Kamis 15 Agustus 2019, 16:45 WIB

KLHK Tambah Dua Profesor Riset

Dhika Kusuma Winata | Humaniora
KLHK Tambah Dua Profesor Riset

Dok. KLHK
Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan mengukuhkan dua profesor riset di lingkungan Badan Litbang dan Inovasi KLHK

 

KEMENTERIAN Lingkungan Hidup dan Kehutanan menambah proferor riset di lingkungan Badan Litbang dan Inovasi KLHK. Setelah tiga profesor dikukuhkan pada 22 Juli, kali ini KLHK kembali mengukuhkan dua profesor riset. Mereka ialah Ignasia Maria Sulastiningsih (ilmu kayu dan teknologi hasil hutan) dan Dida Syamsuwida (bidang teknologi perbenihan tanaman hutan).

Sekjen KLHK Bambang Hendroyono pada seremoni pengukuhan di Gedung Manggala Wanabakti, Jakarta, Kamis (15/8), mengatakan, para profesor riset yang dikukuhkan agar bisa menjadi tumpuan pengembangan SDM dalam kaitannya dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi.

"Kita tidak boleh tertinggal dengan negara maju dan berkembang lainnya di dalam pengembangan iptek. Peneliti harus memperkuat jejaring dengan negara maju untuk memecahkan permasalahan lingkungan hidup dan kehutanan yang terjadi," kata Bambang.

Pengukuhan dua profesor riset tersebut menambah jajaran guru besar riset di lingkungan KLHK. Kementerian itu kini memiliki 26 profesor riset dari total 471 peneliti.

Pada pengukuhannya, Ignasia Maria Sulastiningsih memaparkan Orasi berjudul Pengembangan Bambu Lamina sebagai Produk Alternatif untuk Mengatasi Kelangkaan Kayu.

Dirinya memperkenalkan jenis bambu lamina yang merupakan produk olahan hasil perekatan elemen bambu menggunakan perekat organik menjadi sebuah papan komposit yang kuat setara kayu. Olahan tersebut dapat digunakan sebagai bahan baku mebel, lantai, dinding penyekat dan bahan untuk desain interior lainnya.

"Bambu lamina merupakan produk unggulan masa depan sebagai bahan mebel dan komponen bangunan, termasuk produk hijau yang ramah lingkungan, terbuat dari sumber daya alam yang terbarukan (renewable resources) dan cepat tumbuh dengan daur yang relatif pendek (3-4 tahun)," ujarnya.

Sementara itu, Dida Syamsuwida memaparkan Orasi bertajuk Inovasi Teknologi Penanganan Benih Rekalsitran Tanaman Hutan dalam Mendukung Kelestarian Hutan. Pada upaya menjaga keberlangsungan bahan baku industri kayu nasional dan mensukseskan program rehabilitasi hutan, Dida menyebutkan perlunya dukungan pengembangan jenis kayu hutan tropis.

Baca juga: Dua Peneliti KLHK Dikukuhkan Jadi Profesor Riset

Menurutnya, fakta di lapangan menunjukan lebih dari 47% jenis kayu hutan tropis merupakan jenis yang menghasilkan benih bersifat rekalsitran atau memiliki kemampuan rendah dalam daya simpan benihnya yang hanya mampu bertahan 1-4 minggu.

Rendahnya daya simpan bibit itu dihadapkan dengan kebutuhan bibit tanaman sebanyak 1.752.500.000 batang tanaman untuk kegiatan penanaman rehabilitasi hutan dan lahan (RHL), reklamasi dan rehabilitasi DAS serta pembangunan hutan tanaman dari sektor kehutanan maupun non kehutanan.

Mengatasi hal tersebut, Dida menyebut diperlukan teknologi penanganan benih yang tepat terutama pada benih-benih tanaman yang bersifat rekalsitran.

"Penerapan teknologi penyimpanan benih rekalsitran dalam bentuk semai atau bibit menjadi peluang untuk dapat mengatasi problematika dalam pengadaan benih untuk penanaman," ujarnya.(OL-5)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More