Jumat 16 Agustus 2019, 03:30 WIB

Membangun Indonesia Bisa dari Luar Negeri

Sri Utami | HUT RI
Membangun Indonesia Bisa dari Luar Negeri

Dok. 123RF
Sumber daya Manusia (SDM) menjadi kunci sebuah bangsa untuk menjadi besar dan mandiri.

 

SUDAH saatnya Indonesia tidak lagi bertumpu pada kelimpahan sumber daya alam dalam membangun bangsanya. Sejarah membuktikan bahwa pembangunan suatu bangsa akan lebih bermakna jika didukung sumber daya manusianya yang andal.  

Sumber daya Manusia (SDM) menjadi kunci sebuah bangsa untuk menjadi  besar dan mandiri. Untuk mencapai tujuan mulia itu butuh banyak upaya, terlebih dalam menghadapi pesatnya perubahan di berbagai lini kehidupan saat ini.

Upaya keras inilah yang menjadi konsen pemerintah agar Indonesia menjadi bangsa yang maju dan berdaya saing global. Tugas tersebut memang bukan tugas pemerintah semata dalam hal ini Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti).

Untuk menghasilkan SDM yang berintegritas, kompeten, dan berwawasan dunia butuh peran semua pihak. Hal itu disadari pemerintah.

Menurut Dirjen Sumber Daya Iptek dan Dikti Kemenristekdikti Ali Ghufron Mukti, misi pemerintah dalam menciptakan SDM melalui revolusi mental dan bisa bersaing global tidak bisa diciptakan dalam waktu singkat. Dibutuhkan banyak kerja sama, salah satunya dengan menggandeng para pendidik dan ilmuwan Indonesia yang sudah berkiprah dan berprestasi di luar negeri (diaspora).

Kemeneristekdikti pun telah beberapa kali (sejak 2016) menggelar simposium cendikia kelas dunia yang bertujuan mendorong mewujudkan SDM unggul melalui talenta-talenta yang sudah dimiliki yang tengah berkiprah di luar negeri.

"Ini adalah suatu lompatan dalam menghadirkan negara kepada potensi talenta orang Indonesia yang berhasil di luar negeri. Secara teknis bekerja sama dengan berbagai potensi khususnya profesor kita yang ada di luar negeri dan seluruh dunia serta dari universitas terbaik dunia," ujarnya.

Dengan merangkul para diaspora, Ali meyakini SDM yang unggul tersebut akan menular ke institusi atau persona yang tengah berkiprah di dalam negeri. Pasalnya, para diaspora memiliki jejaring luas dan diperhitungkan di berbagai negara maju.

Salah satu hasil dari upaya menghadirkan diaspora dalam bidang keilmuan tersebut kini mulai dirasakan. Pada 2017 terjadi satu lompatan jumlah publikasi pertama dalam sejarah Indonesia yang melebihi Singapura. "Itu juga peran dari diaspora yang kami undang dan kami identifikasi untuk memberikan kemampuan meneliti, menulis dengan jaringan dan kemampuan diaspora kita," ujar Ali Ghufron.

 

Presiden Joko Widodo pun sempat menekankan pentingnya manajemen SDM salah satunya mengenai talenta yang dimiliki diaspora. Sehingga target pemerintah dalam pembangunan dimulai dengan membangun Indonesia dari dunia.

Maka sejak 2016 itulah Kemenristekdikti mulai menggarap masalah yang krusial ini, selain untuk mendapat kualitas, kuantitas SDM, juga tetang relevansi. Untuk mencapai lompatan itu dibuatlah grand design SDM sampai tahun 2024-2030, dengan mendorong mengembangkan talenta dunia. "Kita konsolidasi, kembangkan, dan membangun Indonesia dari dunia setelah kita membangun Indonesia dari pinggiran," ujarnya.

Kerja sama yang telah dilakukan sejak beberapa tahun lalu menghasilkan beberapa prioritas riset di antaranya sektor energi, pertanian dan pangan, kesehatan, transportasi, komunikasi teknologi, maritim serta sosial.

 

Kultur akademik

Upaya membangun SDM yang siap menghadapi tantangan global harus dibarengi dengan menciptakan iklim dan kultur akademik yang baik khususnya di institusi pendidikan tinggi. Selain merangul diaspora, Kemenristekdikti berkehendak menggunakan jasa dosen dan rektor asing untuk memimpin perguruan tinggi.

Harapannya, perguruan tinggi Indonesia akan bisa menembus jajaran top kampus dunia dan disegani. "Tujuan kita bagaimana meningkatkan kualitas. Tidak hanya meningkatkan ranking kualitas, tapi bagaimana iklim dan kultur akademik di universitas kita bisa lebih bagus dan menghasilkan SDM yang berkompetensi, mampu kompetisi dan berkolaborasi di tingkat dunia," terang Ali Ghufron.

Rencana mendatangkan rektor asing tersebut diakui menimbulkan banyak perdebatan. Namun, kebijakan tersebut sepatutnya dipahami merupakan upaya meningkatkan kualitas pendidikan dan riset di Tanah Air serta  meningkatkan kultur akademik seperti di negara-negara maju yang sudah terbentuk dengan baik.

Salah satu program untuk mendukung gagasan tersebut, Kemenristekdikti membuat program 'bedol desa' dengan mendatangkan 30 doktor (S-3) diaspora yang ditujukan khusus membangun iklim dan kultur akademik.

Di sisi lain diakui Ali Ghifron bahwa ada perbedaan yang menonjol antara dosen dalam negeri dengan dosen negara maju, yakni terletak pada tugas pokok yang tertuang di Tri Dharma Perguruan Tinggi, yang tidak seutuhnya dilaksanakan.

"Dosen kita banyak yang dikerjakan, sibuk luar biasa. Kecuali satu, tugas fungsi pokoknya untuk mengembangkan ilmu pengetahuan dengan meneliti kemudian menulis dan berdampak kepada kesejahteraan masyarakat itu yang belum dikerjakan," cetusnya.

Diharapkan, dengan program yang melibatkan diaspora dan juga dosen atau rektor asing, tercipta kultur akademik yang baik dan kompetetif. Kultur akademik akhirnya akan menghasilkan inovasi baru, kerja sama industri lalu berdampak pada masyarakat.

Peran pemerintah sebagai katalis mempercepat sinergi, mengakses dana riset luar negeri dan mobilitas diaspora untuk bersinergi dengan riset dalam negeri yang disebar ke berbagai institusi pemerintah dan perguruan tinggi.(H-1)

 

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More