Kamis 15 Agustus 2019, 17:42 WIB

Ketika Pulau Burung dan Pulau Babi Berasimilasi

Galih Agus Saputra | Weekend
Ketika Pulau Burung dan Pulau Babi Berasimilasi

IMDB
Salah satu adegan dalam film Angry Birds 2.

Pertempuran antara Pulau Burung dan Pulau Babi masih berlanjut. Meski Red, pemimpin Pulau Burung sebelumnya telah berhasil memimpin serangan untuk merebut kembali telur yang dirampas kawanan babi, nyatanya Leonard, si Pemimpin Pulau Babi, masih tidak terima dan kerap mengganggu ketenangan koloni.

Leonard bahkan beberapa kali meluncurkan bom kepiting dan kue tar menggunakan ketapel ke tengah-tengah koloni. Ia selalu memancing amarah Red. Anehnya, ketika Red beberapa kali mencoba membalas serangan tersebut, keesokan harinya Leonard justru menyerukan gencatan senjata. Ia juga mengirimkan ratusan balon udara ke Pulau Burung yang mengangkut pesan perdamaian.

Tak tanggung-tanggung, Leonard bahkan bersedia menyambangi Pulau Burung kembali. Namun, kedatangannya kali ini tidaklah untuk merampok, melainkan hendak mengajak Red dan koloni untuk bekerja sama demi menghadapi Pemimpin Pulau Elang yaitu Zeta. Layaknya Leonard di sekuel sebelumnya, pada kesempatan ini Zeta juga berniat untuk mengokupasi koloni di luar pulaunya. Ia ingin merebut tanah dan sumber daya alam di dalamnya lantaran pulau yang didiaminya hampir dilanda krisis akibat musim dingin yang berkepanjangan.

Kisah di atas tadi ialah cuplikan dari film The Angry Birds Movie 2 (2019). Film komedi animasi komputer (computer-animated comedy) tersebut diadaptasi dari video gim buatan Rovio Entertainment dengan judul sama. Columbia Pictures, Rovio Animation dan Sony Pictures Animation selanjutnya meluncurkan kembali kisah tersebut sebagai lanjutan atau sekuel dari film pertamanya yaitu The Angry Birds Movie (2016).

Film yang dalam laman Rotten Tomatoes memiliki peringkat peringkat 5,59 dari skala 10 itu, pertama kali dirilis di Inggris dan Irlandia, pada 2 Agustus 2019. Ia juga rilis di Amerika Serikat pada 14 Agustus, dan telah mendapat skor 58 dari skala 100 di laman Metacritic. Berbeda dengan The Angry Bird Movie (2016), ketika sutradara Clay Kaytis lebih mengarahkan alur cerita pada aspek eksistensialis Red, pada kesempatan ini, sang sutradara Thurop Van Orman justru lebih dominan dengan kondisi sosial-politik di dalamnya.

Memang, setiap tokoh masih memiliki peran, ketertarikan, atau eksistensi masing-masing. Seperti Red yang menonjol dengan sifat kepemimpinannya, lalu Chuck yang lebih unggul pada kecepatannya, serta Elang Perkasa yang selalu dipuja-puja karena keagungannya. Walakin, Angry Birds 2 lebih menonjolkan upaya Red dan Leonard dalam memanajemen konflik di antara mereka berdua. Alih-alih berseteru satu sama lain, kali ini mereka justru lebih banyak diselimuti dengan dua relasi yang tejadi secara bersamaan yaitu 'pertemanan' dan 'persaingan'.

Frenemy
Frenemy merupakan akronim dari kata friend dan enemy, yang dalam bahasa Indonesia barangkali dapat dimengerti dengan istilah 'teman sekaligus saingan'. Kondisi demikian tampaknya memang sengaja ditampilkan Produser The Angry Birds Movie 2 (2019), John Cohen, dimana ia memandang bahwa frenemy merupakan kondisi yang cukup menggugah dan dapat membawa kesegaran dalam film barunya.

Dalam siaran pers The Angry Birds Movie 2 (2019) yang diterima Media Indonesia, Cohen lebih lanjut bahkan mengatakan, dengan ide tersebut, karakter inti dalam film dapat hadir melalui suasana yang sangat berbeda dari film sebelumnya. Ia juga mengatakan bahwa dewasa ini sangat banyak film komedi yang dapat digali dari angle pertentangan dua fraksi atau yang terlihat dalam film ini ialah burung dan babi.

"Itu akan menyebabkan masalah kepercayaan, bentrokan, atau gesekan ego, dan lebih banyak komedi berbasis karakter. Kami ingin mengejutkan penonton dengan energi baru dan komedi yang menjadi motor," tutur Cohen.

Hal itu pula, yang tampaknya menjadi landasan kuat Cohen dan tim untuk membawa karakter baru dalam The Angry Birds Movie 2 (2019) yaitu Zeta. Hal tersebut juga sejalan dengan misi mereka, yang mana sejak awal ingin mencari sekaligus memaksimalkan humor visual yang dapat diterjemahkan secara lintas zaman, wilayah, maupun latar belakang, yang boleh dibilang juga merepresentasikan sifat kemajemukan atau kepluralan.

Salah satu ilustrasi frenemy lintas zaman ialah relasi dua ilmuwan besar dalam sejarah peradaban modern, Nikola Tesla dan Thomas Alfa Edison, di akhir abad XIV. Keduanya ialah cendekiawan bidang kelistrikan, komunikasi, dan produksi massal. Sekalipun pada satu sisi mereka sering terlibat dalam sengketa, persaingan, hingga permusuhan. Di sisi lain, mereka juga saling menghormati sekaligus membawa perubahan yang cukup signifikan terhadap arah peradaban melalui berbagai penemuan.

