Jumat 16 Agustus 2019, 08:35 WIB

Pendidikan Bahasa dan Sastra Bangun Insan Cerdas

(S5-25) | HUT RI
Pendidikan Bahasa dan Sastra Bangun Insan Cerdas

Ist
Ganjar Harimansyah

 

PENDIDIKAN bahasa dan sastra dalam konteks pendidikan nasional sangat dibutuhkan sebagai sarana membangun insan Indonesia yang cerdas dan komprehensif pada era kompetisi global saat ini. Karena itu, pendidikan bahasa dan sastra tak cukup hanya mengandalkan segi-segi taktis seperti perubahan pengajaran ataupun pengembangan kurikulum. Hal itu juga harus disertai dengan pengembangan sumber daya guru dan pemerkayaan khazanah bacaan/ buku bahasa dan sastra. 

“Yang juga mendasar ialah bagaimana mengajarkan keterampilan berbahasa dan mendayagunakan teks bahasa dan sastra, bukan apa yang dilakukan dengan struktur bahasa dan teks sastra itu,” kata Kepala Bidang Pelindungan Bahasa dan Sastra, Badan Pengembangan Bahasa dan Perbukuan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) Ganjar Harimansyah melalui keterangannya, kemarin. 

Ia menjelaskan pendidikan bahasa dan sastra bukan sekadar mengajarkan struktur bahasa atau cerita, permainan bahasa, atau memberikan pengetahuan tentang pola kalimat atau jenis-jenis sastra, angka tahun, serta nama-nama untuk dihapalkan, sebab bahasa dan sastra bukan hanya tulisan dan lembaran-lembaran kertas. “Bahasa dan teks sastra sebagai sumber pendidikan harus dilihat sebagai bentuk nyata penggunaan bahasa yang potensial,” ujarnya. 

Dalam hal ini, ia mengutip pesan sastrawan Taufi k Ismail, bahwa untuk mencapai kemajuan di bidang pendidikan bahasa dan sastra, pendidikan bahasa dan sastra harus dilakukan secara komprehensif. Ia menjabarkan ada beberapa langkah yang perlu dilakukan untuk memberikan pendidikan bahasa dan sastra secara komprehensif. Pertama, defi nisikan ulang materi bahasa dan sastra yang harus diajarkan di sekolah. “Banyak mazhab yang berbicara tentang kurikulum mengenai apa yang seharusnya diberikan kepada peserta didik, tetapi yang terpenting kita dapat memadukan teori-teori terbaik dari sistem-sistem yang telah terbukti berhasil,” kata dia.

Misalnya, teori-teori struktural dalam lingusitik dan strukturalisme sastra yang masih dominan di sekolah-sekolah dipadukan dengan teori psikolinguistik dan psikologi sastra, sosiolinguistik dan sosiologi sastra, atau antropolinguistik dan resepsi sastra, dan lain-lain. Selanjutnya, polakan kurikulum dalam empat bagian, dengan penilaian diri dan pelatihan keterampilan hidup sebagai komponen kunci yang menekankan pada citra diri dan perkembangan pribadi, pelatihan keterampilan hidup, belajar tentang cara belajar dan berpikir, serta kemampuan-kemampuan akademik-intelektual dan artistik yang spesifik. 

“Setiap aspek tersebut dapat disatupadukan untuk saling mendukung dan melengkapi pendidikan sastra,” ujarnya. Hal lainnya ialah definisikan ulang tempat-tempat terbaik untuk pengajaran sehingga bukan hanya di sekolah atau ruang kelas. Misalnya, peserta didik perlu diajak menampilkan drama singkat di luar ruang kelas atau berdiskusi, berdebat, bermain peran, atau menonton pembacaan puisi dan mendiskusikannya. “Terakhir, pelajari komputer dan internet. 

Di abad ke-21 ini, penggunaan komputer dan internet tidak saja untuk ilmu-ilmu eksakta, sastra pun bisa menggunakan media ini terutama untuk membantu pembelajaran menulis karya sastra dan pemerkayaan kosakata peserta didik,” terang Ganjar.

Pembelajaran bahasa Ganjar melanjutkan, pembelajaran bahasa dan sastra yang baik akan dapat melahirkan peserta didik yang terampil menggunakan bahasa secara baik sekaligus mendorong siswa untuk gemar membaca. “Banyak penelitian yang membuktikan bahwa peserta didik yang kemampuan bahasanya tinggi adalah mereka yang banyak membaca. Ada hubungan yang erat antara kebiasaan membaca dan peningkatan kecerdasan bahasa,” kata dia .

“Pembelajaran bahasa dan sastra juga dapat dijadikan sebagai sarana mengajarkan keterampilan hidup jika prosesnya tidak hanya terbatas kecakapan teoretis, tetapi juga kecakapan sosial, intelektual, dan akademik sehingga diharapkan mampu menjawab tantangan dan kebekuan proses pendidikan yang selama ini hanya teks bookthinking semata,” ucap dia. 

Ia menerangkan konsep yang ditawarkan Kemendikbud tentang keterampilan hidup (lifeskill) ini sebenarnya sudah lama jadi angan-angan praktisi pendidikan dengan harapan mampu membentuk perubahan pola pikir, yaitu suatu inovasi pembelajaran yang dapat membantu peserta didik memahami teori secara mendalam melalui pengalaman belajar praktik-empirik. 

Dengan membawa konsep keterampilan hidup dalam pembelajaran bahasa dan sastra, secara langsung maupun tak langsung akan memunculkan daya kritis peserta didik. Karena itu, dibutuhkan inovasi oleh guru, termasuk inovasi-inovasi dalam pengujiannya. “Inilah makna kompetensi dalam pembalajaran bahasa dan sastra, yaitu menumbuhkan keyakinan untuk mampu melakukan sesuatu, yakni melibatkan peserta didik untuk mengambil bagian dalam program keterampilan hidup (lifeslifeskill),” tutup Ganjar. (S5-25)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More