Kamis 15 Agustus 2019, 20:21 WIB

BMKG Daftarkan Pembuatan 365 Peta Angin Dalam Sehari ke MURI

Mediaindonesia.com | Humaniora
BMKG Daftarkan Pembuatan 365 Peta Angin Dalam Sehari ke MURI

Istimewa
Prakirawan sedang mengikuti kegiatan yang digelar dalam rangka memperingati hari Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (HMKG).

 

BADAN Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyelenggarakan sebuah kegiatan unik, edukatif, dan kreatif yaitu pembuatan 365 peta cuaca streamline hanya dalam waktu 1 jam 45 menit. Kegiatan itu digelar dalam rangka memperingati hari Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (HMKG).

Kegiatan yang bertajuk Pembuatan Peta Cuaca/Streamline terbanyak di Indonesia itu didaftarkan untuk dicatat di Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI) sebagai suatu kegiatan yang memiliki jumlah peta cuaca dan jumlah partisipan terbanyak yang dilakukan dalam waktu bersamaan, serta belum pernah dilakukan di Indonesia.

Kegiatan tersebut dilaksanakan pada 14 Agustus 2019 pukul 08.00 WIB di ruang Auditorium BMKG dan dilakukan oleh (kurang lebih) 365 orang praktisi dan pemerhati cuaca secara serentak.

Baca juga: Anies Tugaskan Jakpro Cari Dana Formula E

Angka 365 memiliki filosofi jumlah hari data cuaca secara berturutan 365 hari dalam satu tahun (yaitu tahun 2018) sehingga kegiatan ini melibatkan 365 peserta yang terdiri dari pegawai BMKG yang masih aktif, dosen, dan taruna STMKG.

Kepala Pusat Meteorologi Publik, selaku ketua pelaksana HMKG ke-72, Fachri Radjab, mengutarakan pembuatan peta cuaca streamline atau peta garis angin adalah tahapan yang harus dilakukan oleh seorang prakirawan cuaca dalam rangkaian pembuatan prakiraan cuaca, utamanya dulu sebelum era digitalisasi.

"Bagi “meteorologist”, diketahuinya gambaran umum sirkulasi angin dalam wilayah regional menjadi syarat untuk dapat memprediksikan kemana arah pergerakan massa udara, daerah pembentukan awan, dan di mana berpotensi munculnya badai tropis. Pemahaman terhadap peta streamline menjadi konsep dasar pengetahuan para praktisi cuaca dalam membuat analisa dan prakiraan cuaca," ujar Fachri dalam keterangan pers yang diterima Media Indonesia, Kamis (15/8).

Fachri mengatakan sisi menarik dari kegiatan itu adalah sebenarnya para peserta sudah lama tidak membuat streamline dalam pekerjaan rutinnya, karena pengerjaan peta streamline hanya dikerjakan oleh mereka yang bekerja di bidang dan stasiun meteorologi saja. Terlebih sudah banyak yang tergantikan oleh mesin plotter dan kecanggihan teknologi digital komputer.

"Sehingga kegiatan ini dapat juga dijadikan sebagai ajang nostalgia dan pembuktian untuk para praktisi itu untuk mengenang kembali “keseruan” dalam menggambar streamline," lanjut Fachri.

Dalam menggambar streamline, kata Fachri, seorang prakirawan akan membuat kontur angin berdasarkan data-data cuaca yang terukur dan dilaporkan oleh Stasiun Meteorologi kepada jaringan pengamatan global di seluruh tempat di dunia pada hari itu.

Dari data yang terlaporkan pada jam tertentu itu (misal laporan data cuaca 07 pagi WIB atau jam 00 waktu universal dunia), dapat ditarik dan diurutkan pola garis angin mengikuti data arah dan kecepatan angin di setiap titik pengamatan, mengidentifikasi adanya pusaran angin yang dapat menjadi badai atau siklon tropis, serta menentukan lokasi terjadinya front dingin dan front panas. (*/A-5)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More