Rabu 14 Agustus 2019, 21:53 WIB

Tiongkok Kutuk Aksi Protes Berkepanjangan di Hong Kong

Tesa Oktiana Surbakti | Internasional
Tiongkok Kutuk Aksi Protes Berkepanjangan di Hong Kong

AFP/MANAN VATSYAYANA
Situasi di Bandara Internasional Hong Kong yang diblokade para demonstran

 

TIONGKOK mengutuk aksi protes berkepanjangan di Hong Kong yang puncaknya memblokade bandara internasional di negara tersebut.

Ratusan jadwal penerbangan pada Selasa (13/8), terpaksa dibatalkan menyusul aksi demonstran yang memblokade dua terminal. Gerakan yang meningkatkan krisis politik dalam beberapa pekan terakhir.

Namun pada Rabu (14/8) ini, hanya sekitar 30 pengunjuk rasa yang masih bertahan di bandara. Alhasil, jadwal penerbangan bisa kembali normal. Situs resmi bandara menunjukkan puluhan penerbangan lepas landang kemarin malam. Ratusan penerbangan lainnya dijadwalkan berangkat sepanjang hari, meski banyak yang mengalami penundaan.

Baca juga: Buntut Kematian Pengusaha Epstein, Sipir Penjara Dipindahkan

Gerakan protes terbaru mengemuka di tengah perang kata-kata antara otoritas Beijing dan pengunjuk rasa. Dalam sebuah pernyataan resmi, kantor pemerintah Tiongkok urusan Hong Kong dan Makau menyebut aksi protes di bandara sudah seperti tindakan teroris. Pihaknya juga mengecam keras serangan terhadap seorang reporter Global Times, saat melakukan liputan di bandara. Tindakan pengunjuk rasa dinilai sangat kejam.

Harian resmi Partai Komunis, People's Daily, menyebut kondisi Hong Kong sudah mencapai titik kritis. "Otoritas Hong Kong harus menggunakan pedang hukum untuk menghentikan kekerasan, dan memulihkan ketertiban. Itu yang paling penting dan mendesak," bunyi laporan harian tersebut. Pandangan lain dari peneliti Universitas Shenzhen, yang diterbitkan China Daily, mengatakan pemerintah pusat harus mengatasi persoalan Hong Kong dengan lebih tegas.

Otoritas Bandara Hong Kong mendapat perintah untuk menindak para pengunjuk rasa yang menganggu operasional. Artinya, ketika demonstran kembali beraksi, mereka berisiko ditangkap, atau dibubarkan paksa oleh petugas kepolisian.

Tindakan serupa pernah dilakukan kepada pengunjuk rasa dalam protes Gerakan Payung 2014, yang berlangsung beberapa pekan. Instruksi itu membuka jalan bagi kepolisian untuk menyingkirkan demonstran yang berkumpul dalam aksi duduk.

Sementara, akibat krisis politik tersebut, pergerakan indeks saham Hang Seng pada perdagangan Selasa (13/8), jatuh ke level terendah dalam 7 bulan terakhir. Kepala Eksekutif Hong Kong, Carrie Lam, menegaskan wilayah semiotonom dihantui kepanikan dan kekacauan.

Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, mengatakan situasi Hong Kong tergolong rumit. Namun, pihaknya berharap krisis dapat diselesaikan, khususnya untuk tujuan demokrasi. Tanpa menimbulkan korban luka maupun korban tewas. Mengutip sumber intelijen, Trump menyebut pemerintah Tiongkok menurunkan pasukan ke wilayah perbatasan dengan Hong Kong. (OL-8)

 

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More