Jumat 16 Agustus 2019, 00:00 WIB

Mengefisienkan Litbang demi Kesuksesan Industri di Era 4.0

Zubaedah Hanum | HUT RI
Mengefisienkan Litbang demi Kesuksesan Industri di Era 4.0

ANTARA FOTO/Muhammad Iqbal
Peneliti dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) menunjukan sabut kelapa yang bisa menghasilkan energi listrik hasil temuannya

 

UPAYA menciptakan sumber daya manusia (SDM) dengan output yang lebih efisien lewat penelitian dan pengembangan (litbang) menjadi kunci sukses untuk bisa sampai di fase revolusi industri 4.0. 
Sesungguhnya, cita-cita itu bukan semata menjadi urusan pemerintah, tetapi menjadi tugas bersama anak bangsa.

“Yang perlu diperbaiki ke depan ialah, pertama visi bersamanya antara balai industri dan pemerintah. Bagaimana menciptakan SDM dengan output yang lebih efisien,” tegas Ketua Umum Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) Ade Sudrajat saat ditemui di acara Bandung Riset Expo (Bandrex) 2019 di Kota Bandung, Jawa Barat, pekan lalu.

Secara jujur, ungkapnya, selama ini riset yang dilakukan 24 balai besar industri yang berada di dalam lingkungan Kementerian Perindustrian (Kemenperin) sebagian besar berada di belakang industri atau tertinggal. “Industrinya sudah maju ke depan, tapi balai industri masih di belakang,” tuturnya.

Ade pun berharap balai industri ke depan bisa memikirkan satu langkah lebih maju daripada dunia usaha dengan memotong proses industri menjadi lebih efisien. 

“Bagaimana agar yang tidak terpikir oleh industri bisa dipikirkan balai. Untuk memotong proses jadi efisein, tentunya butuh satu komunikasi intens antara balai dan industri. Biar match. Nanti setelah visi manusianya antara pemerintah dan industri sama, baru kita upgrade alatnya,” imbuh Ade yang sudah tiga periode menjabat sebagai Ketua Umum API itu. 

Menurutnya, efisiensi litbang industri itu tidak akan tercapai jika jumlah balai besar industri masih ‘gemuk’ seperti sekarang ini. Sebab, sumber daya yang ada baik anggaran, alat, maupun manusianya akan terpencar-pencar.
Berdasarkan peta jalan Making Indonesia 4.0, industri tekstil dan produk tekstil (TPT) merupakan satu dari lima sektor yang mendapatkan prioritas pengembangan dalam kesiapan memasuki era industri 4.0. Industri TPT nasional dinilai kian kompetitif di kancah global karena struktur manufakturnya sudah terintegrasi dari hulu sampai hilir.

Selain TPT, empat sektor lain yang mendapat prioritas ialah industri makanan dan minuman, industri kimia, industri otomotif, serta industri elektronika. Selama ini, lima sektor industri itu mampu memberikan kontribusi sebesar 60% untuk PDB, kemudian menyumbang 65% terhadap total ekspor, dan 60% tenaga kerja industri ada di lima sektor tersebut.

Alat atau SDM?
Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Industri (BPPI) Kemenperin, Ngakan Timur Antara, mengatakan pihaknya terus mendorong kegiatan penelitian, pengembangan, dan perekayasaan (litbangyasa) yang dapat memacu produktivitas dan daya saing industri nasional. Tidak hanya untuk menjawab kebutuhan industri saat ini, tapi juga menggenjot ekspor dan substitusi impor, serta meningkatkan nilai tambah komoditas dalam negeri.

“Pemerintah terus mendorong terciptanya inovasi agar industri nasional dapat terus maju dan berdaya saing global. Langkah strategis ini sesuai program prioritas yang ada di dalam roadmap Making Indonesia 4.0,” katanya.

Salah satu bukti konkretnya ialah terbitnya Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 45 Tahun 2019 tentang Penghitungan Penghasilan Kena Pajak dan Pelunasan Pajak Penghasilan dalam Tahun Berjalan. Lewat PP ini, wajib pajak badan dalam negeri yang melakukan kegiatan penelitian dan pengembangan tertentu di Indonesia dapat diberikan pengurangan penghasilan bruto paling tinggi 300%. 

Inovasi pada peta jalan implementasi industri 4.0 di Indonesia memainkan peran yang sangat penting. Bahkan salah satu aspirasi yang ingin dicapai ialah meningkatnya kegiatan litbang di dalam negeri, yang diharapkan didukung dengan porsi anggaran litbang yang proporsional, yaitu minimal 2% dari total anggaran nasional. 

“Semakin meningkatnya peranan inovasi litbang, semoga dapat membantu mewujudkan misi untuk menjadikan Indonesia sebagai 10 besar ekonomi dunia di 2030, yang ditandai dengan meningkatnya kontribusi net ekspor sektor industri sebesar 10% terhadap PDB dan peningkatan produktivitas hingga dua kali lipat,” papar Ngakan.

Menurutnya, diperlukan pemanfaatan teknologi terkini untuk dapat mencapai inovasi itu, antara lain teknologi berupa artificial intelligence (AI), advanced robotic, internet of things (IoT), 3D printing, dan augmented reality/virtual reality (AR/VR).

Namun, Ade Sudrajat memiliki pandangan berbeda. Untuk bisa memenangi era 4.0, kata Ade, jangan terpaku pada anggaran dan alat. Kesiapan SDM di dunia industri menjadi hal terpenting yang harus dikedepankan lebih dulu. “Karena kalau SDM balai dan indusri sudah match, tinggal memikirkan bagaimana alatnya. Kalau SDM yang telat, menggunakan alat secanggih apa pun juga bingung. Alat itu tidak akan digunakan secara maksimal. Mubazir,” pungkas Ade. (E-1)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More