Kamis 15 Agustus 2019, 08:10 WIB

Keterbatasan Tidak Menyurutkan Semangat Mereka Mendidik Anak Bang

Indriyani Astuti | Humaniora
Keterbatasan Tidak Menyurutkan Semangat Mereka Mendidik Anak Bang

MI/Surya Sriyanti
Dengan keterbatasan yang ada, guru di pedalaman Kalimantan Tengah ini tetap bersemangat mengajar anak didik.

 

DEDIKASI mereka patut diacungi jempol. Kondisi terbatas dan lokasi mengajar yang kurang kondusif, tidak menyurutkan semangat mereka untuk mengajar anak bangsa. Mereka tetap berkarya mendidik anak bangsa agar memiliki masa depan yang lebih baik.Pengalaman mereka diharapkan bisa menginspirasi guru lainnya.

Pasalnya, peran guru tidak lekang olah waktu. Mereka tetap sebagai garda terdepan untuk mendidik generasi penerus bangsa.Direktur Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) Supriano menyampaikan tantangan bagi guru semakin berat seiring berkembangnya informasi dan teknologi.

Mereka dituntut untuk bisa mengembangkan inovasi atau berdedikasi dalam mencerdaskan sumber daya manusia diIndonesia. Guna memberikan apresiasi dan memotivasi para guru, Supriano mengatakan Kemendikbud kembali menggelar Pemilihan Guru dan Tenaga Kependidikan Berprestasi dan Berdedikasi Tingkat Nasional 2019.

"Kita harapkan ada perubahan dalam proses pembelajaran, awalnya dari individu mengarahke peserta didik. Kita juga berharap lahir inovasi-inovasi dari para guru dalam mengajar,"ujarnya.

Dalam perhelatan itu, mereka berbagi cerita. Seperti yang diutarakan Gede Sunjaya Artana, salah satu guru berdedikasi SMP 2019. Guru SMP Negeri Satu Atap Kutumbahan, Buleleng, Provinsi Bali, ini sudah mengabdikan diri mengajar mata pelajaran teknologi informasi dankomunikasi (TIK) sejak 2006.

Ia pun bersedia mengajar tanpa digaji saat itu. Dia kemudian dapat gaji tetap dua tahun kemudian.Meskipun mengajar mata pelajaran TIK, sekolahnya tidak mempunyai komputer sebagai bagian sarana pengajaran. Sunjaya menyiasatinya dengan meminta para murid belajar internet menggunakan telepon genggam walaupun untuk sinyal internet di daerahnya bisa dibilang masih terbatas."Kami tidak punya komputer jadi belajar dengan menggunakan handphone.

Komputer hanyasatu-dua untuk pegawai. Jadi, kami belum ujian nasional berbasis komputer," tuturnya.Sunjaya mengatakan bahwa kini ia mengampu tiga mata pelajaran selain TIK, yakni PPKN dan prakarya karena sekolah tempatnya mengajar kekurangan guru.

Pria yang sudah 12 tahun mengabdikan diri, tapi masih berstatus honorer itu menuturkan mengajar karena panggilan hati. Pada awal mengajar, listrik belum masuk ke daerahnya. Sekolah mengandalkan generator yang sering rusak setiap tiga minggu sekali, tetapi itu tidak menyurutkan niatnya."Saya mengajar sebelum ada gedung.

Jadi, sekolah kami menumpang pada bangunan SD. Ketika pemerintah membuat kebijakan sekolah satu atap SD dan SMP digabungkan. SMP kami memang sulit dijangkau daerahnya jauh dan jalannya jelek. Kalau kemarau berdebudan musim hujan licin luar biasa.

Tapi semangat belajar anak-anak luar biasa. Disiplin juga," kenang Sunjaya.Walaupun berstatus non-PNS, Sunjaya terus meningkatkan kompetensinya. Ia pun sudah mendapatkan sertifikasi sebagai guru. Ia mengajar juga di SMA karena salah satu syarat lolos sertifikasi profesi, antara lain para guru harus memenuhi tatap muka 24 jam per minggu.

 

Tantangan

Tantangan yang dihadapi guru dalam mengajar berbeda-beda. Salah satu guru berprestasi tingkat SD Rini Handayani, dari SD Negeri 014687, Kota Asahan, Sumatra Utara, menuturkan meskipun lokasi tempatnya mengajar tidak terlalu jauh dari kota dan dapat ditempuh dalam waktu setengah jam, akses ke sana sepi.

Rini bercerita para guru dan murid di sana khawatir setiap pulang atau pergi karena rawan rampok dan begal. "Terutama di jam sepi seperti pukul 09.00 orang sudah tidak lalu-lalang karena sekolah kami di dekat jalanan perkebunan karet, "tuturnya.

Ia mengajar di sekolah tersebut sejak 2014 pascaditetapkan menjadi PNS. Sebelumnya, Rini tenaga pendidik honorer. Ia menjadi satu-satu guru SD di kabupaten yang tembus ke tingkat nasional dan masuk sebagai salah satu kategori guruberprestasi. Tidak hanya itu, ia juga menjadi instruktur nasional dalam bidang guru pendidikan dasar.

Itu merupakan bagian keprofesian berkelanjutan.Tugasnya membimbing dan memfasilitasi guru-guru yang ingin nilai ujian kompetensinya lebih baik. Sementara itu, Warmansyah, salah satu guru beprestasi dari SMP 13 Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur, menceritakan bahwa ia berhasil mengikuti pemilihan guru berprestasi tingkat nasional karena mengirimkan karya tentang pendidikan karakter yang diintegrasikan dalam proses belajar-mengajar di kelas.

Ia menuturkan bahwa seorang guru harus mau terus belajar dan memutakhirkan ilmunya. Perempuan yang mengampu mata pelajaran IPS itu, menyampaikan motivasi dan kemauan belajar bagi guru sangat penting."Materi-materi yang disampaikan ke anak kita harus siap supaya ketika ada pertanyaan kita harus bisa jawab," tuturnya. (Ind/X25-10)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More