Jumat 16 Agustus 2019, 04:05 WIB

Sektor Industri Dominasi Ekspor    

Nur Aivanni | Ekonomi
Sektor Industri Dominasi Ekspor    

MI/USMAN ISKANDAR
Suasana ekspor impor di terminal petikemas di pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta

 

Nilai ekspor Indonesia selama periode Juli 2019 tercatat US$15,45 miliar atau naik 31,02% dibanding Juni 2019. Sektor industri ­pengolahan masih menjadi penyumbang utama ekspor yakni sebesar 74,52% atau US$11,51 miliar. Namun, defisit yang terjadi di sektor migas memicu defisit neraca perdagangan secara keseluruhan.

“Struktur ekspor kita tidak banyak berubah, masih didominasi sektor industri pengolahan,” kata Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Suhariyanto dalam paparan di Jakarta, Kamis (15/8).

Sektor tambang menjadi kontributor terbesar kedua yakni 13,06% atau sebesar US$2,02 miliar terhadap total ekspor, yang disusul sektor migas dengan kontribusi 10,39% dan mencapai US$1,61 miliar pada periode yang sama.

Kontribusi selanjutnya datang dari sektor pertanian yang menyumbang 2,03% dari total ekspor dengan nilai US$0,31 miliar.

Industri pengolahan konsisten mendominasi kontribusi ekspor setiap bulannya. Dalam tiga bulan terakhir yakni Juni 2019 angkanya mencapai 76,57%, Mei 2019 sebesar 75,72% dan April sekitar 74,77%.

Di tengah konsistensi sektor industri tersebut, BPS juga mencatat nilai neraca perdagangan Indonesia pada Juli 2019 mengalami defisit US$63,5 juta.  

“Dengan gabungan nilai ekspor dan impor pada Juli 2018, nilai ekspor sebesar US$15,45 miliar dan nilai impor US$15,51 miliar, berarti pada Juli terjadi defisit sebesar US$0,06 miliar atau US$63,5 juta,” kata  Suhariyanto.

Dia mengatakan defisit pada Juli 2019 disebabkan defisit sektor migas sebesar US$142,4 juta. Impor hasil minyak dan minyak mentah dan gas mencapai US$1,74 miliar dan total ekspor US$1,60 miliar. 

Sementara itu, sektor nonmigas total nilai impornya mencapai US$13,76 miliar dan total ekspor US$13,85 miliar atau mengalami surplus US$78,9 juta.

Suhariyanto menambahkan secara total neraca perdagangan sepanjang Januari-Juli 2019 mengalami defisit US$1,9 miliar. Meski demikian, angka defisit itu mengecil jika dibandingkan defisit pada periode yang sama tahun lalu yang sebesar US$3,2 miliar. 

“Defisit kita ini mengecil. Meskipun masih defisit, ke depan masih ada tantangan yang perlu diambil kebijakan yang tepat,” pungkas pria yang akrab dipanggil Kecuk itu.

Normalisasi
Dalam menanggapi adanya defisit neraca perdagangan, ekonom dari Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Bhima Yudhistira Adhinegara mengatakan bahwa defisit US$63,5 juta terjadi salah satunya karena ada normalisasi kondisi pasca-Lebaran yang jatuh pada Juni 2019.

“Ada faktor musiman, karena normalisasi pasca-Lebaran, itu betul. Tapi di sisi lain, ketika bulan Juli, harusnya produsen sudah mulai produksi barangnya lagi. Tapi, kinerja dari impor bahan baku dan barang modal tersebut masih belum menunjukkan adanya kenaik-an,” tuturnya kepada Media Indonesia, Kamis (15/8).

Masih belum adanya kenaik-an kinerja dari impor bahan baku dan barang modal tersebut, menurut Bhima, itu menunjukkan bahwa sektor industri manufaktur pun masih belum menggeliat. 

Sementara itu, dorongan dari konsumsi rumah tangga juga sedikit mengalami tekanan. “Itu harus kita cermati,” ucapnya.

Adapun dari sisi ekspor, jelas Bhima juga ada kendala yang menyebabkan kinerjanya masih belum terlalu optimal. Adanya perang dagang, perlambatan permintaan, harga komoditas yang masih rendah dan juga adanya hambatan perdagangan telah membuat ekspor Indonesia tidak terlalu bekerja dengan baik. (Ant/E-3)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More