanya, yaitu mengenai pemanfaatan sisa kayu dari lahan masyarakat dijadikan cuka kayu. Ini akan menjadi pupuk kimia untuk tanaman.

Sudah ada beberapa demonstration plotnya Kalimantan Barat, Tengah, dan Jambi, dan ini berhasil," kata Raffles.Menteri LHK ingin menjadikan temuan tersebut disosialisasikan kepada desa-desa untuk diproduksi massal."Saat ini proses untuk men-scale up dalam bentuk teknologi sedang dikomunikasikan dengn BPPT," kata Raffl es.

Dalam pembuatan alat sederhana terse-but, kata dia, dibutuhkan biaya mulai Rp1,5 juta hingga Rp3 juta per alat dengan waktu kurang dari sebulan. Pada setiap kurang lebih 2sm (stapple meter) kayu yang dibakar akan menghasilkan 20 liter cuka kayu.

Bahan baku cuka kayu bisa berasal dari limbah biomassa perkebunan sepem tempurung kelapa, tandan kelapa sawit, dan kulit buah durian.Limbah biomasa kehutanan juga bisa digunakan, seperti kayu kecil, bambu, serbuk gergaji, tatal kayu dan sebetan, kulit buah mahoni, dan serasah.

Limbah biomassa tersebut apabila dibiarkan berpotensi menjadi bahan yang memudahkan pembakaran terutama saat musim kemarau. Bila dimanfaatkan menjadi cuka kayu, selain mengurangi risiko kebakaran hutan dan lahan, juga dapat memberikan alternatif penghasilan. Dengan cara itu, masyarakat yang membakar tebangan kayu-kayu mereka bisa mengolahnya yang memberi nilai bila diolah menjadi sesuatu yang menghasilkan uang dan bermanfaat.

"Tiap liternya seharga Rp10 ribu. Kalau masyarakat lebih paham mengelola kayu mereka, tentu menjadi pendapatan. Kami sedang upayakan hasil cuka kayu ada yang menerima. Sudah kami jajaki dengan Pupuk Kaltim. Mereka bersedia menerima cuka kayu untuk dijadikan bahan pupuk juga," tukas Raffles. (Try/S1-25)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More