Jumat 16 Agustus 2019, 04:00 WIB

Meniti Jalan Menuju Era Kecerdasan Buatan

Adiyanto | HUT RI
Meniti Jalan Menuju Era Kecerdasan Buatan

AFP/Tolga AKMEN
Menurut organisasi buruh internasional (ILO), industri 4.0 akan mengakibatkan sekitar 58% jenis pekerjaan hilang.

 

JERMAN menjadi salah satu negara pertama yang menyiapkan strategi menyongsong era industri 4.0, era yang mana segala hal terhubung dengan internet dan meminimalkan peran manusia, khususnya dalam industri. Hal ini terungkap dalam sebuah dokumen yang mereka buat pada 2013. Di situ, mereka menyiapkan strategi teknologi tingkat tinggi, yang mana industri dirancang secara computerise tanpa melibatkan manusia. 

Dalam forum ekonomi dunia di Davos 2015, Kanselir Jerman Angela Merkel mengungkapkan konsep tersebut.  "Industri 4.0 kami hadapi dengan cepat, dengan memadukan dunia online dan dunia produksi industri," ujarnya, kala itu.

Strategi ini kiranya tepat. Dalam laporan World Economic Forum (WEF) yang berjudul Future Jobs Report 2018 disebutkan, mulai 2022 beberapa pekerjaan tidak lagi dibutuhkan dan akan digantikan pekerjaan baru. Sementara itu, menurut organisasi  buruh internasional (ILO), industri 4.0 akan mengakibatkan sekitar 58% jenis pekerjaan hilang dan akan muncul 65% pekerjaan baru yang belum dikenal.

Lantas bagaimana kesiapan Indonesia menghadapi hal ini? Pemerintah, melalui Kementerian Perindustrian, pada 2018, telah membuat peta jalan menghadapi era ini. Fondasi utamanya ialah mempersiapkan manusia Indonesia agar dapat bersaing dengan bangsa lain, di era otomatisasi sistem produksi dengan memanfaatkan teknologi kecerdasan buatan dan big data. Menyiapkan SDM menjadi penting karena skill dan pekerjaan yang ada saat ini belum tentu dibutuhkan dan cocok dengan kebutuhan masa depan yang makin meminimalisasi campur tangan manusia," ujar Menteri Perindustrian Airlang Hartarto, saat peluncuran peta jalan (road map).

Menurutnya, ketersediaan SDM yang terampil sangat diperlukan untuk meningkatkan produktivitas dan daya saing sektor industri. Apalagi, Indonesia punya potensi tersebut seiring dengan adanya bonus demografi yang akan mencapai puncaknya di 2030.

Oleh karena itu, kata Airlangga, pihaknya terus berupaya menciptakan SDM kompeten, terutama yang siap menghadapi era industri 4.0, era ketika integrasi antara dunia internet atau online dan dunia usaha atau produksi di sebuah industri menjadi keniscayaan.

Untuk itu, kata dia, Indonesia perlu merombak kurikulum pendidikan dengan lebih menekankan pada bidang science, technology, engineering, arts, and mathematics (STEAM).

"Selain itu, fokus untuk meningkatkan kualitas unit pendidikan vokasi (kejuruan). Hingga saat ini, Kemenperin telah memiliki sembilan sekolah menengah kejuruan (SMK), 10 politeknik, dan dua akademi komunitas," terangnya.

Ekonom Universitas Indonesia Ari Kuncoro berpendapat, era revolusi industri 4.0 membutuhkan SDM yang bisa berpikir kreatif, kritis, dan empiris. Oleh karena itu, kata dia, dasar yang paling penting dalam pendidikan ialah mengasah kemampuan logika.

"Kurikulum dari SD sampai SMA harus diubah. Jangan lagi saat ujian pakai multiple choice (pilihan ganda) karena itu tidak membina kemampuan analisis. Matematika juga jangan diajarkan jadi hafalan, tapi logika. Bahasa juga harus bersifat analisis," tutur Ari.

 

Ubah kurikulum

Selain itu, Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis UI itu juga mengusulkan agar kurikulum pada pendidikan vokasi diubah, tidak lagi didominasi mata pelajaran umum, tapi lebih ke produksi atau kompetensi khusus. "Kalau ini dilakukan semua, vokasi kompetitif, pendidikan umum juga kompetitif, kita akan bisa bersaing karena pada dasarnya industri 4.0 adalah platform. Semua bisa masuk," tukasnya.

Pada Rancangan APBN 2020 pemerintah menempatkan pendidikan vokasi sebagai prioritas. Airlangga mengungkapkan, tahun ini Kemenperin siap menggelontorkan anggaran Rp1,78 triliun untuk program pendidikan vokasi industri.

"Ini juga sejalan dengan komitmen Presiden Joko Widodo bahwa ke depannya lebih fokus pada pengembangan SDM karena akan menjadi tumpuan pembangunan dan perekonomian Indonesia," paparnya.

World Economic Forum menyebut, Indonesia akan menjadi salah satu kekuatan ekonomi keempat terbesar dunia pada 030, setelah Tiongkok India, dan Amerika Serikat.

Berdasarkan riset McKinsey Global Institute, Indonesia memerlukan sedikitnya 113 juta tenaga kerja terampil untuk menjadi kekuatan ekonom dunia pada 2030. Indonesia juga berpeluang besar untuk berkembang dengan perkembangan fintech, pembayaran digital, dan e-commerce.

Indonesia, seperti dituturkan Ari, memiliki modal besar untuk sukses menerapkan industri 4.0. Menurut dia, setidaknya ada dua hal yang mendukung pengembangan industri di era digital, yaitu pasar yang besar dan jumlah sumber daya manusia yang produktif seiring dengan bonus demografi. (Nur/Pra/Ata/E-1)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More