Jumat 16 Agustus 2019, 08:15 WIB

Paskibraka, Salah Satu Cara Membentuk Kepemimpinan

(Des/ S1-25) | HUT RI
Paskibraka, Salah Satu Cara Membentuk Kepemimpinan

MI
Anggota Paskibraka atau Pasukan Pengibar Bendera Pusaka

 

BANYAK anak muda berkeinginan untuk menjadi anggota Paskibraka atau Pasukan Pengibar Bendera Pusaka tingkat nasional. Tidak sedikit di antara mereka berjuang dengan mengumpulkan sejumlah prestasi untuk masuk menjadi pasukan pengibar bendera di Istana Negara, Jakarta itu. 

Anggota Paskibraka merupakan perwakilan dari daerah masing-masing atau 34 provinsi. Deputy II Bidang Pengembangan Pemuda, Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora), Asrorun Niam Sholeh mengungkapkan, sejarah terbentuknya Paskibaraka diawali pada peristiwa kemerdekaan, yakni Proklamasi Kemerdekaan RI yang berlangsung 17 Agustus 2019. 

Saat HUT Republik Indonesia pertama, yang dilangsungkan di Yogyakarta. Presiden Soekarno menginisiasikan untuk membuat upacara pengibaran bendera secara khitmat, khusyuk dan baik. Akhirnya hal itu pun pertama kali dipercayakan kepada Habib Husain Muntahar. “Akhirnya dibentuklah Paskibraka yang pada awalnya hanya berjumlah lima orang. Kemudian, belakangan setelah pindah ke Jakarta dibuat parade model pasukan 17 pasukan 8 pasukan 45 yang mencerminkan secara folosofi s 17 Agustus 1945. 

Direktur dari anak-anak muda dan ini lagilagi menjadi bentuk komitmen kepada kepemimpinan pemuda yang sudah dipikirkan oleh founding fathers kita (Presiden Soekarno),” ungkap Asrorun saat ditemui di Gedung Kemenpora, Selasa (14/8). Hingga kini pasukan Paskibraka terdiri anak-anak muda dengan latar belakang pendidikan sekolah menengah atas dalam rentang usia 16 hingga 17 tahun.

“Di balik komitmen pembentukan Paskibraka, ada semangat kepemimpinan kaum muda, kemudian semangat partisipasi. Karena saat pengibaran Sang Saka Merah Putih, itu seluruh mata tertuju pada mereka. Kekhusyukan, kekhidmatan, kebanggaan semuanya akan bercampur di detik-detik puncak proklamasi. 

Kemudian, Kemenpora memperoleh amanah untuk melakukan pendidikan dan pelatihan Capaska (Calon Paskibraka) di tingkat Nasional,” lanjutnya. Untuk itu, kata Asrorun, Kemenpora selalu memastikan bahwa calon-calon anggota Paskibraka harus berasal dari anak-anak muda Indonesia terbaik, terlepas apapun suku, bahasa, budaya, dan agamanya. Selain itu, mekanisme perekrutan pasukan Paskibraka harus berdasarkan kompetensi, kapabilitas serta integritas. 

Maka dari itu, Kemenpora secara khusus meminta bantuan kepada TNI dan Polri untuk melakukan mekanisme seleksi yang bersifat independen. “Kita sama sekali tidak memberikan campur tangan, kita hanya menyiapakn instrumen untuk proses recruiting, pelibatan semaksimal mungkin peserta untuk mengikuti seleksi, tidak membedakan apa itu sekolah umum atau sekolah agama, tidak membedakan sekolah negeri atau swasta,” tambah Asrorun. Bahkan , t ambahnya , pihaknya berupaya mengimbangi keseriusan Istana dalam menyiapkan Paskibraka sesempurna mungkin. “Pak Mensesneg, Pak Kasetpres sangat detil. Jadi saya harus bisa mengimbangi.”

Secara profesional
Pada 2019, Asrorun mengungkapkan, Deputy II Bidang Pengembangan Pemuda bersama Dirjen Pendidikan Dasar dan Menengah Kemdikbub, Dirjen Pendidikan Islam Kementerian Agama membuat surat edaran bersama mengenai kegiatan rekruting calon Paskibraka Nasional (Capaska). “Anak-anak yang sudah terseleksi dari kabupaten/ kota mereka diseleksi lagi, dipilih mewakili provinsinya kemudian dididik dan dilatih di tingkat Nasional. Jadi kita terimanya sudah melalui mekanisme seleksi,” kata Asrorun. 