Penulis sekaligus pembawa Acara salah satu stasiun televisi di Amerika Serikat, Craig Ferguson, pernah mengulas secara gamblang bagaimana frenemy yang terjadi pada Tesla dan Edsion. Ulasan itu juga sempat dimuat dalam sebuah artikel berjudul The Electrifying Rivalry of History's Greatest Frenemies yang terbit di Mentalfloss. Adapun cerita itu sendiri, bermula pada Mei 1896. Kala itu, Edison mengetahui bahwa salah satu penerbit jurnal industri di Amerika Serikat hendak merilis sebuah artikel yang akan mengecam kedudukan Tesla dan dirinya. Namun, melalui pengaruhnya yang luarbiasa, Edison kemudian berhasil menangguhkannya.

"Sejauh yang saya ketahui, dan saya tidak peduli dengan apa yang mereka katakan, terbitan itu telah menyebabkan temperamen gugup dan akan sangat mendukakan Tesla sekaligus mengganggu pekerjaannya. Tesla adalah eksperimen dari tipe tertinggi dan dapat menghasilkan penemuan dalam kurun waktu yang menurutnya bisa," tutur Edison, seperti dilansir Mentalfloss.

Beberapa tahun kemudian, Tesla juga membalas pujian itu dalam sebuah pidato di hadapan American Institute of Electrical Engineers. Edison yang kala itu menyelinap ke tengah-tengah penonton, kemudian terkejut karena Tesla mendorong undangan yang hadir untuk memberi tepuk tangan padanya. Meski demikian, dan di lain kesempatan, Tesla lagi-lagi tampak memberikan koreksi besar-besaran kepada Edison, atau lebih tepatnya yang terjadi sehari setelah kolegannya itu meninggal dunia, pada 18 Oktober 1931.

Sebagaimana diketahui, Edison adalah orang yang sepanjang hayatnya berpegang teguh pada semboyan 'jenius adalah satu persen inspirasi dan sembilan puluh sembilan persen keringat'. Sebaliknya, Tesla yang kala itu tak sepakat dengan pandangan tersebut, dalam sebuah editorial surat kabar nasional mengatakan, "Aku hampir menjadi saksi yang menyedihkan atas tindakan seperti itu. Tahukah bahwa sedikit teori dan perhitungan lah yang telah menyelamatkan sembilan puluh persen pekerjaannya."

Asimilasi
Kisah yang hampir serupa dengan hubungan antara Edison dan Tesla, sebenarnya juga terlihat dalam hubungan Red dengan tokoh baru lainnya dalam The Angry Birds Movie 2 (2019). Adik Chuck, Silver, yang lebih mengandalkan pertimbangan teoritis dalam setiap langkahnya, kerap kali membuat Red gusar karena segala sesuatu menjadi meningkat kadar kompleksitasnya. Namun demikian, Red pada akhirnya juga mengakui bahwa pemikiran Silver selalu akurat, sekaligus membawa keuntungan bagi koloni.

Dalam beberapa adegan, Red dan Silver bahkan tampak selalu bersama. Seperti yang terlihat menjelang akhir cerita, Red mengatakan pahlawan sebenarnya adalah Silver karena berkat cara berpikirnya lah mereka kemudian berhasil menghancurkan senjata pamungkas Zeta, yang hampir meluluhlantakan Pulau Burung dan Pulau Babi.

Sementara itu, sepanjang cerita, Red dan Leonard juga tampak lebih bersahabat. Kondisi demikian sangat kontras dengan kisah pada sekuel sebelumnya, bahkan dapat dikatakan bahwa pada kesempatan ini Red bersama Pulau Burung telah berasimilasi dengan Leonard bersama Pulau Babi. Asimilasi itu sendiri sangat mungkin terjadi lantaran didorong beberapa faktor.

Pertama, baik Pulau Burung dan Pulau Babi memiliki musuh bersama yang mengancam koloni yaitu Zeta. Dalam dunia nyata, barangkali senjata pamungkas Zeta itu bisa disebut bom atom yang jika ditembakkan ke suatu daerah dapat mengakibatkan genosida.

Kedua, baik Pulau Burung maupun Pulau Babi sama-sama mengedepankan asas egaliter dalam berbagi peran untuk menyelesaikan misi mengalahkan Zeta.

Terakhir, koloni burung dan babi yang mau tidak mau harus bergaul secara intensif dalam waktu lama sejurus dengan waktu untuk mengalahkan Zeta, akhirnya semakin toleran dan menghasilkan kebudayaan baru dalam koloni mereka. Hal itu terlihat dalam atribut maupun cerita lokal yang bekembang di antara mereka, dimana salah satunya terjadi dalam sebuah adegan dimana ada burung mengenakan topeng babi di wajahnya.

Lantas, setelah itu, bagaimana dengan nasib film The Angry Birds Movie 2 (2019) ke depannya? Apakah ia dapat menyabet penghargaan 'Film Terbaik' dari Jussi Awards yang gagal diraih melalui sekuel sebelumnya? Pembaca yang budiman dapat menilainya sendiri dengan cara menonton The Angry Birds Movie 2 (2019), yang dirilis mulai 16 Agustus 2019, di Indonesia. (M-2)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More