Jumat 16 Agustus 2019, 07:30 WIB

Hutan Kalsel semakin Lebat

DENNY SUSANTO | HUT RI
Hutan Kalsel semakin Lebat

MI/Denny saputra
Kawasan hutan perawan Pegunungan Meratus di Kalimantan Selatan. Gencarnya eksploitasi sumber daya hutan

 

MINGGU, 21 Juli lalu, panas belum menyengat di Kota Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Gubernur Sahbirin Noor dan sejumlah anak buahnya sudah bersiap di sejumlah titik, mulai Banjarmasin hingga Kabupaten Kotabaru. Di tangan mereka sudah tersedia puluhan ribu batang bibit tanaman. 

Tanpa jeda, tanaman itu sudah berpindah tangan ke warga yang lewat, dibagikan gratis. Inilah salah satu aksi Gubernur Kalimantan Selatan dan jajarannya dalam mengawal program Revolusi Hijau. Sejak menjabat gubernur pada 2016, langsung menggebrak soal perbaikan lingkungan dan hutan di wilayahnya dengan program Revolusi Hijau. Program ini ternyata juga diapresiasi pemerintah pusat. 

Rabu (14/8), saat berkunjung ke Kali mantan Selatan, Wakil Menteri Luar Negeri Abdurrahman M Fachir mengungkapkan, pemerintah pusat telah menjadikan Revolusi Hijau sebagai percontohan program pelestarian lingkung an untuk ditonjolkan di dunia internasional. Indonesia menjadi pusat perhatian dan berperan penting dalam pelestarian lingkungan hidup di dunia saat ini. 

“Program Revolusi Hijau yang digalak kan Pemprov Kalsel kini menjadi percontohan bagi provinsi lain dan akan kami bawa untuk ditunjukkan Indonesia ke dunia luar,” ungkapnya saat melakukan penanaman pohon langka jenis ulin di areal miniatur hutan hujan tropis kawasan perkantoran Pemerintah Provinsi Kalsel di Banjarbaru.

Atasi lahan kritis
Sebelumnya, Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK), Siti Nurbaya, juga mengatakan pemerintah akan menjadikan program Revolusi Hijau sebagai program nasional bidang kehutanan. Pemerintah memberikan apresiasi atas kemajuan konservasi dan rehabilitasi hutan dan lahan kritis di Kalsel yang dinilai cukup cepat di Indonesia. 

“Pemerintah saat ini mencoba membangun kawasan hutan dengan melibatkan masyarakat. Kawasan hutan dikembangkan sebagai akses usaha masyarakat melalui konsep perhutanan sosial, pengembangan hasil hutan bukan kayu, jasa lingkungan, dan aktualisasi hutan adat,” jelas Menteri. 

Gubernur Kalsel Sahbirin Noor mengatakan, Revolusi Hijau dilaksanakan dengan penanaman pohon besar-besaran guna mengurangi lahan kritis, pemulihan daerah aliran sungai, serta pemberdayaan masyarakat sekitar hutan. Program itu telah berhasil mengurangi luas lahan kritis di Kalsel dari 649.000 hektare menjadi 511.000 hektare dalam tiga tahun terakhir. 

Kalsel menargetkan pemulihan kerusakan kawasan hutan dan lahan ini sebagai bagian upaya menjadikan daerah tersebut sebagai salah satu paru-paru dunia. Saat ini indeks kualitas lingkung an hidup Kalsel meningkat dari posisi 26 menjadi 19. “Revolusi Hijau menciptakan hutan dan potensi di dalamnya sehingga dapat menyejahterakan masyarakat dengan mengedepankan pelestarian lingkungan. Seiring kegiatan rehabilitasi hutan dan lahan, Kalsel terus mengembangkan potensi hasil hutan dan kayu,” tambah Kepala Dinas Kehutanan Kalsel, Hanif Faisol Nurofi q.

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More