Kamis 15 Agustus 2019, 16:15 WIB

Kemenkes belum Siapkan Visi Pembangunan Kesehatan Presiden

mediaindonesia.com | Humaniora
Kemenkes belum Siapkan Visi Pembangunan Kesehatan Presiden

MI/ADAM DWI
Anggota Komisi IX DPR RI Nova Riyanti Yusuf

 

Anggota Komisi IX DPR RI Nova Riyanti Yusuf menilai Kementerian Kesehatan (Kemenkes) belum menyiapkan formula untuk mewujudkan visi pembangunan kesehatan Pemerintahan Presiden Joko Widodo untuk meningkatkan kualitas SDM Indonesia ke depan.    

''Yang saya sayangkan adalah visi misinya sudah benar, tapi pemerintah selama lima tahun terakhir tidak menyiapkan itu,'' kata Nova usai acara bedah buku 'Jiwa Sehat, Negara Kuat' di Universitas Katolik Atmajaya Jakarta, Selasa (13/8).    

Menurut Nova yang juga akrab disapa Noriyu itu, seharusnya Kementerian Kesehatan sudah bisa memberikan formulasi tentang bagaimana cara-cara tepat untuk mengatasi kekerdilan pada anak, menghapuskan kematian ibu dan bayi, dan hal lainnya seperti yang diungkapkan oleh Presiden Joko Widodo saat memaparkan visi misi pemerintah 2019-2024.    

Namun Nova berpendapat pemerintah sekarang ini belum memiliki rencana yang jitu untuk mewujudkan Indonesia bebas kekerdilan, bebas dari kematian ibu dan bayi saat melahirkan, serta bebas dari gizi buruk. Nova yang merupakan anggota DPR Pengganti Antar Waktu (PAW) dari Partai Demokrat yang menggantikan Vena Melinda itu mengatakan, sebenarnya Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2014 tentang Kesehatan Jiwa dalam pasal 65 (3) sudah mengamanatkan pemerintah untuk membentuk atau menunjuk Pusat Penelitian Pengembangan dan Teknologi. Pusat penelitian tersebut memiliki tujuan membuat formulasi untuk mempersiapkan sumber daya manusia Indonesia ke depan.    

''Platform lewat UU Kesehatan Jiwa sudah dibuat, pasal 65 ayat 3, menteri menunjuk Pusat Penelitian Pengembangan dan Teknologi. Tujuannya apa, di situ harusnya sudah dibuat formulasi SDM ke depan itu bagaimana kita mau membina mereka memberdayakan mereka,'' jelas Noriyu.

Nova yang pernah menjabat anggota DPR periode 2009-2014 tersebut mengambil contoh kasus hasil penelitian disertasinya yang menyebutkan sebanyak 210 remaja atau 13,28% dari sampel penelitiannya rentan untuk berpikir bunuh diri. Dia juga menyebut angka global tentang orang yang berpikir untuk bunuh diri rata-rata pada usia 20 tahun, yang merupakan generasi emas Indonesia saat ini dan nantinya akan menjadi pemimpin Indonesia di masa mendatang. Akan tetapi generasi emas  tersebut, berdasarkan penelitian S3 Nova, rentan untuk berpikir bunuh diri.   

''Kita menumpukan masa depan Indonesia pada mereka, generasi penerus, tapi kita tidak memelihara kesehatan jiwa mereka. Seharusnya dari pusat penelitian tadi sudah bisa dirumuskan,'' kata dia.    

Nova yang juga merupakan dokter spesialis kesehatan jiwa mengatakan para pemimpin Indonesia saat ini bertanggung jawab untuk mempersiapkan para pemuda menjadi SDM yang berkualitas agar bisa memajukan Indonesia di masa datang. ''Mereka yang jalankan roda pemerintahan, kita yang harus bertanggung jawab mempersiapkan mereka,'' kata Nova. (Ant/OL-10)

 

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More