Dalam mekanisme pelatihan Capaska, Asrorun memastikan bahwa sistem pelatihannya dilakukan secara profesional. Pelatihan yang dilakukan mulai dari fi sik, nonfi sik, mental, medis, proses pengamatan dan lainnya. “Hal yang paling penting ialah tidak akan ada bullying, itu yang paling kita tekankan. Kita tempatkan senior sebagai pendamping, tidak menjadi pelatih inti. Mereka hanya memberikan arahan, sukses story dan memberikan evaluasi,” tambahnya. 

Asrorun mengatakan bahwa Kemenpora berkomitmen untuk memberikan pendidikan pelatihan Paskibraka tidak hanya mengenai fisik dan baris-berbaris, tapi juga mental, sikap, menghargai antarsesama. Hal itu menjadikan dasar terbentuknya hakikat kepemimpinan di dalam proses pelatihan Paskibraka. “Kepemimpinan yang bersifat individu, di situ ada tanggung jawab masing-masing. Sekalipun ada kesempatan untuk istirahat, tapi kalau bukan jam instirahat, dia tidak ambil waktunya. 

Kemudian ada kepemimpinan yang bersifat kolektif, dia sadar kapan dia mampu kapan tidak, kapan dia berposisi di kanan, kapan di kiri, kapan menjadi kepala, kapan menjadi kaki,” ungkap pria yang biasa disapa Niam tersebut. Hal itu, lanjutnya, dilakukan dengan penuh kesadaran. 

Tidak hanya soal rebutan menjadi pemimpin, tapi harus mengukur diri masingmasing. “Setiap mereka siap jadi pemimpin, setiap mereka juga siap untuk dipimpin,” lanjutnya. Menjelang HUT Republik Indonesia yang sudah di depan mata, Asrorun mengatakan, saat ini sudah terseleksi sebanyak 68 anggota Paskibraka yang mewakili 34 provinsi. Mekanisme seleksi dari Paskibraka ini dikatakan sangat ketat. Para anggota Paskibraka tidak dilihat dari asal usul mereka, yang memiliki kompetensi dan kapabilitas kuat yang akan terpilih. 

Karenanya, pasukan Paskibraka sangat beragam, mulai dari anak dari seorang mantan Kapolri, sampai anak TKW. “Kita tidak melihat latar belakang sosial dan ekonomi. Itu tidak menjadi pertimbangan, yang penting kompetensi dan kapabilitas. Setiap tahun kita lakukan evaluasi dan alhamdulillah terus membaik, baik itu dari sisi materi peserta, sisi fi sik, alhamdulillah perbaikan terus dilakukan,” tambah Asrorun.

Saat ini, para peserta Paskibraka telah melakukan latihan mandiri dan juga latihan dengan TNI. Kini mereka juga melangsungkan latihan gladi resik di Istana Negara untuk menjaga atmosphere lokasi yang sakral bagi diri mereka masing-masing.  Asrorun pun menyebutkansalah satu alumni pasukan Paskibraka yang bisa menjadi contoh bagi para anak muda, yakni Presiden ke-5 Indonesia Megawati Soekarnoputri. Anak dari Presiden Soekarno tersebut telah tumbuh dengan penanaman nilai-nilai kepemimpinan sejak dini. 

Penanaman nilai-nilai nasionalisme, kedisipinan dan kepemimpinan, akan menjelma menjadi kesadaran kolektif dalam diri para pemuda. “Itulah hakikat pembentukan karakter sejak dini, itu menjadi sangat penting. Kita bisa lihat hasilnya. Kepemimpinan yang kuat, berkarakter, yang bisa diterima. Kuncinya kan itu, kepemimpinan yang sebenarnya enggak cukup hebat kalau enggak diterima komunitas masyarakat dan enggak bakal sukses jadi pemimpin. Beliau hebat kapasitas individunya dan bisa diterima karena punya jiwa kepemimpinan yang kuat. Tanpa diminta tunduk masyarakat pun akan tunduk sendiri,” tutup Asrorun. (Des/ S1-25)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More