Jumat 16 Agustus 2019, 05:15 WIB

Asuransi Selamatkan Petani Bangka Selatan

mediaindonesia | Nusantara
Asuransi Selamatkan Petani Bangka Selatan

ANTARA FOTO/Dedhez Anggara
ASURANSI PETANI TERDAMPAK BENCANA

 

KEMARAU tidak membuat sejumlah petani di Kabupaten Bangka Selatan, Bangka Belitung, khawatir. "Mereka bisa tenang karena sawahnya sudah diasuransikan," ungkap Kepala Dinas Pertanian Bangka Belitung, Juadi, kemarin.

Dia mengungkapkan, sawah yang sudah diasuransikan di Bangka Selatan mencapai 480 hektare. Jumlah pemiliknya mencapai lebih dari 1.000 petani.

Seperti lahan pertanian di wilayah lain, ke-480 hektare itu juga terancam puso. Air yang sudah dua bulan tidak mengalir, membuat tanaman itu gagal panen, beberapa hari ke depan.

Untuk setiap hektare sawah, klaim asuransi memberikan dana pengganti sebesar Rp6 juta. Tahun ini, Pemprov Bangka Belitung menyediakan dana pembayaran premi untuk lahan seluas 3.500 hektare. "Kami persilakan petani mendaftar. Siapa duluan, dia yang dapat," tambah Juadi.

Di Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah, pemerintah segera membangun 500 sumur dangkal guna mengatasi kekeringan lahan persawahan di masa mendatang. "Tahun ini, sudah 8.000 hektare lahan rusak akibat tidak ada pasokan air. Tahun depan, pada musim kemarau, kami akan mengurangi jumlah lahan rusak dengan membangun sumur dangkal," janji Kepala Dinas Tanaman Pangan, Mulyadi Hiola.

Selain kemarau, kurangnya pasokan air ke lahan pertanian di Sigi juga dipengaruhi rusaknya saluran irigasi akibat bencana alam. Sejumlah perbaikan juga masih dilakukan, di antaranya irigasi Gumbasa yang juga berpengaruh pada sejumlah lahan pertanian.

Luasan lahan pertanian puso akibat kekeringan di sejumlah daerah juga terus bertambah. Kabupaten Sampang, Jawa Timur, melaporkan 899 hektare sawah puso dan rusak.

"Tahun ini sebaran sawah terdampak cukup merata di semua kecamatan. Namun, yang paling banyak di Kecamatan Jrengik," kata Plt Kepala Dinas Pertanian, Suyono.

Sementara itu, di Kabupaten Bengkulu Tengah, sekitar 300 hektare sawah di 10 desa di Kecamatan Kerkap juga tidak bisa diselamatkan. "Tanaman sudah puso karena kekeringan, sejak dua pekan lalu," ujar Ujang, 50, petani.

Dia menunjuk bendungan dan irigasi yang rusak menjadi penyebab kekeringan. "Kami berharap pemerintah segera membenahi sehingga puso tidak terjadi lagi," tandas Ujang. (RF/Opn/MG/MY/N-2)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More