Rabu 14 Agustus 2019, 22:00 WIB

Memulai Perang dengan Aturan

Ruta Suryana | Nusantara
Memulai Perang dengan Aturan

ANTARA FOTO/Fikri Yusuf
Sejumlah warga memungut sampah plastik yang berserakan di kawasan Pantai Kedonganan, Badung, Bali

 

SEJUMLAH daerah mulai menyatakan perang terhadap sampah plastik. Namun, di beberapa daerah, meski pemerintah daerah belum bergerak, masyarakat sudah memulai gerakannya. 

Tahun ini, Bali menjadi daerah yang paling keras menyatakan tidak berkompromi dengan sampah plastik. Maklum saja, di daerah yang mengandalkan sektor wisata ini, pantai-pantainya sering dibanjiri sampah plastik. 

Perang dimulai Gubernur Bali I Wayan Koster. Ia menerbitkan Peraturan Gubernur tentang Pembatasan Timbulan Sampah Plastik Sekali Pakai. Pergub No 97 Tahun 2018 itu diterbitkan. 

Sejumlah pasal di dalamnya melarang peredaran kantong plastik, polysterina alias styrofoam dan sedotan plastik. Aturan itu sempat digugat sejumlah pengusaha ke pengadilan. 

Namun, Koster menang. Aturan tetap dijalankan. Tidak ada kompromi, setiap produsen, distributor, pemasok, dan pelaku usaha dilarang memproduksi, mendistribusikan, memasok, dan menyediakannya. Mereka hanya diberi waktu 6 bulan sejak pergub diundangkan. Aturan juga berlaku di tubuh pemerintah provinsi dan jajarannya. 

Melengkapi aturan sang gubernur, Wali Kota Denpasar IB Rai Dharmawijaya Mantra juga menerbitkan Peraturan Wali Kota No 36 Tahun 2018. Aturan itu menyoal pengurangan penggunaan kantor plastik. Sasarannya pusat perbelanjaan, pasar tradisional, dan toko kelontong. Mereka diwajibkan menyediakan kantong belanja berbahan nonplastik, ramah lingkungan. 

“Apa yang dilakukan gubernur dan wali kota dalam mengatasi sampah plastik sudah cukup berhasil. Mereka bisa jadi contoh bagi daerah lain di Indonesia,” ujar Staf Khusus Presiden, Diaz Hendropriyono, di Denpasar, kemarin. 

Pramuka
Perangi sampah plastik juga diteriakkan anggota Pramuka di Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur. Ratusan remaja berkomitmen menolak segala bahan dan produk dari plastik sekali pakai untuk digunakan dalam setiap kegiatan. Komitmen itu mereka ungkapkan di depan Bupati Antonius Gege Hadjon, kemarin. “Mulai hari ini, kita perangi sampah plastik,” tegas Bupati.  

Kondisi berbeda terjadi di Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur. Saat pemerintah tidak bergerak, sejumlah komunitas peduli lingkungan langsung turun ke jalan. Trash Hero, salah satunya. 

Komunitas ini bergerak dan menggerakkan warga dan pemuda peduli sampah untuk bergerak. Mereka memunguti sampah, memilah dan membuangnya ke tempat pembuangan akhir. Trash Hero juga mengedukasi warga dan mengunjungi sekolah untuk peduli sampah. 

“Kami prihatin dengan sampah plastik yang terus menumpuk di tempat-tempat umum,” ujar pemimpin Trash Hero, Maria Theresia Wilibrodada. 

Tanpa upaya berarti, sejumlah kawasan wisata pantai di Bangka Belitung dipenuhi berbagai sampah platik. Salah satunya Pantai Temberen di Desa Air Anyir, Kecamatan Merawang, Kabupaten Bangka. 

“Sangat disayangkan, pantai indah ini dirusak pemandangan sampah botol plastik, kantong ke-resek, dan styrofoam. Pengunjung pantai tidak punya kesadaran untuk berbuat baik,” keluh Rahmat, warga. (OL/FB/PT/RF/N-2)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More